Sukses

Pengertian Menin

Menin adalah produk obat dengan bentuk sediaan kaplet yang diproduksi oleh Pharos Indonesia. Menin mengandung zat aktif Asam Mefenamat yang bekerja dengan cara menghasilkan tingkat penurunan sintesis prostaglandin, sehingga dapat menunjukkan sifat analgesik (meringankan nyeri), anti-inflamasi dan antipiretik (meredakan demam). Menin digunakan untuk mengurangi rasa nyeri, seperti nyeri gigi, akit kepala, menoragia (haid berlebihan), nyeri ringan hingga sedang, osteoartritis, nyeri dan peradangan yang terkait dengan gangguan muskuloskeletal dan persendian, nyeri pasca operasi, dismenorea primer (nyeri haid), dan rheumatoid arthritis (peradangan dan nyeri sendi).

Keterangan Menin

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Anti Inflamasi Non Steroid (AINS)
  • Kandungan: Asam Mefenamat 500 mg
  • Bentuk: Kaplet Salut Selaput
  • Satuan Penjualan: Strip
  • Kemasan: Box, 3 Strip @ 10 Kaplet
  • Farmasi: Pharos Indonesia

Kegunaan Menin

Menin digunakan sebagai obat antiinflamasi (meredakan peradangan dan rasa nyeri).

Dosis & Cara Penggunaan Menin

Menin termasuk dalam golongan Obat Keras, maka dari itu penggunaan obat ini harus dengan anjuran resep dokter:

  • Dewasa: diminum 3 kali sehari 1 kaplet.
  • Anak usia ≥14 tahun: Sama dengan dosis orang dewasa.
  • Lansia: Mulailah dengan dosis yang lebih rendah dan durasi sesingkat mungkin. Diminum sesudah makan.

Cara Penyimpanan
Simpan di bawah suhu 30°C.

Efek Samping Menin

Efek samping yang mungkin terjadi selama penggunaan Menin, antara lain:

  • Reaksi anafilaktoid, retensi cairan, anemia, hiperkalemia.
  • Diare, mual, muntah, sakit perut, perut kembung, sembelit, pencernaan yg terganggu, mulas, mag.
  • Gangguan telinga dan labirin: Tinnitus.
  • Peningkatan enzim hati.
  • Gugup, susah tidur, kebingungan, depresi.
  • Asma.
  • Gangguan kulit dan jaringan subkutan: Pruritus, urtikaria, ruam, eritema multiforme.

Kontraindikasi
Hindari penggunaan Menin pada pasien yang memiliki indikasi:

  • Hipersensitif.
  • Pasien dengan riwayat aktif atau riwayat ulkus peptikum / perdarahan berulang, riwayat perdarahan atau perforasi gastrointestinal (terkait dengan terapi NSAID sebelumnya), penyakit radang usus.
  • Gagal jantung berat.
  • Riwayat asma, bronkospasme, rinitis, angioedema, urtikaria atau tipe alergi reaksi setelah minum aspirin atau NSAID lainnya.
  • Pengobatan nyeri perioperatif dalam pengaturan operasi CABG.
  • Ginjal (CrCl <30 mL / mnt) dan gangguan hati berat.
  • Kehamilan (trimester ketiga).

Interaksi Obat
Berikut adalah beberapa interaksi obat yang umumnya terjadi saat penggunaan Menin:

  • Dapat meningkatkan risiko perdarahan dengan AINS atau salisilat lain (misalnya Aspirin), antikoagulan (misalnya Warfarin), kortikosteroid, SSRI.
  • Meningkatkan risiko nefrotoksisitas siklosporin atau tacrolimus. Dapat menurunkan kemanjuran agen antihipertensi (misalnya ACE inhibitor, antagonis angiotensin II, ß-blocker).
  • Penurunan efek natriuretik diuretik (misalnya Furosemide, hydrochlorothiazide).
  • Peningkatan kadar plasma dan penurunan pembersihan lithium pada ginjal.
  • Peningkatan konsentrasi serum digoxin dan metotreksat.

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengategorikan Menin ke dalam Kategori C,D:

  1. Kategori C:
    Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.
  2. Kategori D:
    Ada bukti positif risiko pada janin manusia, tetapi manfaat obat jika digunakan pada wanita hamil dapat diterima meskipun ada risiko (misalnya, jika obat tersebut diperlukan dalam situasi yang mengancam jiwa atau untuk penyakit serius dimana obat-obatan yang lebih aman tidak dapat digunakan atau tidak efektif).

Overdosis

  • Gejala overdosis Menin: lesu, mengantuk, sakit kepala, mual, muntah, nyeri epigastrium, perdarahan saluran cerna. Jarang terjadi: diare, disorientasi, eksitasi, tinitus, pingsan, hipertensi, gagal ginjal akut, depresi pernapasan, dan koma.
  • Jika terjadi overdosis, berikan pengobatan simtomatik dan suportif (oleh tenaga medis). Berikan arang aktif atau pertimbangkan emesis dalam waktu 4 jam setelah terjadi overdosis.
Artikel
    Penyakit Terkait