Sukses

Pengertian Levoben

Levoben adalah obat yang diproduksi oleh PT. Mersifarma Tirmaku Mercusana. Obat ini mengandung Benserazide dan Levodopa yang diindikasikan untuk semua jenis sindrom Parkinson dengan fluktuasi, kecuali parkinsonisme yang diinduksi obat; mengendalikan gejala nokturnal. Levodopa merupakan prekursor metabolisme dopamin, yang membantu mengontrol gerakan. Benserazide dapat mengurangi efek samping perifer seperti mual dan muntah.

Keterangan Levoben

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Antiparkinson
  • Kandungan: Benserazide 25 mg dan Levodopa 100 mg
  • Bentuk: Tablet Salut Selaput
  • Satuan Penjualan: Botol
  • Kemasan: Box, Botol Plastik @ 30 Tablet
  • Farmasi: PT. Mersifarma Tirmaku Mercusana
  • Harga: Rp. 50.000 - Rp. 80.000/ Strip

Kegunaan Levoben

Levoben digunakan untuk semua jenis sindrom Parkinson dengan fluktuasi, kecuali parkinsonisme yang diinduksi obat; mengendalikan gejala nokturnal.

Dosis & Cara Penggunaan Levoben

Levoben merupakan golongan obat keras. Obat ini memerlukan resep dokter untuk pembelian serta penggunaannya.

  1. Dewasa
    • Dosis awal: ½ tablet, diminum 3-4 kali sehari. Kemudian tingkatkan dosis menjadi 1 tablet diminum 1-2 kali seminggu sesuai dengan respons.
  2. Lansia
    • Dosis awal: ½ tablet, diminum 1-2 kali sehari. Kemudian tingkatkan dosis ½ tablet setiap 3 atau 4 hari sesudahnya.
  3. Stadium penyakit lanjut
    • Dosis awal: 1 tablet, diminum 3 kali sehari.
    • Dosis pemeliharaan: dosis 400-800 mg dalam dosis terbagi.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu antara 15-30 derajat Celcius.

Efek Samping Levoben

Efek samping yang mungkin terjadi adalah:

  • Mual, muntah
  • Anoreksia (gangguan makan)
  • Hipotensi ortostatik (penurunan tekanan darah secara tiba-tiba)
  • Aritmia jantung (gangguan irama jantung)
  • Agitasi (kesal dan gelisah)
  • Kecemasan
  • Euforia (perasaan gembira yang berlebihan)
  • Mimpi buruk
  • Susah tidur
  • Kantuk dan depresi

Overdosis

  • Tanda dan gejala mungkin termasuk mual, muntah, insomnia, kebingungan, gangguan irama jantung, dan gerakan tak terkendali yang abnormal.
  • Pantau tanda-tanda vital dan berikan perawatan suportif dan simptomatik. Penanganan pasien overdosis hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis profesional.

Kontraindikasi
Hindari penggunaan pada pasien dengan kondisi:

  • Glaukoma sudut sempit
  • Psikosis
  • Gangguan endokrin, ginjal, hati, paru dan jantung
  • Osteomalacia (tulang rapuh)
  • Riwayat ulserasi peptikum (kerusakan pada lapisan mukosa, submukosa sampai lapisan otot saluran cerna)
  • Pasien dengan lesi kulit mencurigakan yang tidak terdiagnosis atau riwayat melanoma (kanker kulit)
  • Penggunaan bersamaan dengan amina simpatomimetik atau MAOI
  • Pasien yang berusia < 25 tahun
  • Kehamilan dan menyusui

Kategori Kehamilan
Kategori C: Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.

Artikel
    Penyakit Terkait