Sukses

Pengertian Januvia

Januvia merupakan obat yang mengandung Sitagliptin. Januvia digunakan untuk meningkatkan kontrol gula darah terhadap pasien diabetes tipe 2. Januvia dapat dikombinasikan dengan metformin atau thiazolidinediones untuk mengobati diabetes tipe 2 yang tidak cukup dengan terapi tunggal saja.

Keterangan Januvia

  • Golongan: Obat keras
  • Kelas Terapi: Antidiabetik
  • Kandungan: Sitagliptin 50 mg; Sitagliptin 100 mg; Sitagliptin 64.25; Sitagliptin 128.5 mg; 
  • Bentuk: Tablet Salut Selaput
  • Satuan Penjualan: Tablet
  • Kemasan: Box, 2 Strip @ 14 Tablet
  • Farmasi: Merck Sharp & Dohme Indonesia.

Kegunaan Januvia

Januvia digunakan untuk memperbaiki kontrol gula darah pada pasien dengan diabetes melitus tipe 2.

Dosis & Cara Penggunaan Januvia

Januvia termasuk dalam golongan obat keras, penggunaannya harus berdasarkan resep dokter. Umumnya, penggunaan Januvia adalah:

  • Diberikan dosis 100 mg, diminum sekali sehari.
  • Insufisiensi ginjal sedang (CrCl ≥30 - <50 mL / menit): 50 mg 1 kali/hari.
  • Insufisiensi ginjal berat (CrCl <30 mL / menit): 25 mg 1 kali/hari.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu di bawah 30 derajat Celcius.

Efek samping Januvia

Efek samping yang mungkin terjadi adalah sakit kepala, pusing, gangguan pencernaan, muntah, edema perifer (kaki bengkak), infeksi saluran pernapasan atas, gagal ginjal akut, hipoglikemia (kadar glukosa rendah), artralgia (Nyeri Sendi), mialgia (Nyeri Otot), dan nyeri punggung.

Kontraindikasi
Tidak boleh diberikan pada pasien yang hipersensitif terhadap Sitagliptin.

Interaksi Obat
Dapat meningkatan risiko hipoglikemia (Kadar glukosa rendah) bila digunakan bersama dengan sulfonilurea dan insulin.

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Januvia ke dalam Kategori B:
Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).

Artikel
    Penyakit Terkait