Sukses

Pengertian Primaderm

Primaderm adalah sediaan salep yang mengandung Clobetasol propionate, diproduksi oleh Roy Surya Farma. Clobetasol propionate termasuk dalam golongan Kortikosteroid. Primaderm dapat meringankan pembengkakan, gatal-gatal dan kulit yang memerah. Cara kerja Clobetasol Propionate dalam Primaderm yaitu dengan menurunkan respon tubuh terhadap peradangan yang terjadi.

Keterangan Primaderm

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Kortikosteroid Topikal
  • Kandungan: Clobetasol propionate 0.5 mg
  • Bentuk: Salep
  • Satuan Penjualan: Tube
  • Kemasan: Box, 1 Tube @ 10 Gram
  • Farmasi: Roy Surya Prima Farma.

Kegunaan Primaderm

Primaderm digunakan untuk menyembuhkan penyakit kulit misalnya eksim, dermatitis, alergi, ruam kulit yang memerah serta peradangan pada kulit.

Dosis & Cara Penggunaan Primaderm

Primaderm merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembeliannya harus menggunakan resep dokter. Selain itu, dosis penggunaan Primaderm juga harus dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu sebelum digunakan, karena dosis penggunaannya berbeda-beda setiap individu.

Aturan penggunaan Primaderm:

  • Dosis penggunaan: 1-2x sehari oles tipis pada kulit yang luka
  • Dosis maksimal penggunaan tidak lebih dari 50 gram per minggu.

Cara Penyimpanan:
Simpan pada suhu 20-25°C.

Efek Samping Primaderm

Efek samping yang mungkin terjadi selama penggunaan Primaderm, seperti:

  • Dapat menimbulkan rasa perih
  • Sensasi terbakar pada kulit
  • Dapat terjadi peradangan kronis pada kulit
  • Dapat menyebabkan penipisan pada kulit.

Kontraindikasi:

  • Tidak digunakan pada pasien yang memiliki riwayat hipersensitif atau alergi terhadap kandungan obat tersebut
  • Riwayat penyakit infeksi karena virus
  • Sebaiknya tidak digunakan pada pasien yang sedang menggunakan obat kulit infeksi lainnya.

Kategori kehamilan:
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengategorikan Primaderm ke dalam Kategori C:
Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.

Artikel
    Penyakit Terkait