Sukses

Pengertian Dermacoid

Dermacoid adalah obat yang mengandung Hydrocortisone 17-butyrate sebagai zat aktifnya. Dermacoid digunakan untuk mengobati secara topikal berbagai macam kelainan kulit, seperti eksema (gatal-gatal), inflamasi atau alergi. Dermacoid tidak boleh diberikan pada pasein yang menderita cacar air, herpes, infeksi oleh virus, TB kulit, gangguan kulit karena sifilis, dan vaksin.

Keterangan Dermacoid

  • Dermacoid Krim

    • Golongan: Obat Keras.
    • Kelas Terapi: Topikal Kortikosteroid.
    • Kandungan: Hydrocortisone 17-butyrate.
    • Bentuk: Krim.
    • Satuan Penjualan: Tube.
    • Kemasan: Tube 10 Gram.
    • Farmasi: Combiphar.
  • Dermacoid Lotion
    • Golongan: Obat Keras.
    • Kelas Terapi: Topikal Kortikosteroid.
    • Kandungan: Hydrocortisone 17-butyrate.
    • Bentuk: Lotion.
    • Satuan Penjualan: Botol.
    • Kemasan: Botol 20 mL.
    • Farmasi: Combiphar.

Kegunaan Dermacoid

Dermacoid digunakan untuk mengobati secara topikal berbagai macam kelainan kulit, seperti eksema (gatal-gatal), inflamasi atau alergi.

Dosis dan Cara Penggunaan Dermacoid

Dermacoid termasuk dalam golongan obat keras sehingga hanya bisa didapatkan dan digunakan berdasarkan resep dokter.

Oleskan Dermacoid krim atau lotion tipis-tipis sebanyak 1-2 kali sehari pada area kulit yang sakit.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu 15-30 derajat Celcius.

Efek Samping Dermacoid

Efek samping penggunaan Dermacoid yang mungkin terjadi adalah:

  • Atrofi dermal (penipisan kulit)
  • Iritasi lokal
  • Folikulitis (peradangan yang terjadi pada folikel rambut atau tempat rambut tumbuh)
  • Hipertrikosis (pertumbuhan rambut secara berlebihan)
Kontraindikasi
Hindari pemberian pada pasien yang memiliki indikasi:
  • Hipersensitif (reaksi berlebihan atau sangat sensitif) terhadap kandungan dalam obat tersebut
  • Infeksi virus / jamur
  • Lesi tuberkular atau sifilis, kecuali infeksi bakteri

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Dermacoid ke dalam Kategori C:
Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.

Artikel
    Penyakit Terkait