Sukses

Pengertian Pepzol

Pepzol adalah obat yang diproduksi oleh Mahakam Beta Farma. Obat ini tersedia dalam bentuk tablet dan serbuk injeksi. Obat ini mengandung Pantoprazole yang diindikasikan untuk pengobatan tukak lambung dan penyakit refluks gastro-esofagus (GERD - kondisi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan). Mekanisme kerja obat ini adalah menghambat sekresi asam lambung.

Keterangan Pepzol

  1. Pepzol Tablet
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Antasida, Agen Antirefluks dan Antiulserasi
    • Kandungan: Pantoprazole 20 mg; Pantoprazole 40 mg
    • Bentuk: Tablet Salut Enterik
    • Satuan Penjualan: Strip
    • Kemasan: Box, 1 Strip @ 10 Tablet
    • Farmasi: Mahakam Beta Farma
    • Harga Pepzol 20 mg: Rp128.000 - Rp233.000/ Strip
    • Harga Pepzol 40 mg: Rp192.000 - Rp400.000/ Strip
  2. Pepzol Injeksi 
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Antasida, Agen Antirefluks dan Antiulserasi
    • Kandungan: Pantoprazole 40 mg
    • Bentuk: Serbuk Injeksi
    • Satuan Penjualan: Vial
    • Kemasan: Box, 1 Vial @ 40 mg
    • Farmasi: Mahakam Beta Farma.
    • Harga: Rp130.000 - Rp180.000/ Box

Kegunaan Pepzol

Pepzol diindikasikan untuk pengobatan tukak lambung dan penyakit refluks gastro-esofagus (GERD - kondisi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan).

Dosis & Cara Penggunaan Pepzol

Pepzol merupakan golongan obat keras. Obat ini memerlukan resep dokter untuk pembelian serta penggunaannya.

Aturan penggunaan Pepzol Injeksi:

  • Sindrom Zollinger-Ellison
    Dewasa: 80 mg 1 x atau 2 x sehari sebagai injeksi lambat atau infus jangka pendek selama 2-15 menit. Beralihlah ke terapi oral sesegera mungkin.
  • Penyakit Refluks Gastro-Esofagus, Tukak Lambung
    Dewasa: 40 mg setiap hari sebagai injeksi lambat atau infus jangka pendek selama 2-15 menit. Beralihlah ke terapi oral sesegera mungkin.

Aturan penggunaan Pepzol Tablet:

  • Tukak Lambung
    Dewasa: 40 mg 1 x (tingkatkan dosis hingga 80 mg jika perlu) selama 2-4 minggu untuk tukak duodenum 4-8 minggu.
  • Penyakit Refluks Gastroesofagus (GERD)
    Dewasa: 20-40 mg 1 x sehari selama 4 minggu (dosis ditingkatkan menjadi 8 minggu jika perlu).
    Dosis pemeliharaan: 20-40 mg setiap hari. Atau, 20 mg setiap hari jika gejala yang berulang.
    Anak Usia ≥ 5 tahun dengan Berat Badan 15–40 kg: 20 mg 1 x sehari hingga 8 minggu.
    Berat Badan > 40 kg: 40 mg 1 x sekali hingga 8 minggu.
  • Profilaksis Tukak Lambung yang disebabkan Obat Anti Inflamasi Non Steroid
    Dewasa: 20 mg 1 x sehari.
  • Sindrom Zollinger-Ellison
    Dewasa: 40 mg (dosis disesuaikan hingga 240 mg / hari jika perlu). Dosis harian > 80 mg harus diberikan dalam 2 dosis terbagi.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu antara 20-25 derajat Celcius.

Efek Samping Pepzol

Efek samping yang mungkin timbul adalah:

  • Hipomagnesemia (kadar magnesium dalam darah rendah)
  • SLE (lupus)
  • Polip kelenjar fundus
  • Diare terkait Clostridium difficile
  • Defisiensi vitamin B12 (terapi jangka panjang)
  • Infeksi gastrointestinal (misalnya. Salmonella, Campylobacter)
  • Mual, muntah
  • Diare, sembelit
  • Perut kembung
  • Sakit perut
  • Pencernaan yang terganggu
  • Mulut kering
  • Asthenia (badan lemas)
  • Kelelahan
  • Peningkatan enzim hati
  • Urtikaria (biduran)
  • Edema perifer (kaki bengkak)
  • Arthralgia (nyeri sendi)
  • Mialgia (nyeri otot)
  • Sakit kepala
  • Pusing, vertigo

Kontraindikasi
Hindari penggunaan bersamaan dengan rilpivirine dan atazanavir.

Interaksi Obat

  • Dapat menurunkan konsentrasi rilpivirine dan atazanavir dalam plasma.
  • Meningkatkan risiko hipomagnesemia (kadar magnesium dalam darah rendah) dengan diuretik.
  • Meningkatkan risiko efek kardiotoksik yang diinduksi digoxin.
  • Dapat meningkatkan INR dan waktu protrombin warfarin.
  • Dapat meningkatkan konsentrasi metotreksat dalam plasma.
  • Dapat menurunkan absorpsi itrakonazol, ketokonazol, posaconazole, erlotinib.
  • Dapat mengurangi efek terapeutik clopidogrel.

Kategori Kehamilan
Menurut FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) mengkategorikan pepzol ke dalam kategori C dengan penjelasan sebagai berikut:

Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.

Artikel
    Penyakit Terkait