Sukses

Pengertian Haloperidol

Haloperidol adalah obat yang berfungsi untuk membantu mengatasi berbagai masalah kejiwaan, seperti meredakan gejala skizofrenia, sindrom Tourette (mengeluarkan ucapan dan gerakan secara spontan atau tidak bisa mengontrol), mania (suasana hati yang berubah tiba-tiba tanpa sebab yang jelas atau gangguan mental), tic disorder (gangguan kejiwaan) dan masalah psikosis lainnya. Haloperidol bisa mengatasi masalah yang memengaruhi cara berpikir, perasaan, atau perilaku karena Haloperidol Tablet berfungsi menghambat efek kimia di dalam otak.

Keterangan Haloperidol

  1. Haloperidol Tablet
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Antipsikotik
    • Kandungan: Haloperidol 0.5 mg; Haloperidol 1.5 mg; Haloperidol 5 mg
    • Bentuk: Tablet
    • Satuan Penjualan: Strip
    • Kemasan: Box, 10 Strip @ 10 Tablet
    • Farmasi: Harsen; Holi Pharma; Indofarma; Dexa Medica; Mersifarma Tirmaku Mercusana; Yarindo Farmatama.
  2. Haloperidol Injeksi
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Antipsikotik
    • Kandungan: Haloperidol 5 mg/mL
    • Bentuk: Cairan Injeksi
    • Satuan Penjualan: Ampul
    • Kemasan: Box, 12 Ampul @ 1 mL ; Box, 25 Ampul @ 1 mL
    • Farmasi: Dexa Medica; Mersifarma Tirmaku Mercusana.

Merk Dagang yang Beredar di Indonesia
Dores, Govotil, Haldol, Lodomer, Seradol, Serenace, Upsikis.

Kegunaan Haloperidol

Haloperidol digunakan untuk mengatasi gejala skizofrenia dan taurete sindrom.

Dosis & Cara Penggunaan Haloperidol

Haloperidol merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat Psikotropik sehingga pada setiap penggunaan dan pembeliannya harus menggunakan resep Dokter. Aturan penggunaan Haloperidol secara umum adalah:

  • Skizofrenia: Dewasa 0.5 - 5 mg 2 - 3 kali/hari. Dosis pemeliharaan: 3 - 10 mg/hari.
  • Sindrom tourete: Dewasa 0,5 - 5 mg 2-3 kali/hari. Dosis Pemeliharaan: 4 mg / hari. Dosis bisa ditambahkan sesuai dengan kebutuhan pasien, maksimal 30 mg/hari.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu 20-25 derajat Celcius.

Efek Samping Haloperidol

Efek samping yang mungkin terjadi jika mengkonsumsi obat Haloperidol adalah:

  • Terjadi reaksi ekstrapiramidal (hipertonia otot/gemetar)
  • Xerostomia (Mulut kering akibat produksi kelenjar ludah yang berkurang)
  • Gangguan pencernaan (susah buang air besar)
  • Berat badan bertambah.

Overdosis
Penggunaan Haloperidol yang melebihi dosis anjuran dapat menyebabkan gejala seperti reaksi ekstrapiramidal yang parah, hipotensi, dan sedasi. Terkadang koma dengan depresi pernafasan dan hipotensi yang bisa menjadi cukup parah.

Kontraindikasi
Hindari penggunaan Haloperidol pada penderita:

  • Pasien yang mempunyai riwayat hipersensitifitas terhadap haloperidol. 
  • Keadaan koma Interaksi Obat. 
  • Haloperidol jika dikonsumsi bersama dengan amfetamin maka efek terapi dari haloperidol akan diturunkan.
  • Haloperidol jika dikonsumsi bersama dengan efineprin akan menyebabkan hipotensi berat.
  • Parkinsonisme.
  • Haloperidol jika dikonsumsi bersama dengan obat-obat SSP maka, kerja obat dari SSP akan diperkuat oleh haloperidol seperti obat analgesik, barbiturat, dan lain-lain.

Interaksi obat

  • Konsentrasi haloperidol akan berubah jika di berikan bersamaan dengan CYP3A4 dan CYP2D6 inhibitor dan inducers.
  • Dapat meningkatkan konsentrasi plasma antidepresan trisiklik.

Keamanan Kehamilan
Menurut FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat) mengkategorikan Haloperidol ke dalam kategori C dengan penjelasan sebagai berikut:

Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.

Artikel
    Penyakit Terkait