Sukses

Pengertian Levonic

Levonic adalah obat yang mengandung Levofloxacin sebagai zat aktifnya. Levonic digunakan untuk mengobati sinusitis bakteri akut, pneumonia komunitas, pengobatan dan profilaksis pasca pajanan antrax, pielonefritis (infeksi pada ginjal), eksaserbasi bakteri akut bronkitis kronis, prostatitis (peradangan pada kelenjar prostat) bakteri akut, infeksi saluran kemih dengan komplikasi dan infeksi saluran kemih tanpa komplikasi. Levonic merupakan antibiotik golongan kuinolon yang bekerja dengan menghambat replikasi DNA bakteri sehingga pertumbuhan bakteri terhambat. Levonic tersedia dalam sediaan tablet dan larutan infus.

Keterangan Levonic

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Antibiotik Kuinolon
  • Kandungan: Levofloxacin 500 mg/100 mL
  • Bentuk: Infus
  • Satuan Penjualan: Vial
  • Kemasan: Box, Vial @ 100 mL
  • Farmasi: Nicholas Lab Indonesia.

Kegunaan Levonic

Levonic digunakan sebagai terapi pengobatan untuk pneumonia atau infeksi paru-paru, bronkitis kronik eksaserbasi akut, sinusitis aku, infeksi kulit dan struktur kulit, infeksi saluran kemih, prostatitis bakterialis kronik, demam tifoid.

Dosis & Cara Penggunaan Levonic

Levonic merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembeliannya harus menggunakan resep dokter. Selain itu, dosis penggunaan Levonic juga harus dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu sebelum digunakan, karena dosis penggunaannya berbeda-beda setiap individu. Penggunaan Levonic injeksi harus dilakukan oleh tenaga medis

Levonic Injeksi:
Dosis Umum: 250 - 750 mg 1 kali sehari. selama 7-10 hari.

Cara Penyimpanan:
Simpan pada suhu di bawah 25°C.

Efek Samping Levonic

Efek Samping yang mungkin timbul adalah:

  • Artralgia (nyeri sendi).
  • Efek saluran pencernaan (misalnya mual, diare, konstipasi).
    Sakit kepala, insomnia, pusing, tendinitis (peradangan pada tendon), 3. Hipoglikemia (kadar gula darah rendah) atau hiperglikemia (kadar gula darah tinggi).
  • Artritis (radang sendi).
  • Demam, penurunan penglihatan sementara, terbakar pada mata, nyeri, kering, gatal atau tidak nyaman.
  • Berpotensi Fatal: Hipersensitivitas dan / atau reaksi anafilaksis, hepatotoksisitas berat termasuk hepatitis, diare dan kolitis yang terinfeksi Clostridium difficile.

Kontraindikasi:
Hipersensitif terhadap levofloksasin atau kuinolon lainnya.

Interaksi obat:

  • Efek aditif dapat memperpanjang interval QT bersama kelas IA (misalnya Quinidine, procainamide) atau kelas III (amiodarone, sotalol) antiaritmia, fluoxetine atau imipramine.
  • Peningkatan risiko gangguan tendon berat dengan kortikosteroid. Meningkatnya risiko stimulasi dan kejang SSP bersama obat golongan anti inflamasi non steroid.
  • Perubahan kadar glukosa dengan agen antidiabetes (misalnya Insulin, glibenclamide).
  • Pengurangan penyerapan dengan sukralfat, ddI, antasid yang mengandung Mg atau Al, suplemen makanan yang mengandung Zn, Ca, Mg atau Fe.
  • Peningkatan waktu protrombin bersama warfarin.

Kategori kehamilan:
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengategorikan Levonic ke dalam Kategori C:
Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.

Artikel
    Penyakit Terkait