Sukses

Pengertian Pantozol

Pantozol merupakan sediaan obat dalam bentuk tablet yang diproduksi oleh Takeda Indonesia. Pantozol mengandung zat aktif Pantoprazole Sodium Sesquihydrate. Pantozol adalah obat yang digunakan untuk mengatasi pencegahan luka atau tukak yang diinduksi obat anti-inflamasi nonsteroid (OAINS) serta mengobati penyakit tukak lambung, kemunculan tumor pada pankreas (Sindrom Zollinger-Ellison), dan penyakit gastroesophageal reflux disease (GERD). Pantozol bekerja dengan cara menghambat sel-sel di lapisan lambung untuk menghasilkan asam lambung, sehingga produksi asam lambung berkurang.

Keterangan Pantozol

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Antasida, Agen Antirefluks dan Antiulserasi
  • Kandungan: Pantoprazole Sodium Sesquihydrate 20 mg; Pantoprazole Sodium Sesquihydrate 40 mg
  • Bentuk: Tablet Salut Enterik
  • Satuan Penjualan: Strip
  • Kemasan: Box, 1 Strip @ 7 Tablet Salut Enterik
  • Farmasi: Takeda Indonesia.

Kegunaan Pantozol

Pantozol adalah obat yang digunakan untuk mengatasi pencegahan luka atau tukak yang diinduksi obat anti-inflamasi nonsteroid (OAINS) serta mengobati penyakit tukak lambung, kemunculan tumor pada pankreas (Sindrom Zollinger-Ellison), dan penyakit gastroesophageal reflux disease (GERD).

Dosis & Cara Penggunaan Pantozol

Pantozol merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembeliannya harus menggunakan resep Dokter. Selain itu, dosis penggunaan Pantozol juga harus dikonsultasikan dengan Dokter terlebih dahulu sebelum digunakan, karena dosis penggunaannya berbeda-beda setiap individu tergantung berat tidaknya penyakit yang diderita. Penggunaan Pantozol memerlukan bantuan dari tenaga medis.

Dosis dan Cara Penggunaan Pantozol :

  • Tukak Lambung
    Dewasa: 40 mg sekali sehari (meningkat hingga 80 mg jika perlu) selama 2-4 minggu untuk tukak duodenum atau 4-8 minggu untuk tukak lambung yang jinak.
  • Penyakit refluks gastroesofagus
    Dewasa: 20-40 mg sekali sehari selama 4 minggu (meningkat menjadi 8 minggu jika perlu).
    Pemeliharaan: 20-40 mg setiap hari. Atau, 20 mg setiap hari pada gejala yang berulang.
    Anak ≥5 tahun 15–40 kg: 20 mg sekali sehari hingga 8 minggu; > 40 kg: 40 mg sehari sekali hingga 8 minggu.
  • Pencegahan luka atau tukak yang diinduksi obat anti-inflamasi nonsteroid (OAINS)
    Dewasa: 20 mg sekali sehari.
  • Kemunculan tumor pada pankreas (Sindrom Zollinger-Ellison)
    Dewasa: 40 mg tawaran (disesuaikan hingga 240 mg / hari jika perlu).
    Dosis harian> 80 mg harus diberikan dalam 2 dosis terbagi.

Efek Samping Pantozol

Efek Samping yang mungkin terjadi adalah:
Infeksi saluran cerna (misal. Salmonella, Campylobacter), Mual, muntah, diare, sembelit, perut kembung, sakit perut, pencernaan yg terganggu, mulut kering, lemas ,kelelahan, malaise, Peningkatan enzim hati, biduran(Urtikaria), Sakit kepala, pusing, vertigo, Insomnia, ruam, gatal (pruritus), rendahnya kadar magnesium dalam tubuh rendah (Hipomagnesemia), cutaneous lupus erythematosus(SLE), patah tulang karena osteoporosis, lubang kelenjar fundus, karsinoma, diare terkait bakteri Clostridium difficile, dan defisiensi vitamin B12 (terapi jangka panjang).

Kontraindikasi:
Penggunaan bersamaan dengan rilpivirine dan atazanavir.

Interaksi Obat:

  • Dapat menurunkan konsentrasi rilpivirine dan atazanavir dalam plasma.
  • Peningkatan risiko hipomagnesemia dengan diuretik. Peningkatan risiko efek kardiotoksik yang diinduksi digoxin. Dapat meningkatkan International Normalized Ratio atau INR dan waktu protrombin warfarin.
  • Dapat meningkatkan konsentrasi metotreksat dalam plasma.
  • Dapat menurunkan absorpsi itrakonazol, ketokonazol, posaconazole, erlotinib.
  • Dapat mengurangi efek terapeutik clopidogrel.

Kategori Kehamilan:
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Pantozol ke dalam Kategori C:
Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.


Artikel
    Penyakit Terkait