Sukses

Pengertian Vaksin Priorix

Vaksin Priorx merupakan produk obat dengan Sediaan Injeksi yang diproduksi oleh Glaxo Smithkline Biologicals/ Smith Kline Beecham. Vaksin Priorx mengandung zat aktif Vaksin MMR (virus campak, vaksin gondok dan vaksin rubella) dan Vaksin varicela diindikasikan sebagai perlindungan tubuh terhadap penyakit dan membentuk antibodi terhadap penyakit campak, gondok dan rubella. Imunasai MMR dan Vaksin varicela umumnya diberikan kepada anak-anak yang berumur 12 sampai 18 bulan, dengan dosis penguat diberikan sebelum memasuki umur sekolah (sekitar umur 5 atau 6 tahun).

Keterangan Vaksin Priorix

  • Golongan: Obat Keras.
  • Kelas Terapi: Vaksin, Antisera dan Imunologi.
  • Kandungan: Vaksin MMR (virus campak, vaksin gondok dan vaksin rubella) dan Vaksin varicela.
  • Bentuk: Cairan Injeksi.
  • Satuan Penjualan: Dus.
  • Kemasan: Dus, 1 Vial + 1 Prefilled Syringe @ 0.5 mL Pelarut (1 Dosis).
  • Farmasi: Glaxo Smithkline Biologicals/ Smith Kline Beecham.

Kegunaan Vaksin Priorix

Vaksin Priorix digunakan untuk melindungi tubuh dari pemyakit yang menyebakan demam campak, gondok, dan rubella.

Dosis & Cara Penggunaan Vaksin Priorix

Dosis dan Cara Penggunaan Vaksin Priorix harus dilakukan dengan Tenaga Medis Profesional dan Resep Dokter:

Dewasa: Intramuskular/ Subkutan Imunisasi primer: 1 atau 2 dosis 0.5 mL diberikan setidaknya 28 hari terpisah atau berdasarkan rekomendasi nasional. Untuk profilaksis pasca pajanan terhadap campak: Berikan dalam waktu 72 jam setelah kontak. Untuk wabah: Rujuk ke pedoman produk terperinci atau protokol nasional.

Dosis penggunaan Vaksin Priorix juga harus dikonsultasikan dengan Dokter terlebih dahulu sebelum digunakan, karena dosis penggunaan nya berbeda-beda setiap individu tergantung berat tidaknya penyakit yang diderita.

Efek Samping Vaksin Priorix

Efek Samping:
Efek samping yang mungkin terjadi selama pengunaan Vaksin Priorix, yaitu:
1. Sakit kepala
2. Reaksi di tempat injeksi (nyeri, kemerahan, bengkak)
3. Kelelahan
4. Gangguan pencernaan (Gastrointestinal): mual, diare, muntah.
5. Demam
6. Malaise (lemas).
7. Pusing
8. Anoreksia (gangguan nafsu makan).

Kontraindikasi:
Hindari penggunaan Vaksin Priorix pada pasien yang memiliki indikasi:
1. Hipersensitif.
2. Pasien dengan penyakit pernapasan atau infeksi demam saat ini, diskrasia darah, leukemia, limfoma, riwayat imunodefisiensi bawaan atau herediter, tuberkulosis aktif yang tidak diobati.
3. Pasien dengan immunocompromised parah.
4. Wanita hamil.

Interaksi Obat:
1. Penurunan respons imun dengan globulin imun dan terapi imunosupresif (kortikosteroid dosis tinggi).
2. Mengurangi efek terapeutik dengan vaksin hidup lainnya.

Kategori Kehamilan:
Keamanan kehamilan menurut FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) mengkategorikan Vaksin Priorix ke dalam Kategori C dengan penjelasan sebagai berikut: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping pada janin (teratogenik atau embriosidal atau efek samping lainnya) dan belum ada studi terkontrol pada wanita, atau studi terhadap wanita dan binatang percobaan tidak dapat dilakukan. Obat hanya dapat diberikan jika manfaat yang diperoleh melebihi besarnya resiko yang mungkin timbul pada janin. Penelitian pada hewan tidak selalu bisa dijadikan dasar keamanan pemakaian obat terhadap wanita hamil. Belum adanya penelitian klinis yang memadai dan terkendali dengan baik pada ibu hamil membuat pemakaian obat-obat seperti Vaksin Priorix selama kehamilan tetap harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan Dokter.

Artikel
    Penyakit Terkait