Obat Gangguan Saraf Pusat

Lorazepam

Klikdokter, 23 Jun 2020

Ditinjau Oleh Tim Apoteker Klikdokter

Lorazepam digunakan untuk mengatasi kecemasan, obat yang diberikan untuk induksi anestesi dalam operasi, mengatasi insomnia.

Pengertian

Lorazepam adalah golongan obat psikotropika yang digunakan untuk mengatasi kecemasan, obat yang diberikan untuk induksi anestesi dalam operasi, mengatasi insomnia yang terkait dengan kecemasan. Lorazepam bekerja dengan cara meningkatkan efek unsur kimia tertentu di dalam otak dan memberikan efek menenangkan di berbagai bagian otak dan sistem saraf pusat.

Keterangan

  • Golongan: Obat Psikotropika
  • Kelas Terapi: Anxiolytics / Hypnotics dan Sedative
  • Kandungan: Lorazepam 2 mg
  • Bentuk: Tablet; Tablet Salut Selaput
  • Satuan Penjualan: Strip
  • Kemasan: Box, 10 Strip @ 10 Tablet
  • Farmasi: Sunthi Sepuri; Mersifarma Tirmaku Mercusana

Merk dagang yang beredar di Indonesia:
Ativan, Merlopam, Loxipaz, Renaquil.

Kegunaan

Lorazepam digunakan untuk mengatasi kecemasan, obat yang diberikan untuk induksi anestesi dalam operasi, mengatasi insomnia yang terkait dengan kecemasan.

Dosis & Cara Penggunaan

Lorazepam merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembeliannya harus menggunakan resep dokter. Selain itu, dosis penggunaan Lorazepam juga harus dikonsultasikan dengan dokter dan apoteker terlebih dahulu sebelum digunakan.

  1. Kecemasan
    Diberikan dosis 1-4 mg setiap hari dalam dosis terbagi selama 2-4 minggu.
  2. Insomnia berhubungan dengan kecemasan
    Diberikan dosis 1-2 mg diminum sebelum tidur.
  3. Premedikasi dalam operasi
    Diberikan dosis 2-3 mg diberikan pada malam sebelum operasi, dilanjutkan dengan dosis 2-4 mg diminum 1-2 jam sebelum prosedur.

Cara Penyimpanan
Simpan pada dosis di bawah 25 ° C.

Efek Samping

Efek samping penggunaan Lorazepam yang mungkin terjadi adalah:

  • Diskrasia darah.
  • Kelelahan.
  • Kelemahan otot.
  • Mengantuk, sedasi, pusing, tidak stabil.
  • Kebingungan, depresi, halusinasi, pingsan.
  • Gagal napas, apnea.
  • Ruam.

Kontraindikasi
Tidak boleh diberikan pada pasien dengan kondisi:

  • Insufisiensi paru akut, depresi pernafasan, glaukoma sudut sempit akut, keadaan obsesif, miastenia gravis.
  • Gangguan hati berat.
  • Kehamilan (merencanakan kehamilan, trimester 1 atau 3).

Interaksi Obat

  • Dapat meningkatkan efek depresan SSP NA oksibat, neuroleptik, antipsikotik, tranquiliser, antidepresan, hipnotik, anestetik, barbiturat (misalnya: Fenobarbital), antihistamin sedatif.
  • Efek sedatif yang ditingkatkan dengan inhibitor HIV-protease, cisapride, lofexidine, nabilone, disulfiram dan pelemas otot (misalnya: Tizanidine, baclofen).
  • Peningkatan konsentrasi serum dengan agen anti-epilepsi (misalnya: Valproate).
  • Pengurangan clearance dan peningkatan aksi dengan inhibitor CYP450 (misalnya: Simetidin, isoniazid, eritromisin, omeprazol).
  • Peningkatan clearance dan pengurangan efek dengan CYP450 inducers (misalnya: Rifampicin).
  • Efek antagonis dengan dopaminergik (misalnya: Levodopa).
  • Mengurangi efek dengan theophilin atau aminofilin.
  • Skopolamin meningkatkan risiko sedasi, halusinasi, dan perilaku irasional. Antasid dapat menunda penyerapan lorazepam.
  • Efek hipotensi yang ditingkatkan dengan penghambat ACE, penghambat reseptor angiotensin II, penghambat saluran Ca, diuretik, penghambat β.

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengategorikan Lorazepam ke dalam Kategori D:
Ada bukti positif risiko pada janin manusia, tetapi manfaat obat jika digunakan pada wanita hamil dapat diterima meskipun ada risiko (misalnya, jika obat tersebut diperlukan dalam situasi yang mengancam jiwa atau untuk penyakit serius dimana obat-obatan yang lebih aman tidak dapat digunakan atau tidak efektif).

Overdosis

  • Pemberian Lorazepam yang melebihi dosis yang dianjurkan akan menimbulkan gejala, seperti mengantuk, kebingungan mental, reaksi paradoks, disartria, dan kelesuan. Kasus yang parah: Ataksia, hipotensi, hipotonia, depresi pernapasan, depresi kardiovaskular, keadaan hipnosis, koma, dan sangat jarang, kematian.
  • Jika terjadi overdosis, segera lakukan pengobatan suportif dan simtomatik (dibantu oleh tenaga medis profesional). Berikan arang aktif untuk mengurangi penyerapan. Induksi muntah atau lakukan bilas lambung untuk konsumsi baru-baru ini. Pertahankan jalan napas yang memadai dan gunakan respirasi berbantuan seperlunya. Hipotensi dapat dikontrol dengan norepinefrin. Flumazenil dapat digunakan sebagai terapi tambahan untuk manajemen overdosis.