Sukses

Pengertian Latorec

Latorec adalah obat yang mengandung Ketorolac Trometamin dan diproduksi oleh Futamed Pharmaceuticals. Latorec diindikasikan sebagai perawatan nyeri pasca operasi sedang sampai dengan berat. Obat ini termasuk dalam golongan obat antiinflamasi non- steroid (OAINS). Obat ini bekerja dengan cara menghambat enzim-enzim penyebab inflamasi, sehingga efek ini membantu mengurangi pembengkakan, rasa sakit, atau demam. Latorec sebaiknya tidak digunakan untuk kondisi nyeri ringan atau jangka panjang (seperti radang sendi).

Keterangan Latorec

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Obat Anti Inflamasi Non Steroid
  • Kandungan: Ketorolac Trometamin 10 mg
  • Bentuk: Tablet Salut Selaput
  • Satuan Penjualan: Strip
  • Kemasan: Strip @ 10 Tablet
  • Farmasi: Futamed Pharmaceuticals
  • Harga: Rp. 60.000 - Rp. 90.000/ Strip

Kegunaan Latorec

Latorec digunakan untuk perawatan nyeri pasca operasi sedang sampai dengan berat.

Dosis & Cara Penggunaan Latorec

Obat ini termasuk dalam golongan obat keras, maka dari itu penggunaan obat ini harus dengan anjuran dan resep dokter. Aturan penggunaan:

  • Dewasa: 1 tablet diberikan tiap 4-6 jam. Dosis maksimal harian: 4 tablet.
  • Lansia usia > 65 tahun: Dosis terendah diberikan tiap 6-8 jam. Durasi pengobatan maksimal: 7 hari.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu antara 20-25 derajat Celcius.

Efek Samping Latorec

Efek samping yang mungkin terjadi selama pengunaan Latorec, yaitu:

  • Mengantuk
  • Pusing, sakit kepala
  • Perubahan mental dan sensorik
  • Mulut kering
  • Haus
  • Demam
  • Kejang
  • Nyeri otot
  • Hiponatremia(kadar natrium dalam darah kurang)
  • Hiperkalemia (kadar kalium dalam darah berlebih)
  • Frekuensi atau retensi urin
  • Sindrom nefrotik (ginjal mengeluarkan protein berlebih dalam urin)
  • Nyeri panggul dengan atau tanpa hematuria
  • Purpura (peradangan pembuluh darah pada kulit)

Overdosis

  • Gejala: Mual, muntah, sakit kepala, nyeri uluhati, perdarahan saluran pencernaan, lesu, mengantuk, reaksi anafilaktoid. Jarang, hipertensi, gagal ginjal akut, depresi pernapasan, dan koma.
  • Penatalaksanaan: Pengobatan simtomatik dan suportif. Pertimbangkan tindakan induksi muntah atau pemberian arang aktif dan / atau katarsis osmotik dalam 4 jam setelah menelan dengan gejala atau setelah overdosis oral yang besar. Penanganan pasien overdosis hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis profesional.

Kontraindikasi
Hindari penggunaan Latorec pada pasien yang memiliki indikasi:

  • Hipersensitif terhadap ketorolak, aspirin, atau obat anti inflamasi non steroid lainnya.
  • Tidak digunakan sebagai analgesik profilaksis sebelum operasi dan untuk penggunaan intraoperatif.
  • Pasien dengan riwayat asma, pasien yang di diagnosis atau riwayat penyakit ulkus peptikum.
  • Pengobatan nyeri perioperatif dalam pengaturan operasi CABG.
  • Gangguan ginjal sedang sampai berat.
  • Penggunaan bersamaan dengan probenecid, litium, pentoxifylline, antikoagulan, aspirin atau obat anti inflamasi non steroid lainnya.

Interaksi Obat
Berikut adalah beberapa obat yang tidak boleh diberikan bersamaan dengan Latorec:

  • Probenesid
  • Litium
  • Oxpentifylline
  • Obat NSAID lain
  • Furosemid
  • Digoksin
  • Penghambat ACE
  • Metotreksat

Kategori Kehamilan
Menurut FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) mengkategorikan Latorec ke dalam Kategori C dengan penjelasan sebagai berikut:

Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.

Perhatian Menyusui
Latorec terserap kedalam ASI dengan berbagai dosis; dan tidak boleh dikonsumsi oleh ibu menyusui.

Artikel
    Penyakit Terkait