Sukses

Pengertian Salbuven Expectorant

Salbuven Expectorant adalah obat yang mengandung Salbutamol Sulfate dan Guaiphenesin sebagai zat aktifnya. Salbuven Expectorant digunakan untuk membantu pengobatan gangguan saluran napas dan produksi dahak yang berlebihan, seperti pada kondisi asma bronkial, bronkitis kronik dan emfisema (kondisi kantung udara di paru-paru secara bertahap hancur, membuat napas lebih pendek).

Keterangan Salbuven Expectorant

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Antiasma
  • Kandungan: Salbutamol Sulfate 50 mg, Guaiphenesin 1 mg
  • Bentuk: Sirup
  • Satuan Penjualan: Botol
  • Kemasan : Botol @ 100 mL
  • Farmasi: Pharos Indonesia PT
  • Harga: Rp45.000 - Rp75.000/ Botol

Kegunaan Salbuven Expectorant

Salbuven Expectorant digunakan untuk membantu mengobati gangguan saluran nafas dan produksi dahak yang berlebihan.

Dosis & Cara Penggunaan Salbuven Expectorant

Salbuven Expectorant merupakan obat yang termasuk ke dalam Golongan Obat Keras, sehingga pada setiap pembeliannya harus menggunakan resep Dokter. 

  • Dewasa dan Anak > 12 tahun: 1-2 sendok takar, 3-4 kali sehari
  • Anak usia 6-12 tahun: 1 sendok takar, 3-4 kali sehari
  • Anak usia 2-6 tahun: ½-1 sendok takar, 3-4 kali sehari
  • Dosis umum anak: 0.3mg/kg berat badan/hari, terbagi dalam 3-4 dosis.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu dibawah 30 derajat Celcius.

Efek Samping Salbuven Expectorant

Efek samping yang mungkin terjadi selama penggunaan Salbuven Expectorant, seperti:

  • Nyeri dada
  • Denyut jantung cepat
  • Gemetar terutama pada tangan
  • Kram otot
  • Sakit kepala
  • Gugup

Kontraindikasi
Hindari penggunaan pada pasien yang memiliki riwayat hipersensitif terhadap salah satu komposisi dari Salbuven Expectorant

Interaksi Obat

  • Meningkatkan resiko hipokalemia dengan obat golongan kortikosteroid, diuretik, obat jantung, xanthin

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Salbuven Expectorant ke dalam Kategori C:
Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.

Artikel
    Penyakit Terkait