Sukses

Pengertian Pralax

Pralax merupakan salah satu nama dagang dari sediaan Sirup yang mengandung zat aktif Lactulosa, obat ini diproduksi oleh Pratama Nirmala. Lactulosa dapat bekerja dengan cara mengalirkan cairan ke usus, sehingga membuat tinja menjadi lebih lunak dan mudah untuk dikeluarkan. Lactulosa berfungsi untuk mengatasi masalah konstipasi atau sembelit (susah untuk buang air besar). Pralax juga dapat digunakan untuk mengatasi Ensafolapati hepatik tetapi dalam dosis penggunaan sesuai resep dari Dokter.

Keterangan Pralax

  • Golongan: Obat Bebas
  • Kelas Terapi: Laksatif (pencahar)
  • Kandungan: Lactulosa 3.335 Gram/5 mL
  • Bentuk: Sirup
  • Satuan Penjualan: Botol
  • Kemasan: Botol @ 100 mL
  • Farmasi: Pratapa Nirmala.

Kegunaan Pralax

Pralax digunakan untuk mengatasi masalah konstipasi atau sembelit (susah untuk buang air besar), Ensafolapati hepatik.

Dosis & Cara Penggunaan Pralax

Dosis penggunaan Pralax:
1. Dosis dewasa: 1-2 x sehari 1 sendok makan (15 mL)
2. Dosis anak 1-6 tahun: 1-2 x sehari 1 sendok takar (5 mL )
3. Dosis anak 6-14 tahun: 2-3 x sehari 1 sendok takar (5 mL)
4. Dosis bayi: 1 x sehari 1 sendok takar (5 mL)
Penggunaan obat ini sebaiknya diminum setelah makan.

Efek Samping Pralax

Efek samping yang mungkin terjadi selama penggunaan Pralax:
1. Dehidrasi
2. Gangguan pada saluran pencernaan: Kembung, diare, mual dan muntah, dapat terjadi kram perut

Kontraindikasi:
Hindari penggunaan Pralax pada pasien yang memiliki indikasi:
1. Penyakit penyempitan pada saluran pencernaan
2. Kelainan bawaan pada metabolisme usus dan susu.

Interaksi Obat:
Berikut adalah beberapa Interaksi obat yang umumnya terjadi saat penggunaan Pralax:
1. Antasida
2. Antibiotik Neomycin
3. Obat golongan Anti infeksi

Kategori Kehamilan:
Keamanan kehamilan menurut FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) mengkategorikan Pralax ke dalam kategori B dengan penjelasan sebagai berikut:

Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil. Atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) namun tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).

Artikel
    Penyakit Terkait