Sukses

Pengertian Lantus Solostar

Lantus Solostar adalah preparat insulin yang diproduksi oleh Aventis Indonesia Pharma. Lantus Solostar mengandung Insulin Glargine yang digunakan untuk mengontrol kadar gula darah pada penderita diabetes melitus. Lantus termasuk dalam Long-Acting Insulin (mencapai aliran darah beberapa jam setelah injeksi dan cenderung menurunkan kadar glukosa hingga 24 jam atau lebih). Selama penggunaan Lantus Solostar, pasien dianjurkan untuk melakukan pola diet yang tepat dan latihan fisik agar kadar gula darah dapat terkontrol dengan baik.

Keterangan Lantus Solostar

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Preparat Insulin
  • Kandungan: Insulin Glargine 100 UI/ mL
  • Bentuk: Cairan Injeksi
  • Satuan Penjualan: Solostar Pen
  • Kemasan: Solostar Pen @ 3 mL
  • Farmasi: Aventis Indonesia Pharma
  • Harga: Rp. 250.000 - Rp. 350.000/ Pcs

Kegunaan Lantus Solostar

Lantus Solostar digunakan untuk mengontrol kadar gula darah pada penderita diabetes melitus pada orang dewasa, remaja dan anak usia > 2 tahun.

Dosis & Cara Penggunaan Lantus Solostar

Lantus Solostar termasuk ke dalam golongan Obat Keras, sehingga pada setiap pembelian nya harus menggunakan resep Dokter.

Dosis bersifat individual, diberikan melalui injeksi subkutan (melalui bawah kulit). Lantus Solostar diberikan sekali sehari pada waktu yang sama setiap harinya.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu antara 2-8 derajat Celcius, serta terhindar dari cahaya. Jangan dibekukan

Efek Samping Lantus Solostar

Efek samping yang mungkin timbul adalah:

  • Hipoglikemia (kadar gula darah kurang dari normal)
  • Gangguan penglihatan sementara
  • Reaksi di tempat injeksi
  • Reaksi alergi

Overdosis

  • Gejala: hipoglikemia (kadar gula darah kurang dari normal) yang parah dan terkadang jangka panjang dan mengancam jiwa.
  • Penatalaksanaan: Hipoglikemia ringan biasanya dapat diobati dengan karbohidrat oral. Penyesuaian dosis produk obat, pola makan, atau aktivitas fisik mungkin diperlukan. Pada kasus yang lebih parah dan menyebabkan koma, kejang, atau gangguan neurologis dapat diobati dengan glukagon intramuskular / subkutan atau glukosa intravena pekat. Asupan karbohidrat yang berkelanjutan dan observasi mungkin diperlukan karena hipoglikemia dapat kambuh setelah pemulihan klinis.

Kontraindikasi

  • Tidak boleh diberikan pada pasien yang hipoglikemia.
  • Tidak boleh diberikan secara Intravena.

Interaksi Obat

  • Antidiabetik oral, inhibitor ACE, disopyramide, fibrat, fluoxetine, MAOIs, pentoxifylline, propoxyphene, antibiotik salisilat, dan sulfonamide dapat meningkatkan efek penurun glukosa darah dan meningkatkan kerentanan terhadap hipogilemia.
  • Kortikosteroid, danazol, diazoksida, diuretik, glukagon, INH, estrogen, dan progestogen (misalnya dalam kontrasepsi oral), turunan fenotiazin, somatropin, simpatomimetik (misalnya epinefrin, salbutamol, terbutalin), hormon tiroid, PI & atyphypic (antibiotik) clozapine) dapat mengurangi efek penurun glukosa darah.
  • β-blocker, clonidine, garam lithium atau alkohol dapat mempotensiasi atau melemahkan efek penurun glukosa darah.
  • Pentamidine dapat menyebabkan hipoglikemia, kadang-kadang diikuti oleh hiperglikemia.
  • Tanda-tanda kontra-regulasi adrenergik dapat berkurang atau tidak ada saat digunakan dengan penghambat β, clonidine, guanethidine, reserpin.

Perhatian Menyusui
Tidak diketahui apakah insulin glargine terserap kedalam ASI. Tidak ada efek metabolik dari insulin glargine yang tertelan pada bayi / bayi yang diberi ASI karena insulin glargine sebagai peptida dicerna menjadi asam amino di saluran pencernaan manusia. Wanita menyusui mungkin memerlukan penyesuaian dosis insulin dan diet.

Artikel
    Penyakit Terkait