Sukses

Pengertian Silax

Silax merupakan sediaan obat dalam bentu cairan injeksi yang diproduksi oleh Ethica Indonesia. Silax adalah obat yang digunakan sebagai terapi tambahan unruk penderita edema (kondisi pembengkakan jaringan akibat penumpukan cairan), seperti edema paru akut, dan edema yang berhubungan dengan gagal jantung. Silax mengandung zat aktif Furosemide. Furosemide bekerja dengan cara menurunkan kadar kalsium yang tinggi dalam darah (hiperkalsemia). Sehingga menyebabkan lebih sering buang air kecil untuk membantu membuang air dan garam yang berlebihan dari tubuh.

Keterangan Silax

  • Golongan : Obat Keras
  • Kelas Terapi : Diuretik
  • Kandungan : Furosemide
  • Bentuk : Cairan Injeksi 10 mg/ml
  • Satuan Penjualan : Ampul
  • Kemasan: Dus , 10 Ampul @ 2 ml
  • Farmasi: Ethica Indonesia

Kegunaan Silax

Silax adalah obat yang digunakan sebagai terapi tambahan unruk penderita edema (kondisi pembengkakan jaringan akibat penumpukan cairan), seperti edema paru akut, dan edema yang berhubungan dengan gagal jantung.

Dosis & Cara Penggunaan Silax

Silax merupakan Golongan Obat Keras, sehingga penggunaanya harus sesuai dengan Resep Dokter.

Intravena

  • Edema paru akut
    Dewasa: 40 mg melalui injeksi lambat selama 1-2 menit. Jika tidak ada respons yang memadai dalam 1 jam, 80 mg lebih lanjut dapat diberikan melalui injeksi intravena lambat selama 1-2 menit.
  • Edema yang berhubungan dengan gagal jantung
    Dewasa: 20-50 mg via intramusculuar atau injeksi intravena lambat, dapat meningkat dengan penambahan 20 mg 2 jam. Dosis> 50 mg harus diberikan melalui infus intravena lambat. Maksimal : 1.500 mg setiap hari.
    Anak: 0.5-1,5 mg / kg setiap hari. Maksimal : 20 mg setiap hari.

Efek Samping Silax

Efek samping yang mungkin terjadi selama pengunaan Silax, antara lain:

  • Kadar natrium (sodium) dalam darah lebih rendah dari batas normal (Hiponatremia).
  • Kondisi tubuh kehilangan cairan akibat muntah-muntah (alkalosis hipokloremik).
  • Kondisi kadar kalium dalam aliran darah berada di bawah batas normal (hipokalaemia).
  • Sakit kepala, kantuk, kram otot, hipotensi, mulut kering, haus, lemah, lesu, gelisah.
  • Gangguan saluran cerna.
  • Dehidrasi, hiperurikaemia.
  • Gangguan pendengaran reversibel atau ireversibel, tuli, tinitus.
  • Reaksi anafilaksis atau anafilaktoid parah (misalnya dengan syok).
  • Sindrom Stevens-Johnson.
  • Gangguan kulit (nekrolisis epidermal toksik).
  • Peningkatan kadar enzim hati.
  • Kolesterol dan trigliserida serum.

Kontraindikasi :

  • Tidak boleh digunakan oleh pasien yang telah diketahui memiliki alergi terhadap furosemid dan sulfonamid, pasien dengan riwayat anuria atau gagal ginjal, penyakit Addison, hipovolemia atau dehidrasi, keadaan pra koma yang terkait dengan atau sirosis hati.

Interaksi Obat :

  • Dapat meningkatkan nefrotoksisitas sefalosporin (misal. Cefalotin), obat non-steroid anti-inflamasi (NSAID).
  • Dapat meningkatkan ototoxicity aminoglycoside, asam ethacrynic, obat ototoxic lainnya.
  • Mengurangi kadar serum dengan aliskiren.
  • Dapat meningkatkan efek hipotensi penghambat ACE atau antagonis reseptor angiotensin II.
  • Peningkatan risiko hiperkalemia dengan diuretik hemat K.
  • Peningkatan risiko kardiotoksisitas bersama glikosida jantung, antihistamin.
  • Dapat mengurangi level serum lithium.
  • Dapat memusuhi efek hipoglikemik antidiabetik.
  • Efek hipotensi meningkat dengan monoamine oxidase inhibitors (MAOI).
  • Peningkatan hiponatremia dengan carbamazepine.
  • Mengurangi efek natriuretik dan hipotensi dengan indometasin.
  • Efek diuretik berkurang dengan salisilat.

Kategori Kehamilan :
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Silax ke dalam Kategori C:
Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.

Artikel
    Penyakit Terkait