Obat Gangguan Pencernaan

Neciblok

Klikdokter, 25 Mar 2021

Ditinjau Oleh Tim Apoteker Klikdokter

Neciblok digunakan untuk pengobatan jangka pendek (hingga 8 minggu) tukak duodenum.

Pengertian

Neciblok adalah obat yang mengandung Sucralfat sebagai zat aktifnya. Obat ini tersedia dalam bentuk suspensi dan tablet. Neciblok digunakan untuk pengobatan jangka pendek (hingga 8 minggu) untuk mengatasi tukak duodenum. Tukak duodenum adalah luka terbuka yang timbul di dinding usus 12 jari, yaitu bagian awal dari usus halus. Neciblok bekerja dengan cara membentuk lapisan pada bagian yang luka dan melindunginya dari asam lambung yang dapat memperlambat penyembuhan.

Keterangan

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Antasida, Agen Antireflux, dan Antiulceran
  • Kandungan: Sucralfate 500 mg/ 5 ml
  • Bentuk: Suspensi
  • Satuan Penjualan: Botol
  • Kemasan: Botol @ 100 ml dan 200 ml
  • Farmasi: Kalbe Farma
  • Harga: Rp 57.000 - Rp 110.000 / Botol.

Kegunaan

Neciblok digunakan untuk pengobatan jangka pendek (hingga 8 minggu) tukak duodenum.

Dosis & Cara Penggunaan

Obat ini termasuk dalam golongan Obat Keras, maka dari itu penggunaan obat ini harus dengan anjuran dan resep dokter. Aturan penggunaan secara umum adalah:

Dewasa: 2 sendok takar (10 mL), diminum 4 kali sehari.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu 20-25 derajat Celcius.

Efek Samping

Efek samping yang mungkin terjadi adalah:

  • Sembelit
  • Mulut kering
  • Diare
  • Mual
  • Ketidaknyamanan lambung
  • Gatal
  • Ruam
  • Pusing, vertigo, sakit kepala
  • Mengantuk
  • Sakit punggung.

Kontraindikasi
Tidak boleh di berikan pada pasien yang hipersensitif terhadap komponen yang terkandung dalam Neciblok.

Interaksi Obat
Mengurangi absorpsi ketokonazol, simetidin, siprofloksasin, digoksin, norfloksasin, fenitoin, ranitidin, tetrasiklin, teofilin jika di berikan bersamaan dengan Neciblok.

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Neciblok ke dalam Kategori B:
Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).