Sukses

Pengertian Ikaphen

Ikaphen adalah obat yang mengandung phenytoin sebagai zat aktifnya. Phenytoin digunakan untuk mencegah serangan epilepsi. Terjadinya kejang pada penderita epilepsi disebabkan oleh gangguan pada aktivitas elektrik di dalam otak. Ikaphen bekerja dengan cara menstabilkan aktivitas elektrik tersebut sehingga kejang dapat dicegah. Selain epilepsi, ikaphen juga dapat digunakan untuk mengobati trigeminal neuralgia, yaitu suatu jenis penyakit nyeri saraf yang menyebabkan penderitanya mengalami rasa sakit panas atau menusuk di bagian wajah.

Keterangan Ikaphen

  1. Ikaphen Kapsul
     
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Antikonsulvan
    • Kandungan: Phenytoin Sodium 100 mg
    • Bentuk: Kapsul
    • Satuan Penjualan: Botol
    • Kemasan: Botol @ 100 Kapsul
    • Farmasi: Ikapharmindo Putramas.
  2. Ikaphen Injeksi
    • Golongan: Obat Keras.
    • Kelas Terapi: Antikonvulsan (kejang saraf).
    • Kandungan: Natrium Phenytoin 50 mg/mL.
    • Bentuk: Cairan Injeksi.
    • Satuan Penjualan: Vial.
    • Kemasan: Box, 10 vial @ 2 mL.
    • Farmasi: Ikapharmindo Putramas.

Kegunaan Ikaphen

Ikaphen dapat digunakan untuk mengkontrol serangan epilepsi atau sentakan secara tiba-tiba, dan sebagai obat Antiaritmia.

Dosis & Cara Penggunaan Ikaphen

Ikaphen merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembeliannya harus menggunakan resep dokter. Selain itu, dosis penggunaan ikaphen juga harus dikonsultasikan dengan dokter dan apoteker terlebih dahulu sebelum digunakan, karena dosis penggunaannya berbeda-beda setiap individu. Penggunaan ikaphen injeksi harus dibantu oleh tenaga ahli medis. Aturan penggunaan Ikaphen secara umum adalah:

  1. Ikaphen Kapsul
    • Dewasa: 1 kapsul 3 kali sehari. Pemeliharaan: 3-4 kapsul sehari.
    • Anak: Awal 5 mg/kgBB/hari terbagi dalam 2-3 dosis. Maks: 300 mg/hari. Pemeliharaan: 4-8 mg/kgBB/hari.
  2. Ikaphen Injeksi
    • Status epilepsi: 150-250 mg IV perlahan, diikuti 100-150 mg jika diperlukan.
    • Bedah saraf Profilaksis: 100-200 mg IM tiap 4 jam.

Sebaiknya diberikan bersama makanan. Pada pasien yang mendapat makanan via pipa nasogastrik atau makanan enteral lainnya, selama terapi, pemberian obat harus konsisten dalam hubungannya dengan waktu makan.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu di bawah 25 derajat Celcius, di tempat yang kering.

Efek Samping Ikaphen

Efek samping yang mungkin terjadi adalah:

  • Gerakan pada bola mata menjadi cepat.
  • Gangguan pada koordinasi sistem gerak
  • Nyeri pada kepala
  • Merasa bingung
  • Gangguan tidur
  • Gugup
  • Mual dan muntah
  • Gangguan pada saluran pencernaan
  • Kerusakan hati
  • Berkurangnya thrombosit darah
  • Berkurangnya sel darah putih
  • Kulit wajah menjadi kasar.

Kontraindikasi

  • Tidak dianjurkan bagi pasien yang memiliki riwayat penyakit sinus.
  • Tidak digunakan pada pasien yang memiliki riwayat penyakit bradikardia (denyut jantung lemah).

Interaksi Obat
Berikut adalah beberapa Interaksi obat yang umumnya terjadi saat penggunaan Ikaphen:

  • Meningkatkan level serum dengan agen anti epilepsi (topiramate), azole (ketokonazole), capecitabine, chloramphenicol, chlordiazepoxide, diazepam, disulfiram, oestrogens, fluorouracil, fluoxetine, fluvastatin, fluvoxamine, H2-antagonists (cimetidine), halothane, isoniazid, methylphenidate, omeprazole, phenothiazines, salicylates, sertraline, succinimides, sulfonamides (sulfamethizole), ticlopidine, tolbutamide, trazodone, warfarin.
  • Menurunkan kada serum dengan obat anti kanker, carbamazepine, folic acid, fosamprenavir, nelfinavir, reserpine, ritonavir, sucralfate, vigabatrin, albendazole, certain HIV antivirals (efavirenz), anti-epileptics (quetiapine), atorvastatin, ciclosporin, digoxin, fluvastatin, folic acid, mexiletine, nisoldipine, praziquantel, simvastatin.

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Ikaphen ke dalam Kategori D:
Ada bukti positif risiko pada janin manusia, tetapi manfaat obat jika digunakan pada wanita hamil dapat diterima meskipun ada risiko (misalnya, jika obat tersebut diperlukan dalam situasi yang mengancam jiwa atau untuk penyakit serius dimana obat-obatan yang lebih aman tidak dapat digunakan atau tidak efektif).

Artikel
    Penyakit Terkait