Sukses

Pengertian Lexacorton

Lexacorton adalah sediaan krim yang mengandung Hydrocortisone acetate. Lexacorton diindikasikan untuk pasien yang terkena penyakit kulit yang meradang seperti eksim, inflamasi (peradangan), gatal-gatal dan penyakit kulit lainnya yang diakibatkan oleh alergi.

Keterangan Lexacorton

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Kortikosteroid
  • Kandungan: Hydrocortisone acetate 2.5 %
  • Bentuk: Krim
  • Satuan Penjualan: Tube
  • Kemasan: Box, Tube @ 5 gram
  • Farmasi: Molex Ayus
  • Harga: Rp. 6.000 - Rp. 15.000/ Tube

Kegunaan Lexacorton

Lexacorton digunakan untuk pasien yang terkena penyakit kulit yang meradang, seperti eksim, inflamasi (peradangan), gatal-gatal, dan penyakit kulit lainnya yang diakibatkan oleh alergi.

Dosis & Cara Penggunaan Lexacorton

Lexacorton merupakan golongan obat keras. Obat ini memerlukan resep dokter untuk pembelian serta penggunaannya.

Aturan penggunaan: Oleskan Lexacorton ke area yang sakit sebanyak 1-2 x sehari.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu antara 15-30 derajat Celcius.

Efek Samping Lexacorton

Efek Samping yang mungkin terjadi adalah:

  • Iritasi lokal
  • Folikulitis (peradangan yang terjadi pada folikel rambut)
  • Hipertrikosis (pertumbuhan rambut yang tidak normal)

Kontraindikasi
Hindari penggunaan pada pasien dengan kondisi:

  • Pasien yang terindikasi infeksi virus/jamur
  • Pasien yang memiliki riwayat hipersensitif terhadap hidrokortison

Interaksi Obat

  • Tiazid dapat meningkatkan efek hiperglikemia dan hipokalemia yang disebabkan oleh kortikosteroid.
  • Meningkatkan perdarahan saluran pencernaan jika digunakan bersamaan dengan obat anti inflamasi non steroid.
  • Etanol dapat meningkatkan iritasi mukosa lambung. Mengurangi kemanjuran dengan penggunaan bersamaan dari carbamazepine, phenytoin, primidone, barbiturat dan rifampisin.

Kategori Kehamilan
Menurut FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) mengkategorikan Lexacorton ke dalam kategori C dengan penjelasan sebagai berikut:

Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.

Artikel
    Penyakit Terkait