Sukses

Pengertian Lexacort

Lexacort adalah obat yang diproduksi oleh PT. Molex Ayus. Obat ini mengandung Prednisone yang diindikasikan untuk penyakit yang memerlukan pengobatan kortikosteroid seperti rematik. Digunakan juga untuk mengobati alergi, peradangan, terapi tambahan pada pneumonia Pneumocystis (carinii) jirovecii, asma akut, TB paru stadium lanjut, purpura trombositopenik idiopatik (jumlah trombosit di dalam darah tidak cukup), eksaserbasi akut pada sklerosis multipel. Obat ini bekerja dengan cara Prednison mengurangi peradangan melalui penghambatan migrasi leukosit polimorfonuklear dan meningkatkan permeabilitas kapiler. Sehingga menekan sistem kekebalan tubuh dengan mengurangi aktivitas dan volume sistem limfatik.

Keterangan Lexacort

  1. Lexacort Tablet
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Hormon Kortikosteroid
    • Kandungan: Prednisone 5 mg
    • Bentuk: Tablet
    • Satuan Penjualan: Strip
    • Kemasan: Box, 10 Strip @ 10 Tablet
    • Farmasi: PT. Molex Ayus
    • Harga: Rp. 1.500 - Rp. 5.000/ Strip
  2. Lexacort Krim
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Hormon Kortikosteroid
    • Kandungan: Prednisone 2.5 %
    • Bentuk: Krim
    • Satuan Penjualan: Tube
    • Kemasan: Box, 24 Tube @ 5 gram
    • Farmasi: PT. Molex Ayus
    • Harga: Rp. 1.500 - Rp. 5.000/ Strip

Kegunaan Lexacort

Lexacort digunakan untuk mengobati alergi, peradangan, terapi tambahan pada pneumonia Pneumocystis (carinii) jirovecii, asma akut, TB paru stadium lanjut, purpura trombositopenik idiopatik (jumlah trombosit di dalam darah tidak cukup), eksaserbasi akut pada sklerosis multipel.

Dosis & Cara Penggunaan Lexacort

Lexacort merupakan golongan obat keras. Obat ini memerlukan resep dokter untuk pembelian serta penggunaannya.

  1. Lexacort Tablet
    • Aturan minum: 1-4 tablet perhari.
  2. Lexacort Krim
    • Oleskan pada bagian yang sakit sebanyak 1-2 kali sehari.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu antara 15-30 derajat Celcius.

Efek Samping Lexacort

Efek samping yang mungkin timbul adalah:

  • Leukositosis (jumlah sel darah putih terlalu banyak) sedang
  • Eosinopoenia (jumlah sel eosinofil sedikit)
  • Polisitemia (gangguan pada sumsum tulang)
  • Limfopoenia
  • Insomnia
  • Sakit kepala
  • Peningkatan kepekaan dan keparahan infeksi
  • Peningkatan berat badan
  • Peningkatan nafsu makan
  • Hiperkolesterolemia (kolesterol dalam darah yang berlebih)
  • Atrofi dan kelemahan otot
  • Efek okular (misalnya katarak subkapsular, glaukoma, infeksi mata)
  • Gangguan kejiwaan (gangguan kejiwaan) misalnya depresi, euforia (rasa senang yang berlebih), insomnia, perubahan suasana hati, perubahan kepribadian)


Kontraindikasi
Hindari penggunaan pada pasien dengan kondisi:

  • Infeksi jamur sistemik
  • Pemberian bersamaan dengan vaksin hidup atau yang dilemahkan (pada pasien yang menerima dosis imunosupresif)


Interaksi Obat

  • Dapat meningkatkan efek glikosida jantung dan siklofosfamid
  • Peningkatan ekskresi K dengan saluretik / pencahar
  • Dapat mengurangi efek hipoglikemik agen antidiabetik
  • Dapat mengubah efek antikoagulan kumarin
  • Peningkatan risiko perdarahan saluran pencernaan dengan NSAID.
  • Dapat memperpanjang relaksasi otot dengan pelumpuh otot non-depolarisasi.
  • Peningkatan tekanan intraokular dengan atropin dan antikolinergik lainnya.
  • Berpotensi Fatal: Dapat mengurangi respons vaksin hidup atau yang dilemahkan.


Kategori Kehamilan
Kategori C: Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.

Artikel
    Penyakit Terkait