Sukses

Pengertian Farlev

Farlev merupakan obat yang mengandung levofloxacin . Levofloxacin merupakan antibiotik golongan kuinolon yang bekerja dengan cara menghambat bakteri topoisomerase IV dan DNA gyrase, enzim yang diperlukan untuk replikasi DNA, perbaikan transkripsi dan rekombinasi. Serta memiliki aktivitas in vitro terhadap berbagai mikroorganisme gram negatif dan gram positif.

Keterangan Farlev

  • Farlev Kaplet 750 mg
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Antibiotik Golongan Kuinolon
    • Kandungan: Levofloxacin Hemihydrate 750 mg
    • Bentuk: Tablet Salut Selaput
    • Satuan Penjualan: Strip
    • Kemasan: Strip @ 10 tablet salut selaput
    • Farmasi: Pratapa Nirmala
  • Farlev Kaplet 500 mg
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Antibiotik Golongan Kuinolon
    • Kandungan: Levofloxacin Hemihydrate 500 mg
    • Bentuk: Tablet Salut Selaput
    • Satuan Penjualan: Strip
    • Kemasan: Strip @ 10 tablet salut selaput
    • Farmasi: Pratapa Nirmala
  • Farlev Vial 150mL
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Antibiotik Golongan Kuinolon
    • Kandungan: Levofloxacin Hemihydrate 500 mg/vial
    • Bentuk: Cairan Injeksi
    • Satuan Penjualan: Vial
    • Kemasan: Vial @ 150 mL
    • Farmasi: Pratapa Nirmala
  • Farlev Vial 100 mL
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Antibiotik Golongan Kuinolon
    • Kandungan: Levofloxacin Hemihydrate 500 mg/vial
    • Bentuk: Cairan Injeksi
    • Satuan Penjualan: Vial
    • Kemasan: Vial @ 100 mL
    • Farmasi: Pratapa Nirmala

Kegunaan Farlev

Farlev digunakan untuk sinusitis bakteri akut, pneumonia komunitas, pengobatan dan profilaksis pascapajanan antrax, pielonefritis (infeksi pada ginjal), prostatitis bakteri akut, infeksi saluran kemih dengan komplikasi dan infeksi saluran kemih tanpa komplikasi, eksaserbasi bakteri akut bronkitis kronis

Dosis & Cara Penggunaan Farlev

Farlev merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembelian nya harus menggunakan resep Dokter. Selain itu, dosis penggunaan farlev juga harus dikonsultasikan dengan Dokter terlebih dahulu sebelum digunakan, karena dosis penggunaan nya berbeda-beda setiap individu tergantung berat tidaknya penyakit yang diderita.

  • Sinusitis Bakteri Akut
    Dewasa: 500 mg 1 x sehari selama 10-14 hari.
  • Pneumonia Komunitas, Infeksi Kulit dan Struktur Kulit
    Dewasa: 500 mg 1 x sehari selama 7-14 hari.
  • Pengobatan dan Profilaksis Pasca Pajanan Antraks
    Dewasa: 500 mg 1 x sehari selama 8 minggu.
    • Anak Usia lebih dari 6 bulan dan BB kurang dari 50 kg: 8 mg / kg 12 jam selama 60 hari (tidak melebihi 250 mg / dosis).
    • Anak Usia lebih dari 6 bulan dan BB lebih dari 50 kg: 500 mg 24 jam selama 60 hari.
  • Pielonefritis
    Dewasa: 500 mg 1 x sehari selama 7-10 hari.
  • Eksaserbasi Bakteri Akut Bronkitis Kronis
    Dewasa: 500 mg1 x sehari selama 7-10 hari.
  • Prostatitis Bakteri kKonis
    Dewasa: 500 mg 1 x sehari selama 28 hari.
  • Infeksi Saluran Kemih dengan Komplikasi
    Dewasa: 500 mg 1 x sehari selama 7-14 hari.
  • Infeksi Saluran Kemih Tanpa Komplikasi
    Dewasa: 250 mg 1 x sehari selama 3 hari.

Efek Samping Farlev

  • Saluran pencernaan (misalnya mual, diare, konstipasi),
  • Sakit kepala
  • Insomnia
  • Pusing
  • Tendinitis (peradangan pada tendon)
  • Reaksi fotosensitifitas / fototoksisitas
  • Artralgia (nyeri sendi)
  • Artritis (radang sendi)
  • Demam
  • Penurunan penglihatan sementara

Kontraindikasi:
Hipersensitif terhadap levofloksasin atau kuinolon lainnya.

Interaksi Obat:

  • Pengurangan penyerapan dengan sukralfat, ddI, antasid yang mengandung Mg atau Al, suplemen makanan yang mengandung Zn, Ca, Mg atau Fe.
  • Perubahan kadar glukosa dengan agen antidiabetes (misal. Insulin, glibenclamide).
  • MeningkatKan risiko gangguan tendon berat dengan kortikosteroid.
  • Meningkatnya risiko stimulasi dan kejang SSP bersama Obat anti inflamasi Non steroid.
  • Peningkatan waktu protrombin bersama warfarin.

Kategori Kehamilan:

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Farlev ke dalam Kategori C: Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.

Artikel
    Penyakit Terkait