Sukses

Pengertian Kaotin

Kaotin adalah sediaan obat yang mengandung Kaolin dan pektin. Kaotin termasuk golongan absorben untuk menyerap toksin baik yang berupa gas atau bahan beracun lainnya yang merangsang dari saluran usus, selanjutnya membentuk lapisan pelindung pada dinding usus. Pektin sebagai bahan yang berfungsi untuk menghilangkan hasil pertumbuhan bakteri yang bersifat racun. Kaotin digunakan untuk pengobatan gejala pada diare, karena pencernaan yang tidak normal, dan diare karena penyebab lain yang tidak diketahui secara pasti.

Keterangan Kaotin

  • Golongan: Obat Bebas
  • Kelas Terapi: Antidiare
  • Kandungan: Kaolin dan Pektin.
  • Bentuk: Suspensi.
  • Satuan Penjualan: Botol.
  • Kemasan: Botol 60 mL.
  • Farmasi: Erela
  • Harga: Rp 6.500 - Rp 10.000 / Botol.

Kegunaan Kaotin

Kaotin digunakan untuk mengobati diare yang ringan, serta diare yang tidak diketahui penyebabnya.

Dosis & Cara Penggunaan Kaotin

Aturan penggunaan Kaotin secara umum adalah:

  • Anak-anak di bawah 2 tahun: 4 kali sehari, 1 sendok teh (5 mL).
  • Anak-anak di atas 2 tahun: 4 kali sehari, 2-4 sendok teh (10 mL-20 mL).
  • Dewasa: 4 kali sehari, 2-4 sendok makan (10 mL-20 mL).

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu di bawah 30 derajat Celcius.

Efek Samping Kaotin

Efek samping yang mungkin terjadi selama pengunaan Kaotin, antara lain dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit dengan meningkatkan kehilangan natrium dan kalium dalam tinja, terutama pada orang tua, anak-anak dan diare berat.

Kontraindikasi
Hindari penggunaan Kaotin pada pasien yang memiliki indikasi Penderita dengan hambatan pata usus atau usus tersumbat.

Interaksi Obat
Berikut adalah beberapa Interaksi obat yang umumnya terjadi saat penggunaan Kaotin :
Dapat mengurangi penyerapan sejumlah obat (Tetrasiklin, lincomycin, digoxin, aspirin, kloroquin, hidroksi kloroquin, fenotiazin).

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengategorikan Kaotin ke dalam Kategori B:
Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).

Artikel
    Penyakit Terkait