Sukses

Pengertian Stabixin

Stabixin merupakan obat yang di produksi Pratapa Nirmala yang memiliki kandungan Cefoperazone Na, yang di gunakan untuk Infeksi saluran pernapasan, infeksi dalam perut dan septikemia bakteri (suatu kondisi di mana seseorang mengalami keracunan darah akibat bakteri dalam jumlah besar masuk ke dalam aliran darah. Risiko dari kondisi ini bisa mengancam jiwa penderitanya) infeksi kulit dan jaringan lunak, penyakit radang panggul dan infeksi lain pada saluran genital. Mekanisme kerja Stabixin (Cefoperazone Na) dengan cara membunuh bakteri dan menekan laju perkembangannya di dalam tubuh.

Keterangan Stabixin

  • Golongan : Obat Keras
  • Kelas Terapi :Antibiotik
  • Kandungan : Cefoporazone 1 gram
  • Bentuk :Serbuk Injeksi
  • Satuan Penjualan : Vial
  • Kemasan : Vial @ 1 gram
  • Farmasi : Pratapa Nirmala

Kegunaan Stabixin

Stabixin di gunakan untuk pengobatan Infeksi bakteri.

Dosis & Cara Penggunaan Stabixin

Obat Keras (Harus Dengan Resep Dokter)

Dewasa 2-4 gram setiap hari dalam 2 dosis terbagi / 2 kali pemakaian.
Infeksi berat: 8 g ram setiap hari dalam 2 dosis terbagi hingga 12 gram setiap hari dalam 3 dosis terbagi.
Maksimal: 16 gram / hari.

Efek Samping Stabixin

Efek samping yang mungkin terjadi selama pengunaan Stabixin, antara lain reaksi hipersensitif misalnya, urtikaria atau biduram, demam obat, neutropenia/kondisi di mana jumlah neutrofil yang merupakan bagian dari sel darah putih dalam darah menurun,diare, mual, muntah, kekurangan vitamin K (jarang terjadi).

Kontraindikasi
Tidak boleh di gunakan pada pasien yang di ketahui memiliki riwayat alergi hipersensitif terhadap sefalosporin.

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengategorikan Stabixin ke dalam Kategori B:
Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).

Artikel
    Penyakit Terkait