Sukses

Pengertian Diprosalic

Diprosalic adalah obat yang mengandung Betamethasone dipropionate, Salicylic acid. Diprosalic adalah obat yang di gunakan untuk membantu mengatasi gangguan pada kulit dengan gejala, seperti bercak merah, gatal-gatal, ruam, iritasi, dan lupasan berwarna putih/kuning yang bentuknya seperti ketombe. Diprosalic bekerja secara langsung dengan meredakan peradangan kulit dan meningkatkan kelembapan kulit (melembutkan kulit dan membantu sel-sel kulit menempel dengan satu sama lain), serta mengurangi rasa gatal, mencegah jamuran dan infeksi bakteri.

Keterangan Diprosalic

  1. Diprosalic Salep
    • Golongan: Obat keras
    • Kelas Terapi: Topikal Kortikosteroid
    • Kandungan: Betamethasone dipropionate, salicylic acid
    • Bentuk: Krim
    • Satuan Penjualan: Tube
    • Kemasan: Tube @ 5 gram; Tube @ 10 gram
    • Farmasi: PT Merck Sharp Dohme Pharma.
  2. Diprosalic Lotion
    • Golongan: Obat keras
    • Kelas Terapi: Topikal Kortikosteroid
    • Kandungan: Betamethasone dipropionate, salicylic acid
    • Bentuk: Lotion
    • Satuan Penjualan: Botol
    • Kemasan: Botol @ 30 mL
    • Farmasi: PT Merck Sharp Dohme Pharma.

Kegunaan Diprosalic

Diprosalic digunakan untuk membantu mengobati gangguan pada kulit dengan gejala, seperti: bercak merah, gatal-gatal, ruam, iritasi dan lupasan berwarna putih/kuning yang bentuknya seperti ketombe.

Dosis & Cara Penggunaan Diprosalic

Diprosalic termasuk dalam golongan obat keras sehingga hanya bisa didapatkan dan digunakan berdasarkan resep dokter.

Aturan penggunaan: Oleskan Diprosalic salep atau lotion sebanyak 1-2 kali sehari selama 2 minggu pada kulit yang terinfeksi.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu 25 derajat Celcius atau pada suhu di bawah 25 derajat Celcius.

Efek Samping Diprosalic

Efek samping penggunaan Diprosalic yang mungkin terjadi adalah:

  • Kulit terbakar
  • Gatal
  • Iritasi
  • Kulit kering
  • Infeksi sekunder
  • Hipopigmentasi (kekurangan pigmen kulit)
  • Dermatitis perioral (peradangan disekitar mulut)

Kontraindikasi
Hindari penggunaan pada pasien dengan kondisi:

  • Infeksi kulit akibat virus (misalnya vaksinia, varisela, dan herpes simpleks)
  • TB kulit
  • Jerawat
  • Infeksi kulit akibat jamur atau bakteri tanpa terapi anti-infeksi yang sesuai
  • Peradangan pada area sekitar mulut 

Overdosis

  • Gejala: penekanan hipofisis-adrenal yang mengakibatkan insufisiensi adrenal sekunder (kelainan hormonal) dan menyebabkan manifestasi hiperkortisme, termasuk penyakit Cushing. Gejala salisiklisme.
  • Penatalaksanaan: Pengobatan simtomatik dan suportif. Atasi ketidakseimbangan elektrolit. Henntikan penggunaan jika terjadi toksisitas kronis. Berikan Na bikarbonat oral untuk membasakan urin dan mengeluarkan obat melalui urin. Penanganan pasien overdosis hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis profesional.

 

 

Artikel
    Penyakit Terkait