Sukses

Pengertian Primpen

Primpen adalah obat yang mengandung metoclopramide HCl sebagai zat aktifnya. Metoclopramide HCl termasuk golongan obat antiemetik yaitu obat yang dapat menekan mual dan muntah. Primpen bekerja dengan cara memblokir reseptor dopamin dan reseptor serotonin dalam dosis yang lebih tinggi, hal ini memicu kemoreseptor pada sistem saraf pusat. Primpen memberikan respons terhadap asetilkolin jaringan pada saluran gastrointesntinal (saluran cerna tepat pada bagian lambung dan usus) yang menyebabkan peningkatan motilitas dan mempercepat pengosongan lambung tanpa merangsang sekresi lambung, bilier, atau pankreas.

Keterangan Primpen

  1. Primpen Tablet
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Antiemetik / Regulator GIT, Antiflatulen dan Antiinflamasi
    • Kandungan: Metoclopramide 10 mg
    • Bentuk: Tablet
    • Satuan Penjualan: Strip
    • Kemasan: Box, 10 Strip @ 10 Tablet
    • Farmasi: Sampharindo Perdana
  2. Primpen Sirup
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Antiemetik / Regulator GIT, Antiflatulen dan Antiinflamasi
    • Kandungan: Metoclopramide 5 mg/5 mL
    • Bentuk: Sirup
    • Satuan Penjualan: Botol
    • Kemasan: Botol @ 60 mL
    • Farmasi: Sampharindo Perdana.

Kegunaan Primpen

Primpen digunakan untuk meredakan mual dan muntah pada gangguan saluran cerna dan pada pengobatan dengan sitotoksik atau radioterapi, untuk kontrol muntah karena operasi abdominal dan prosedur diagnostik.

Dosis & Cara Penggunaan Primpen

Primpen merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembeliannya harus menggunakan resep dokter. Selain itu, dosis penggunaan Primpen juga harus dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu sebelum digunakan.

Aturan penggunaan secara umum:

  • Diberikan 10 mg (5 mg pada dewasa muda berusia 15-19 tahun dengan berat di bawah 60 kg) 3 kali sehari.
  • Anak sampai dengan 1 tahun (berat sampai 10 kg) 1 mg, 2 kali sehari; 1-3 tahun (10-14 kg) 1 mg, 2-3 kali sehari; 3-5 tahun (15-19 kg) 2 mg, 2-3 kali sehari; 5-9 tahun (20-29 kg) 2.5 mg, 3 kali sehari; 9-14 tahun (30 kg dan lebih) 5 mg, 3 kali sehari.

Cara Penyimpanan:
Simpan pada suhu 20-25°C, lindungi dari cahaya.

Efek Samping Primpen

Efek samping yang mungkin terjadi selama penggunaan Primpen, antara lain:

  • Sindrom neuroleptik malignan
  • Ruam kulit
  • Diare
  • Pruritus
  • Gelisah
  • Mengantuk
  • Udem
  • Depresi.

Kontraindikasi:

  • Pheochromocytoma (Tumor langka yang terjadi pada kelenjar Adrenalin).
  • Perdarahan, obstruksi (Penyumbatan Usus), atau perforasi GI (Usus pecah).
  • Epilepsi dan pasien dengan obat yang menyebabkan reaksi ekstrapiramidal.

Interaksi obat:
Damaben berinteraksi dengan obat-obat seperti penghambat MAO, analgesik narkotik dan antikolinergik, alkohol, sedatif, hipnotik, narkotik/trankuilizer, parasetamol, tetrasiklin, levodopa, etanol, siklosporin, dan digoksin.

Kategori kehamilan:
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengategorikan Primpen ke dalam Kategori B:
Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).

Overdosis:

  • Gejala overdosis Metoclopramide antara lain gangguan ekstrapiramidal, mengantuk, sakit kepala, vertigo, gelisah, tingkat kelemahan penurunan kesadaran, kecemasan, kebingungan, halusinasi, mual, muntah, xerostomia, konstipasi, hipotensi, dan henti jantung pernapasan. Jarang terjadi: blok AV. Methaemoglobinaemia dan kejang umum juga dapat terjadi pada bayi prematur.
  • Jika terjadi overdosis, berikan pengobatan simtomatik dan suportif (oleh tenaga medis). Reaksi ekstrapiramidal dapat dikontrol dengan pemberian agen antikolinergik (misalnya Diphenhydramine, benztropine). Berikan metilen biru secara intravena dalam kasus methaemoglobinaemia, namun, penggunaan metilen biru pada pasien dengan defisiensi G6PD tidak dianjurkan karena peningkatan risiko anemia hemolitik yang mungkin berakibat fatal. Pantau kardiovaskuler dan fungsi pernapasan.
Artikel
    Penyakit Terkait