Sukses

Pengertian Ranin

Ranin merupakan sediaan tablet salut selaput yang di produksi oleh Pharos Indonesia. Obat ini mengandung Ranitidin HCl yang diindikasikan untuk tukak peptik dan penyakit refluks gastro-esofagus (GERD). Mekanisme kerja obat ini adalah bekerja secara kompetitif memblokir histamin pada reseptor H2 sel parietal lambung yang menghambat sekresi asam lambung. Mekanisme obat ini tidak mempengaruhi sekresi pepsin, sekresi faktor intrinsik yang distimulasi pentagastrin atau gastrin serum.

Keterangan Ranin

  • Golongan : Obat Keras
  • Kelas Terapi : Antasida, Agen Antireflux dan Antiulceran
  • Kandungan : Ranitidin HCl
  • Bentuk : Tablet Salut Selaput
  • Satuan Penjualan : Strip
  • Kemasan : Dus, 3 Strip @ 10 Tablet Salut Selaput
  • Farmasi : Pharos Indonesia.

Kegunaan Ranin

Ranin 150 mg diindikasikan untuk tukak lambung atau usus.

Dosis & Cara Penggunaan Ranin

Obat keras. Harus dengan Resep Dokter.

Tukak Lambung dan Duodenum yang Jinak
Dewasa
Dosis awal: 2 tablet setiap hari sebelum tidur atau 1 tablet selama 4-8 minggu; 3 x sehari 2 tablet selama 4 minggu dapat digunakan untuk pasien dengan tukak duodenum untuk meningkatkan penyembuhan.
Dosis pemeliharaan: 1 tablet setiap hari sebelum tidur. Maksimal: 300 mg.

Anak Usia 1 bulan-16 tahun
Dosis awal: 4-8 mg / kg setiap hari dalam 2 dosis terbagi. Maksimal: 300 mg / hari. Durasi pengobatan: 4-8 minggu. Dosis pemeliharaan: 2-4 mg / kg sekali sehari. Maksimal: 150 mg / hari.

Kondisi Hipersekresi
Dewasa:
Dosis awal: 2 x sehari 1 tablet atau lebih dan dosis dapat ditingkatkan jika diperlukan. Maksimal: 6 g setiap hari.

Penyakit Refluks Gastroesofagus
Dewasa
1-2 tablet diminum sebelum tidur, digunakan hingga 8 minggu, dosis dapat ditingkatkan hingga 4 x sehari 1 tablet selama 12 minggu dalam kasus yang parah.

Anak Usia 1 bulan -16 tahun
5-10 mg / kg setiap hari dalam 2 dosis terbagi. Maksimal: 300 mg / hari.

Efek Samping Ranin

Efek Samping:
Sakit kepala, badan lemas, pusing, insomnia, vertigo, kebingungan mental reversibel, gelisah, depresi mental, halusinasi, sembelit, mual, muntah, ketidaknyamanan perut atau nyeri, ruam, kehilangan libido, peningkatan serum aminotransferase (AST dan ALT), alkali fosfatase, LDH, bilirubin total, dan ase-glutamil transferase. Jarang, ruam ringan berbentuk eritema multiforme, gangguan motorik spontan yang reversibel, pankreatitis, alopecia (kebotakan), bronkospasme (penyempitan saluran udara), demam, aritmia jantung, eosinofilia (rasio eosinofil dalam darah lebih tinggi dari normal), leukopenia (jumlah leukosit lebih rendah dari normal), granulositopenia (rasio granulosit dalam darah lebih rendah dari normal), agranulositosis (sumsum tulang gagal membentuk granulosit), trombositopenia (jumlah trombosit dalam darah lebih rendah dari normal), anemia, anemia, dan hemoglobin.
Berpotensi Fatal: Hepatotoksisitas.

Kontraindikasi:
Riwayat porfiria akut.

Interaksi Obat:
Penyerapan obat tertunda dan meningkatkan konsentrasi serum jika digunakan bersama dengan propantheline bromide. Ranin secara minimal menghambat metabolisme hati obat antikoagulan kumarin, teofilin, diazepam, dan propanolol. Ranin dapat mengubah absorpsi obat yang tergantung pH (misalnya: Ketoconazole, midazolam, glipizide) . Dapat mengurangi bioavailabilitas jika digunakan bersama dengan antasida.

Kategori Kehamilan:
Kategori B : Studi pada sistem reproduksi binatang percobaan tidak memperlihatkan adanya resiko terhadap janin, tetapi studi terkontrol terhadap wanita hamil belum pernah dilakukan. Atau studi terhadap reproduksi binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping obat (selain penurunan fertilitas) yang tidak diperlihatkan pada studi terkontrol pada wanita hamil trimester I (dan tidak ada bukti mengenai resiko pada trimester berikutnya).

Artikel
    Penyakit Terkait