Sukses

Pengertian Droxefa

Droxefa adalah sediaan kapsul yang mengandung zat aktif cefadroxil. Obat ini digunakan untuk membantu mengobati berbagai macam infeksi bakteri, seperti: radang tenggorokan, kulit dan infeksi saluran kemih. Droxefa bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan dinding sel bakteri, sehingga menyebabkan kematian bakteri.

Keterangan Droxefa

  • Golongan: Obat Keras
  • Kategori: Antibiotik
  • Kandungan: Cefadroxil 500mg.
  • Bentuk: Kapsul
  • Satuan Penjualan: Strip.
  • Kemasan: Strip @10 Kapsul
  • Farmas: Phapros.

Kegunaan Droxefa

Droxefa digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri.

Dosis & Cara Penggunaan Droxefa

Obat ini termasuk dalam golongan obat keras, maka dari itu pembelian obat ini harus dengan Resep Dokter:

  • Dewasa: 1-2 g sehari dalam 2 dosis terbagi.
  • Infeksi saluran kemih lainnya: 2 g sehari dalam 2 dosis terbagi.
  • Infeksi kulit dan jaringan lunak: 1 g sehari.
  • Infeksi saluran nafas atas dan bawah: 1 g sehari, dapat ditingkatkan sampai 2 g sehari pada infeksi berat.
  • Faringitis dan tonsilitis: 1 g sehari dalam dosis terbagi selama 10 hari.
  • Anak: 25-50 mg/kg berat badan/hari dalam 2 dosis terbagi.

Efek Samping Droxefa

  • Gangguan saluran cerna
  • Hipersensitif
  • Mual dan muntah.

Kontraindikasi
Tidak boleh diberikan kepada pengguna yang memiliki alergi atau hipersensitif terhadap penggunaan cefadroxil.

Interaksi Obat 

  • Jika Anda akan sedang menggunakan vaksin dapat menghambat keefektifan vaksin tifus dan BCG.
  • Jangan mengonsumsi cefadroxil bersamaan dengan antibiotik jenis lainnya, karena keefektifan obat ini bisa terganggu.

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Droxefa ke dalam Kategori B:
Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).

Artikel
    Penyakit Terkait