Sukses

Pengertian Fordin

Fordin adalah salah satu nama dagang dari Ranitidine. Fordin terdapat 2 sediaan yaitu, sediaan tablet (oral) dan sediaan injeksi (intravena/intramuskular). Fordin merupakan obat yang digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit yang disebabkan oleh kelebihan produksi asam lambung, seperti sakit maag dan tukak lambung. Ranitidine termasuk golongan antagonis reseptor histamin H2 (histamin H2-receptor antagonist) yang bekerja dengan cara menghambat secara kompetitif kerja reseptor histamin H2, yang sangat berperan dalam sekresi asam lambung. Penghambatan kerja reseptor H2 menyebabkan produksi asam lambung menurun baik dalam kondisi istirahat maupun adanya rangsangan oleh makanan, histamin, pentagastrin, kafein dan insulin. 

Keterangan Fordin

  1. Fordin Tablet
    • Golongan: Obat Keras.
    • Kelas Terapi: Antasid, Antirefluks, dan Antiulceran.
    • Kandungan: Ranitidin 150 mg.
    • Bentuk: Tablet Salut Selaput.
    • Satuan Penjualan: Strip.
    • Kemasan: Strip @10 Tablet.
    • Farmasi: Promedrahardjo Farmasi Industri.
  2. Fordin Injeksi
    • Golongan: Obat Keras.
    • Kelas Terapi: Antasid, Antirefluks, dan Antiulceran.
    • Kandungan: Ranitidin 25 mg/mL.
    • Bentuk: Cairan Injeksi
    • Satuan Penjualan: Vial.
    • Kemasan: Vial 2 mL.
    • Farmasi: Promedrahardjo Farmasi Industri.

Kegunaan Fordin

Fordin digunakan untuk mengobati beberapa kondisi:

  • Untuk mengobati tukak lambung dan tukak usus duabelas jari.
  • Untuk mengobati penyakit maag, obat-obat antagonis H2 seperti Fordin Tablet lebih banyak dipilih dibandingkan antasida, karena durasi kerjanya lebih lama dan efektivitasnya lebih tinggi.
  • Pencegahan tukak lambung yang disebabkan oleh pemakaian obat-obat NSAID.
  • Mengurangi resiko aspirasi pneumonitis pada pasien sebelum menjalani operasi bedah.
  • Gastroesophageal reflux disease (GERD) : suatu penyakit yang disebabkan oleh iritasi oleh asam lambung. Penderita biasanya mengalami sensasi terbakar pada area dada dan kerongkongan.

Dosis & Cara Penggunaan Fordin

Fordin merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembeliannya harus menggunakan resep Dokter. Selain itu, dosis penggunaan Fordin juga harus dikonsultasikan dengan Dokter terlebih dahulu sebelum digunakan, karena dosis penggunaannya berbeda-beda setiap individu tergantung berat tidaknya penyakit yang diderita.

  1. Dosis penggunaan Fordin Tablet:
    • Tukak lambung dan usus duabelas jari (duodenum) : 2 kali sehari 150 mg pada pagi dan malam hari atau 300 mg sebelum tidur. Pencegahan kambuhan : 150 mg sebelum tidur.
    • Hipersekresi lambung : 2 kali sehari 150 mg. pada kasus parah dapat diberikan hingga 6 gram / hari.
    • Gangguan fungsi ginjal dengan klirens creatinin < 50 ml / menit : 150 mg setiap 24 jam. Frekuensi dapat ditingkatkan setiap 12 jam atau lebih sering.
  2. Dosis penggunaan Fordin Injeksi:
    • Intramuskular (melalui otot) : 50 mg/2 mL tiap 6-8 jam tanpa pengenceran..
    • Bolus / infus intermiten intravena (IV) : 50 mg/2 mL tiap 6-8 jam, diencerkan dengan larutan yang sesuai.
    • Penderita gagal ginjal : secara intravena (melalui pembuluh darah)/intramuskular (melalui otot) 50 mg/18-24 jam.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu di bawah 25 derajat Celcius, di tempat kering dan terhindar dari cahaya.

Efek Samping Fordin

Efek samping yang mungkin terjadi pada penggunaan Fordin:

  • Diare dan gangguan saluran cerna lainnya , konstipasi (sulit BAB), nyeri otot, pusing, merasa letih, dan timbul ruam pada kulit.
  • Takikardia (detak jantung mempompa dengan lambat)
  • Bradikardia (detak jantung mempompa dengan cepat)
  • Hipotensi
  • Perpanjangan interval QT
  • Hematologi
  • Demam, menggigil, sakit tenggorokan, mudah memar.

Kontraindikasi
Hindari pengunaan Fordin pada pasien yang memiliki riwayat porphyria (kelainan genetik yang timbul akibat proses pembentukan heme yang tidak sempurna).

Interaksi Obat
Berikut adalah beberapa Interaksi obat yang umumnya terjadi saat penggunaan Fordin:

  • Ranitidine memberi efek antagonis terhadap efek tolazolin.
  • Obat-obat yang bioavailabilitasnya baik dalam kondisi asam seperti ketoconazole, itraconazole, atazanavir, dan ester ampicillin, penyerapannya akan menurun sehingga mengurangi efektivitasnya.
  • Antagonis histamin H2 seperti Fordin Injeksi menurunkan absorpsi sefpodoksim.

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengategorikan Fordin ke dalam Kategori B:
Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).

Overdosis

  • Gejala: Efek samping sementara serupa dengan yang dialami dengan dosis normal, selain itu, kelainan gaya berjalan dan hipotensi.
  • Penatalaksanaan: Pengobatan simtomatik dan suportif dengan pengangkatan obat yang tidak terserap dari saluran pencernaan. Penanganan pasien overdosis hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis profesional.
Artikel
    Penyakit Terkait