Sukses

Pengertian Doxorubicin

Doxorubicin adalah obat generik yang digunakan untuk mengobati berbagai macam jenis kanker, seperti leukemia akut, kanker payudara, kanker tulang dan ovarium. Obat kanker ini diberikan dengan cara injeksi (di suntikkan) ke dalam pembuluh darah. Mekanisme kerja dari doxorubicin menghambat enzim topoisomerase II sehingga menghambat proses pembelahan sel kanker dan pembentukan DNA. Obat kanker ini mampu terdistribusi ke dalam jaringan termasuk paru-paru, hati, jantung, limpa dan ginjal. Mampu melintasi plasenta dan bisa memasuki air susu ibu.

Keterangan Doxorubicin

  • Golongan: Obat Keras.
  • Kelas Terapi: Kemoterapi Sitotoksik
  • Kandungan: Doxorubicin 2 mg/ mL
  • Bentuk: Vial.
  • Satuan Penjualan: Vial.
  • Kemasan: Vial @ 5 mL; Vial @ 25 mL
  • Farmasi: Dankos Farma; Sanbe Farma; Global Onkolab Farma; CKD Otto Pharmaceuticals
  • Merk dagang yang beredar di Indonesia: Kemodoxin, Sandobicin, Caelyx, Naprodox, Sindroxocin, Doxotil, Doxorubin 

Kegunaan Doxorubicin

Doxorubicin diindikasikan untuk terapi pengobatan leukemia akut, tumor Wilm, neuroblastoma, sarkoma jaringan lunak dan tulang, kanker payudara, kanker ovarium, kanker kandung kemih (sel transisional), kanker tiroid, kanker paru, kanker lambung, limfoma (kanker kelenjar getah bening).

Dosis & Cara Penggunaan Doxorubicin

Doxorubicin termasuk dalam golongan obat keras sehingga hanya bisa didapatkan dan digunakan berdasarkan resep dokter.

  • Dosis orang dewasa untuk kanker: Ketika digunakan dalam kombinasi dengan obat-obatan kemoterapi lainnya, penggunaan dosis doxorubicin paling umum sebanyak 40-60 mg/m2 di berikan melalui injeksi intravena (pembuluh darah) setiap 21-28 hari. Pilihan lain, 60-75 mg/m2 di berikan melalui injeksi intravena (pembuluh darah) sekali setiap 21 hari. Dosis lebih rendah disarankan pada pasien dengan cadangan sumsum tulang tidak memadai karena usia lanjut, terapi sebelumnya, atau infiltrasi sumsum tulang neoplastik.
  • Dosis orang dewasa untuk multiple myeloma (dalam kombinasi dengan agen kemoterapi lainnya sebagai bagian regimen VAD): 8 mg/m2/hari di berikan melalui injeksi intravena (pembuluh darah) infus berkelanjutan pada hari pertama sampai hari ke-4.

Cara Penyimpanan
Simpan dilemari pendingin dengan suhu 2-8 derajat Celcius, jangan dibekukan.

Efek Samping Doxorubicin

Efek samping penggunaan Doxorubicin yang mungkin terjadi adalah:

  • Kulit terasa sakit, terbakar, iritasi, atau berubah warna di tempat pemberian suntikan
  • Napas terasa pendek, walaupun tidak terlalu banyak mengeluarkan tenaga
  • Bengkak, berat badan bertambah dengan sangat cepat (terutama pada wajah dan perut)
  • Mual, sakit perut atas, gatal-gatal, kehilangan nafsu makan
  • Urin berwarna gelap, kotoran berwarna tanah liat
  • Sakit kuning
  • Detak jantung cepat, lambat, atau tidak teratur
  • Cemas, berkeringat
  • Nyeri dada
  • Batuk mendadak, batuk dengan lendir berbusa,  batuk darah
  • Napas sangat cepat

Kontraindikasi
Hindari penggunaan Doxorubicin pada pasien dengan kondisi:

  • Mielosupresi (menekan produksi darah)
  • Penyakit jantung
  • Telah mendapat dosis kumulatif maksimum anthracycline
  • Hipersensitif terhadap kandungan obat
  • Kehamilan

Interaksi Obat
Doxorubicin dapat berinteraksi dengan sejumlah obat lain seperti:

  • Antibiotik (aminoglikosida)
  • Steroid
  • Aminofilin
  • Propranolol
  • Berpotensi Fatal: Kolestasis yang diinduksi oleh mercaptopurine dapat diperkuat dengan pemberian obat secara bersamaan. Toksisitas dapat meningkat jika streptozocin diberikan bersamaan.

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Doxorubicin ke dalam Kategori D:
Ada bukti positif risiko pada janin manusia, tetapi manfaat obat jika digunakan pada wanita hamil dapat diterima meskipun ada risiko (misalnya, jika obat tersebut diperlukan dalam situasi yang mengancam jiwa atau untuk penyakit serius dimana obat-obatan yang lebih aman tidak dapat digunakan atau tidak efektif).

Overdosis

  • Overdosis akut dapat meningkatkan efek toksik dari mucositis (gangguan kesehatan mulut akibat kemoterapi), leukopenia (jumlah leukosit kurang dari normal) dan trombositopenia (jumlah trombosit kurang dari normal).
  • Perawatan termasuk rawat inap pada pasien yang mengalami myelosuppressed parah, antimikroba, transfusi platelet dan pengobatan simptomatik pada mucositis. Penggunaan faktor pertumbuhan hemopoietik (G-CSF, GM-CSF) dapat dipertimbangkan. Penanganan pasien overdosis hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis profesional.
Artikel
    Penyakit Terkait