Sukses

Pengertian Q-Vlox

Q-Vlox 500 mg merupakan salah satu nama dagang dari sediaan Kaplet Salut Selaput yang mengandung Levofloxacin Hemihydrate, obat ini diproduksi oleh Kalbe. Q-Vlox 500 mg diindikasikan untuk pasien yang mengalami infeksi sistemik sinusitis bakteri akut, pneumonia komunitas, pengobatan dan profilaksis pascapajanan antrax, pielonefritis (infeksi pada ginjal), eksaserbasi bakteri akut bronkitis kronis, prostatitis bakteri akut, infeksi saluran kemih dengan komplikasi dan tanpa komplikasi.

Q-Vlox 500 mg merupakan golongan Antibiotik Quinolon, Antibiotik ini memiliki mekanisme kerja memberikan aksi antibakteri dengan menghambat bakteri topoisomerase IV dan DNA gyrase, enzim yang diperlukan untuk replikasi DNA, perbaikan transkripsi dan rekombinasi. Penyalahgunaan Antibiotik yang tidak tepat dosis dapat menyebabkan resistensi (kebal) terhadap bakteri tersebut.

Keterangan Q-Vlox

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Antibiotik Kuinolon
  • Bentuk: Kaplet Salut Selaput
  • Kandungan: Levofloxacin 500 mg
  • Satuan Penjualan: Strip.
  • Kemasan: Strip @ 6 Kaplet.
  • Farmasi: PT. Kalbe

Kegunaan Q-Vlox

Q-Vlox 500 mg digunakan untuk pengobatan infeksi sistemik yang disebabkan oleh bakteri.

Dosis & Cara Penggunaan Q-Vlox

Q-Vlox 500 mg merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembelian nya harus menggunakan resep Dokter. Selain itu, dosis penggunaan Q-Vlox 500 mg juga harus dikonsultasikan dengan Dokter terlebih dahulu sebelum digunakan, karena dosis penggunaan nya berbeda-beda setiap individu nya tergantung berat tidaknya penyakit yang diderita.

Sinusitis Bakteri Akut
Dewasa: 500 mg 1 x sehari selama 10-14 hari.

Pneumonia Komunitas, Infeksi Kulit dan Struktur Kulit
Dewasa: 500 mg 1 x sehari selama 7-14 hari.

Pengobatan dan Profilaksis Pasca Pajanan Antraks
Dewasa: 500 mg 1 x sehari selama 8 minggu.
Anak:
Usia ≥ 6 bulan ≤ 50 kg: 8 mg / kg 12 jam selama 60 hari (tidak melebihi 250 mg / dosis). Anak > 50 kg: 500 mg 24 jam selama 60 hari.

Pielonefritis
Dewasa: 500 mg 1 x sehari selama 7-10 hari.

Eksaserbasi Bakteri Akut Bronkitis Kronis
Dewasa: 500 mg1 x sehari selama 7-10 hari.

Prostatitis Bakteri Konis
Dewasa: 500 mg 1 x sehari selama 28 hari.

Infeksi Saluran Kemih dengan Komplikasi
Dewasa: 500 mg 1 x sehari selama 7-14 hari.

Infeksi Saluran Kemih Tanpa Komplikasi
Dewasa: 250 mg 1 x sehari selama 3 hari.

Efek Samping Q-Vlox

Efek Samping:
Efek samping yang mungkin terjadi apabila mengkonsumsi Q-Vlox 500 mg adalah:
1. Gangguan saluran pencernaan (misalnya mual, diare, konstipasi).
2. Sakit kepala.
3. Insomnia.
4. Pusing.
5. Tendinitis (peradangan pada tendon).
6. Reaksi fotosensitifitas / fototoksisitas, neuropati perifer (ireversibel).
7. Hipoglikemia (kadar gula darah rendah) atau hiperglikemia (kadar gula darah tinggi).
8. Artritis (radang sendi).
9. Demam.
10. Penurunan penglihatan sementara.
11. Nyeri.
12. Kering.
13. Gatal atau tidak nyaman.
14. Faringitis atau peradangan pada organ faring.
15. Fotofobia atau rasa tidak nyaman saat terkena cahaya.
16. Edema atau pembengkakan kelopak mata.

Kontraindikasi:
Hindari penggunaan Q-Vlox 500 mg pada pasien yang memiliki indikasi:
Hipersensitif terhadap levofloksasin atau kuinolon lainnya.

Interaksi Obat:
Berikut adalah beberapa Interaksi obat yang umumnya terjadi saat penggunaan Q-Vlox 500 mg:
1. Pengurangan penyerapan dengan sukralfat,antasid yang mengandung Mg atau Al, suplemen makanan yang mengandung Zn, Ca, Mg atau Fe.
2. Perubahan kadar glukosa dengan agen antidiabetes (misal. Insulin, glibenclamide), meningkatkan waktu protrombin bersama warfarin,
3. Meningkatkan risiko gangguan tendon berat dengan kortikosteroid.
4. Meningkatnya risiko stimulasi dan kejang sistem syaraf pusat bersama Anti Inflamasi Non-Steroid (AINS).

Kategori Kehamilan:
Menurut FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) mengkategorikan Q-Vlox 500 mg ke dalam kategori C dengan penjelasan sebagai berikut:

Studi pada hewan percobaan menunjukan adanya efek samping pada janin namun belum ada studi kontrol pada wanita hamil, obat dapat diberikan apabila efek terapinya lebih besar dari resiko pada janin.

Artikel
    Penyakit Terkait