Obat Antibiotik

Netfad

Klikdokter, 08 Apr 2021

Ditinjau Oleh Tim Apoteker Klikdokter

Netfad merupakan sediaan obat dalam bentuk kapsul yang diproduksi oleh Coronet Crown Indonesia.

Pengertian

Netfad adalah sediaan obat dalam bentuk kapsul yang diproduksi oleh Coronet Crown. Netfad digunakan untuk mengobati berbagai macam infeksi bakteri, seperti infeksi saluran pernafasan, infeksi saluran kemih, infeksi tenggorokan, dan infeksi kulit. Setiap kapsul Netfad mengandung Cefadroxil monohydrate 500 mg.

Keterangan

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Antibiotik Golongan Sefalosporin
  • Kandungan: Cefadroxil monohydrate 500 mg
  • Bentuk: Kapsul 
  • Satuan Penjualan: Strip
  • Kemasan: Strip @ 10 Kapsul
  • Farmasi: Coronet Crown
  • Harga: Rp60.000 - Rp100.000/ Strip

Kegunaan

Netfad digunakan untuk mengobati berbagai macam infeksi bakteri, seperti infeksi saluran pernafasan, infeksi saluran kemih, infeksi tenggorokan, dan infeksi kulit.

Dosis & Cara Penggunaan

Netfad merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras, sehingga pada setiap pembeliannya harus menggunakan resep dokter. Selain itu, dosis penggunaan netfad juga harus dikonsultasikan dengan dokter dan apoteker terlebih dahulu sebelum digunakan, karena dosis penggunaannya berbeda-beda setiap individu tergantung berat tidaknya penyakit yang diderita.

  1. Dewasa
    • Dosis lazim: 1-2 g per hari dalam 2 dosis terbagi tiap 12 jam atau 1 x perhari.
    • Infeksi Saluran Kemih bagian bawah tak terkomplikasi (sistitis) : 1-2 g per hari sebagai dosis tunggal atau dalam 2 dosis terbagi.
    • Infeksi Saluran Kemih lain : 2 g per hari sebagai dosis tunggal atau dalam 2 dosis terbagi.
    • Infeksi kulit dan jaringan lunak : 1 g per hari sebagai dosis tunggal atau dalam 2 dosis terbagi.
    • Infeksi saluran napas atas dan bawah : Infeksi ringan 1 g per hari dalam 2 dosis terbagi.
    • Infeksi sedang s/d berat : 1-2 g per hari dalam 2 dosis terbagi.
    • Peradangan Tenggorokan (Faringitis) dan amandel (tonsilitis) karena infeksi streptokokus β hemolitikus grup A : 1 g per hari dalam2 dosis terbagi selama 10 hari
  2. Anak
    • Dosis: 25-50 mg/kg berat badan/hari dalam 2 dosis terbagi.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu antara 20-25 derajat Celcius.

Efek Samping

Efek samping penggunaan Netfad yang mungkin terjadi adalah:

  • Mual, muntah
  • Diare
  • Ketidaknyamanan pada perut, seperti kembung dan nyeri (dispepsia), rasa tidak enak pada perut
  • Ruam kulit, gatal (pruritus), biduran (urtikaria), pembengkakan di bawah kulit (angioedema)
  • Jumlah neutrofil rendah didalam darah (neutropenia reversibel)
  • Rendahnya jumlah sel darah putih (leukopenia)
  • Sedikit peningkatan kadar transaminase serum

Overdosis

  • Gejala: Mual, halusinasi, kesadaran kabur, atau bahkan koma dan gangguan fungsi ginjal.
  • Penatalaksanaan: Induksi muntah sekaligus atau lavage lambung; hemodialisis (tindakan cuci darah) jika diperlukan. 

Kontraindikasi 
Hindari penggunaan pada pasien dengan kondisi:

  • Reaksi berlebih atau alergi (Hipersensitif) terhadap sefalosporin.
  • Pasien dengan riwayat hipersensitivitas terhadap penisilin.
  • Hentikan penggunaan jika terjadi reaksi alergi, selanjutnya pasien harus diobati dengan presor amin, kortikosteroid dan atau antihistamin.
  • Pasien dengan gangguan fungsi ginjal.

Interaksi Obat
Hindari penggunaan Netfad bersamaan dengan obat-obat berikut:

  • Antibiotik bakteriostatik (misalnya tetrasiklin, eritromisin, sulfonamida, kloramfenikol)
  • Antibiotik aminoglikosida
  • Polimiksin B
  • Kolistin
  • Diuretik loop dosis tinggi.
  • Antikoagulan
  • Dapat mengurangi efek terapeutik BCG, vaksin tifoid, dan Na picosulfate
  • Kontrasepsi oral
  • Probenesid
  • Kolestiramin

Kategori Kehamilan 
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan netfad ke dalam Kategori B
Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).