Sukses

Pengertian Vaksin Boostrix

Vaksin Boostrix atau Vaksinasi ulang merupakan salah satu Sediaan Injeksi yang mengandung Vaksin kombinasi difteri, tetanus, aselular pertusis, obat ini diproduksi oleh GlaxoSmithKline Indonesia. Vaksin Boostrix diindikasikan sebagai vaksinasi tambahan terhadap difteri, tetanus dan pertusis individu dari usia 4 tahun ke atas. Vaksin Boostrix atau Vaksinasi berulang terhadap difteri, tetanus dan pertusis harus dilakukan pada interval (jarak) atau sesuai rekomendasi resmi (umumnya 10 tahun).

Penggunaan vaksin Boostrix melalui injeksi intramuskular disuntikan didaerah deltoid (otot pada bahu manusia), maka dari itu penggunaan obat ini Harus Dilakukan Oleh Tenaga Medis Profesional dan Resep Dokter.

Keterangan Vaksin Boostrix

  • Golongan : Obat Keras.
  • Kelas Terapi : Vaksin, Antisera dan Imunologi.
  • Kandungan :
  • 1. Diphtheria toxoid not <2 IU
  • 2. Tetanus toxoid not <20 IU
  • 3. Bordetella pertussis antigens (pertussis toxoid 8 mcg
  • 4. Filamentous haemagglutinin 8 mcg
  • 5. Pertactin 2.5 mcg.
  • Bentuk : Cairan Injeksi.
  • Satuan Penjualan : Syringe.
  • Kemasan : 1 Prefilled Syringe.
  • Farmasi : GlaxoSmithKline Indonesia.

Kegunaan Vaksin Boostrix

Vaksin Boostrix digunakan sebagai vaksinasi tambahan untuk mencegah difteri, tetanus dan pertusis individu dari usia 4 tahun ke depan.

Dosis & Cara Penggunaan Vaksin Boostrix

Dosis dan Cara Penggunaan Vaksin Boostrix, harus dilakukan dengan Tenaga Medis Profesional dan Resep Dokter:

Dosis 0.5 mL tunggal dengan injeksi IM (intramuskular) di daerah deltoid (otot bagian bahu).

Efek Samping Vaksin Boostrix

Efek Samping:
Efek samping yang mungkin terjadi selama penggunaan Vaksin Boostrix, yaitu:
1. Sakit kepala
2. Reaksi di tempat injeksi (nyeri, kemerahan, bengkak)
3. Kelelahan
4. Gangguan pencernaan (Gastrointestinal): mual, diare, muntah.
5. Demam
6. Malaise (lemas).
7. Pusing
8. Anoreksia (gangguan nafsu makan).

Kontraindikasi:
Hindari penggunaan Vaksin Boostrix pada pasien yang memiliki indikasi:
1. Hipersensitif atau alergi.
2. Ensefalopati (kelainan fungsi otak) dengan etiologi tidak diketahui yang terjadi dalam 7 hari setelah vaksinasi sebelumnya dengan vaksin yang mengandung pertusis.
3. Trombositopenia transien ( trombosit dalam tubuh menurun ) atau komplikasi neurologis setelah imunisasi sebelumnya terhadap difteri atau tetanus.

Interaksi Obat:
Berikut adalah beberapa Interaksi obat yang umumnya terjadi saat penggunaan Vaksin Boostrix:
Respons yang mungkin tidak tercapai bersama imunosupresan dan defisiensi imun.

Kategori Kehamilan:
Menurut FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) mengkategorikan Vaksin Boostrix ke dalam Kategori C dengan penjelasan sebagai berikut:

Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping pada janin (teratogenik atau embriosidal atau efek samping lainnya) dan belum ada studi terkontrol pada wanita, atau studi terhadap wanita dan binatang percobaan tidak dapat dilakukan. Obat hanya dapat diberikan jika manfaat yang diperoleh melebihi besarnya resiko yang mungkin timbul pada janin.

Penelitian pada hewan tidak selalu bisa dijadikan dasar keamanan pemakaian obat terhadap wanita hamil. Belum adanya penelitian klinis yang memadai dan terkendali dengan baik pada ibu hamil membuat pemakaian obat-obat seperti Vaksin Boostrix selama kehamilan tetap harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan Dokter.

Artikel
    Penyakit Terkait