Sukses

Pengertian Scantensin

Scantensin adalah salah satu sediaan tablet yang mengandung Captopril dan diproduksi oleh Tempo Scan Pacific. Scantensi obat untuk membantu mengobati penyakit hipertensi (tekanan darah tinggi), nefropati diabetic (kelainan ginjal yang dapat muncul sebagai akibat dari komplikasi diabetes mellitus), infark post miokard (terhentinya aliran darah di jantung), gagal jantung.

Pengobatan secara non farmakologi untuk mengurangi tekanan darah tinggi juga di anjurkan, diantaranya memulai pola hidup sehat dengan olahraga teratur, menghindari makanan yang berlemak dan terlalu asin.

Keterangan Scantensin

  • Golongan: Obat Keras.
  • Kelas Terapi: Antihipertensi
  • Kandungan: Captopril 12.5 mg
  • Bentuk: Tablet
  • Satuan Penjualan: Strip 
  • Kemasan: Box, 10 Strip @ 6 Tablet
  • Farmasi: Tempo Scan Pacfic
  • Harga: -

Kegunaan Scantensin

Scantensi digunakan untuk membantu mengobati penyakit hipertensi, nefropati diabetic, dan infark post miokard, gagal jantung.

Dosis & Cara Penggunaan Scantensin

Scantensi merupakan golongan obat keras. Obat ini memerlukan resep dokter untuk pembelian serta penggunaannya.

  1. Infark post miokard
    • Dewasa: dosis awal: 6,25 mg dalam 3-16 hari setelah infark, dilanjutkan dengan dosis 12,5 mg 3 kali sehari selama 2 hari, kemudian dosis 25 mg diminum 3 kali sehari tergantung respon pasien.
    • Dosis pemeliharaan: 75-150 mg setiap hari dalam 2 atau 3 dosis terbagi.
  2. Gagal jantung
    • Pada dewasa dosis awal: diminum 6.25-12.5 mg 2 atau 3 kali sehari.
    • Dosis pemeliharaan: diminum 25 mg 2 atau 3 kali sehari. Maksimal 50 mg 3 kali sehari
    • Pada anak-anak dosis awal: diminum 0.25 mg perkilogram berat badan perhari, dosis dapat ditingkatkan hingga 2.5 atau 3.5 mg perkilogram berat badan perhari dalam 3 dosis terbagi
  3. Hipertensi
    • Pada dewasa dosis awal: diminum 12.5 mg 2 kali sehari. Pertama kali diminum pada malam hari sebelum tidur. Dosis dapat ditingkatkan bertahap dengan selang waktu 2-4 minggu tergantung respon yang diberikan. Dosis pemeliharaa: diminum 25-50 mg 2 kali sehari. Maksimal 50 mg 3 kali sehari. Pasien dengan diuretik diminum 6.25 mg 2 kali sehari
    • Pada bayi baru lahir dan balita: diminum 0.15 mg perkilogram berat badan maksimal 6 mg perkilogram berat badan dalam 2 atau 3 dosis terbagi.
    • Pada anak-anak dan remaja: diminum 0.3 mg perkilogram berat badan maksimal 6 mg perkilogram berta badan dalam 2 atau 3 dosis terbagi.
    • Pada manula dosis awal: diminum 6.25 mg diminum 2 kali sehari.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu antara 20-25 derajat Celcius, serta terhindar dari kelembaban.

Efek Samping Scantensin

Efek samping yang mungkin terjadi selama pengunaan Scantensin, yaitu:

  • Gangguna saluran cerna (mual, muntah, diare, sembelit)
  • Gangguan tidur
  • Hipotensi (tekanan darah tinggi)
  • Takikardia (kondisi di mana detak jantung seseorang di atas normal dalam kondisi beristirahat)
  • Nyeri dada
  • Hiperkalemia (suatu keadaan dimana jumlah kalium yang terdapat di dalam darah berada pada kadar yang lebih tinggi dari keadaan normal)
  • Hiponatremia (kondisi di mana konsentrasi natrium yang rendah di dalam darah)
  • Ruam kulit
  • Alopesia (rambut rontok)

Kontraindikasi
Hindari penggunaan Scantensin pada pasien yang memiliki indikasi:

  • Memiliki iwayat angioedema yang berhubungan dengan pengobatan ACE, edema angioneurotic herediter atau idiopatik.
  • Hindari penggunaan bersamaan dengan aliskiren esp pada pasien dengan diabetes mellitus atau gangguan ginjal (GFR <60 mL/min/1.73m2) dan inhibitor neprilysin (misalnya sacubitril). 
  • Ibu hamil

Interaksi Obat
Berikut adalah beberapa interaksi obat yang umumnya terjadi saat penggunaan Scantensin:

  • Pengobatan bersamaan dengan NSAID mengurangi tindakan hipotensi dan meningkatkan risiko nefrotoksisitas
  • Dapat meningkatkan risiko toksisitas litium
  • Peningkatan risiko reaksi nitritoid dengan emas (Na aurothiomalate)
  • Peningkatan risiko hipotensi, hiperkalemia, dan perubahan fungsi ginjal (termasuk gagal ginjal akut) dengan aliskiren pada pasien diabetes.
  • Aditif efek hiperkalemia dengan suplemen K, diuretik hemat-K, dan obat lain (misalnya heparin)
  • Dapat meningkatkan risiko leukopenia dengan procainamide, allopurinol, sitostatik atau imunosupresan

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Scantensin ke dalam Kategori D:
Ada bukti positif risiko pada janin manusia, tetapi manfaat obat jika digunakan pada wanita hamil dapat diterima meskipun ada risiko (misalnya, jika obat tersebut diperlukan dalam situasi yang mengancam jiwa atau untuk penyakit serius dimana obat-obatan yang lebih aman tidak dapat digunakan atau tidak efektif).

Perhatian Menyusui
Captopril terserap kedalam ASI. Tidak direkomendasikan untuk digunakan pada ibu menyusui.

Artikel
    Penyakit Terkait