Sukses

Pengertian Nilatika

Nilantika merupakan obat berbentuk tablet yang di produksi oleh Nicholas Lab Indonesia. Obat ini mengandung metoclopramide HCl yang di indikasikan untuk mengobati gangguan fungsi pencernaan. Metoclopramide bekerja dengan meningkatkan pergerakan dan pengosongan lambung, tanpa merangsang pengeluaran cairan lambung.

Keterangan Nilatika

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Antiemetik / Regulator GIT, Antiflatulen dan Antiinflamasi
  • Kandungan: Metoclopramide HCl 10 mg
  • Bentuk: Tablet
  • Satuan Penjualan: Strip
  • Kemasan: Strip @ 10 Tablet
  • Farmasi: Nicholas Lab Indonesia

Kegunaan Nilatika

Nilatika mengatasi mual dan muntah, mengatasi mual dan muntah pasca tindakan pembedahan atau radiasi.

Dosis & Cara Penggunaan Nilatika

Nilatika merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembelian nya harus menggunakan resep dokter. Selain itu, dosis penggunaan Nilatika juga harus dikonsultasikan dengan dokter dan apoteker terlebih dahulu sebelum digunakan, karena dosis penggunaan nya berbeda-beda setiap individu tergantung berat tidaknya penyakit yang diderita.

  • Dewasa: 1 tablet 3 x sehari. Durasi maksimum: 5 hari.
  • Anak Usia 6- 12 tahun :0.5 mg/kgBB per hari dalam 2 dosis terbagi

Efek Samping Nilatika

Efek samping mungkin terjadi selama penggunaan nilatika adalah gejala ekstrapiramidal (biasanya reaksi distonik akut), tardive dyskinesia (gerakan yang tidak terkendali pada lidah, bibir, dan wajah), gelisah, kantuk, pusing, gelisah, bingung, gemetar, hipotensi, hipertensi, gangguan saluran pencernaan, angguan penglihatan, sakit kepala, reaksi hipersensitivitas (ruam, bronkospasme, angioedema).

Kontraindikasi:
Tidak boleh di berikan pada penderita perdarahan saluran pencernaan, riwayat diskinesia tardive yang diinduksi oleh neuroleptik atau metoklopramid; epilepsi, penyakit Parkinson. Tidak boleh di gunakan bersama dengan levodopa atau agonis dopaminergik.

Interaksi Obat:

  • Efek antagonistik jika di gunakan bersamaan dengan antikolinergik dan turunan morfin.
  • Potensiasi efek sedatif jika di gunakan bersamaan dengan depresan sistem saraf pusat.
  • Efek aditif jika di gunakan bersamaan dengan neuroleptik lain pada terjadinya kelainan ekstrapiramydal.
  • Dapat meningkatkan risiko sindrom serotonin jika di gunakan bersamaan dengan obat serotonergik (misalnya: SSRI).
  • Dapat menurunkan bioavailabilitas digoxin. Dapat meningkatkan bioavailabilitas siklosporin.
  • Dapat memperpanjang efek pemblokiran neuromuskuler mivacurium dan suxamethonium.
  • Meningkatkan level paparan jika di gunakan bersamaan dengan penghambat CYP2D6 yang kuat (misalnya: Fluoxetine).
  • Dapat mengurangi konsentrasi atovaquone dalam plasma.
  • Berpotensi Fatal: Efek antagonistik timbal jika di gunakan bersamaan dengan levodopa atau agonis dopaminergik.

Kategori Kehamilan:
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Nilatika ke dalam Kategori B
Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).

Artikel
    Penyakit Terkait