Sukses

Pengertian Orsaderm

Orsaderm merupakan krim antiinfeksi dengan kortikosteroid yang diproduksi oleh PT. Ifars. Kandungan Orsaderm adalah betamethasone dipropionate yang digunakan untuk mengatasi peradangan pada infeksi kulit yang peka terhadap kortikosteroid.

Orsaderm bekerja dengan cara menghambat pelepasan asam arakidonat sehingga menekan pembentukan, pelepasan, dan aktivitas prostaglandin.

Artikel Lainnya: Ini Jenis-jenis Dermatitis Kontak dan Gejalanya

Keterangan Orsaderm

Berikut adalah keterangan Orsaderm, mulai dari golongan obat hingga harga Orsaderm:

  • Golongan: Obat Keras.
  • Kelas Terapi: Antiinfeksi Topikal dengan Kortikosteroid.
  • Kandungan: Betamethasone Valerate 1 mg/ gram.
  • Bentuk: Krim.
  • Satuan Penjualan: Tube.
  • Kemasan: Tube @ 10 gram; Tube @ 5 gram.
  • Farmasi: PT. Ifars.
  • Harga: Rp. 4.000 - Rp. 15.000/ Tube.

Kegunaan Orsaderm

Fungsi salep Orsaderm adalah untuk mengatasi peradangan pada infeksi kulit yang peka terhadap kortikosteroid. Misalnya, dermatosis, eksim, dan psoriasis.

Artikel Lainnya: Jangan Salah, Ini Bedanya Eksim Kering dan Eksim Basah

Dosis & Cara Penggunaan Orsaderm

Orsaderm digolongkan sebagai obat keras. Oleh sebab itu, pembelian serta penggunaan obat ini harus berdasarkan anjuran dokter.

Aturan penggunaan obat Orsaderm secara umum adalah dengan mengoleskan krim tipis-tipis pada daerah yang terkena infeksi sebanyak 1-3 kali per hari.

Cara Penyimpanan Orsaderm

Simpan pada suhu antara 15-30 derajat Celsius.

Artikel Lainnya: Jangan Sepelekan, Komplikasi Psoriasis Bisa Berakibat Fatal

Efek Samping Orsaderm

Efek samping yang bisa timbul setelah menggunakan Orsaderm, antara lain:

Kontraindikasi

Hindari menggunakan Orsaderm apabila pasien memiliki kondisi berikut ini:

  • Infeksi bakteri atau jamur yang tidak diobati.
  • Lesi pada kulit yang disebabkan oleh virus.
  • Jerawat.
  • Gatal pada anus dan kelamin.
  • Gatal pada area sekitar mulut.
  • Gatal tanpa peradangan.

Kategori Kehamilan

Kategori C: Studi pada hewan telah menunjukkan efek yang berbahaya pada janin. Namun, penelitian dengan hasil serupa terhadap janin manusia masih belum memadai. 

Artikel
    Penyakit Terkait