Obat Antinyeri

Kaflam

Klikdokter, 21 Jan 2021

Ditinjau Oleh Tim Apoteker Klikdokter

Kaflam merupakan obat digunakan untuk membantu meringankan nyeri sedang sampai berat dan mengurangi peradangan.

Pengertian

Kaflam adalah sediaan obat berbentuk tablet yang mengandung kalium diklofenak. Kaflam digunakan untuk membantu mengobati peradangan yang disertai dengan rasa sakit setelah trauma (terpukul, terbentur, teriris), peradangan dan nyeri setelah operasi, sebagai obat tambahan untuk mengatasi infeksi THT (telinga, hidung, tenggorokan) yang meradang disertai rasa sakit yang parah, gejala-gejala dengan rasa sakit pada tulang belakang dan reumatisme non artikular (rematik bukan pada sendi). Kaflam tersedia dalam 2 kekuatan dosis yang berbeda, yaitu Kaflam 25 mg dan 50 mg. Perbedaan kekuatan dosis digunakan untuk membedakan tingkat tujuan terapi, kondisi biologis atau rasa sakit yang diderita oleh pasien.

Keterangan

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Anti Inflamasi Non-Steroid (AINS)
  • Kandungan: Kalium Diklofenak 25 mg; Kalium Diklofenak 50 mg
  • Bentuk: Tablet
  • Satuan Penjualan: Strip
  • Kemasan: Box, 3 Strip @ 10 Tablet
  • Farmasi: Dankos Farma.

Kegunaan

Kaflam digunakan untuk membantu meringankan nyeri sedang sampai berat dan mengurangi peradangan (infalamasi).

Dosis & Cara penggunaan

Kaflam merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembeliannya harus menggunakan resep dokter. Selain itu, dosis penggunaan kaflam juga harus dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu sebelum digunakan, karena dosis penggunaannya berbeda-beda setiap individu. Aturan penggunaan Kaflam secara umum adalah:

  1. Nyeri akut
    • Dewasa: Untuk kasus ringan hingga sedang: Sebagai tablet konvensional: 50 mg, 2 kali sehari.
    • Anak> 14 tahun : Sebagai tablet konvensional: 25 mg 3 kali sehari atau 50 mg 2 kali sehari.
  2. Dismenorea primer
    • Dewasa: Seperti tablet konvensional: 50 mg 3 kali sehari.
  3. Migrain
    • Dewasa: Sebagai tablet konvensional: Awalnya, 50 mg pada tanda-tanda pertama serangan. Jika gejalanya menetap setelah 2 jam, mungkin perlu dosis tambahan 50 mg.
  4. Demam yang berhubungan dengan infeksi telinga, hidung atau tenggorokan (THT), nyeri pasca operasi
    • Anak > 9 tahun ≥35 kg: Sebagai tablet: 2 mg / kg berat badan setiap hari dalam 3 dosis terbagi.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu di bawah 30 derajat Celcius.

Efek Samping

Efek samping yang mungkin terjadi selama pengunaan Kaflam, yaitu:

  • Nyeri dada.
  • Tinnitus.
  • Mual, muntah, diare, konstipasi, pencernaan yang terganggu, perut kembung, sakit perut.
  • Influenza.
  • Anoreksia atau Gangguan metabolisme dan nutrisi.
  • Nyeri punggung, nyeri tungkai.
  • Sakit kepala, pusing.
  • Insomnia, mengantuk.
  • Kelainan fungsi ginjal.
  • Hipotensi.

Overdosis
Penggunaan Diclofenac yang melebihi dosis dapat menimbulkan gejala antara lain lesu, tinitus, sakit kepala, mengantuk, mual, muntah, diare, pusing, nyeri ulu hati, perdarahan saluran cerna, kejang-kejang; jarang terjadi: reaksi anafilaktoid, hipertensi, depresi pernapasan, gagal ginjal akut, koma.

Kontraindikasi
Hindari penggunaan Kaflam pada pasien yang memiliki indikasi:

  • Hipersensitif terhadap diklofenak atau NSAID lainnya.
  • Penggunaan NSAID, antiplatelet, antikoagulan lainnya secara bersamaan.
  • Kehamilan (trimester ke-3).

Interaksi Obat
Berikut adalah beberapa Interaksi obat yang umumnya terjadi saat penggunaan Kaflam :

  • Peningkatan risiko ulserasi gastrointestinal, perforasi atau perdarahan dengan kortikosteroid lain.
  • Peningkatan risiko efek samping terkait dengan glikosida jantung.
  • Peningkatan risiko hiperkalemia dan toksisitas ginjal dengan inhibitor ACE, diuretik, siklosporin, tacrolimus.
  • Peningkatan risiko toksisitas hematologis dengan Azitromicin.
  • Peningkatan kadar dan risiko toksisitas dengan digoksin, litium, metotreksat, pemetrexed, fenitoin.

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Kaflam ke dalam Kategori C:
Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.