Sukses

Pengertian Cotrimoxazole

Cotrimoxazole adalah antibiotik untuk mengobati berbagai jenis infeksi bakteri. Obat ini mampu meringankan dan mengobati infeksi saluran pernafasan, pencernaan, saluran kemih dan berbagai jenis infeksi lainnya. Cotrimoxazole mengandung kombinasi antibiotik Trimethoprim dan Sulfamethoxazole dengan perbandingan satu bagian Trimethoprim dan lima bagian Sulfamethoxazole. Cotrimoxazole bekerja dengan cara menghambat dua tahap sintesis asam folat dan protein yang sangat esensial untuk mikroorganisme. Trimethoprim sendiri adalah bakterisida (membunuh bakteri) sedangkan Sulfamethoxazole adalah bakteriostatik (menghentikan perkembangbiakan bakteri). Untuk itu, kombinasi tersebut sangat efektif membunuh bakteri, seperti Streptococcus sp, Staphylococcus so, Pneumococcus sp, Klebsiella, Neisseria, Bordetella. Shigella sp dan Vibrio cholerae serta terhadap beberapa bakteri yang diketahui resisten terhadap antibiotik jenis lain seperti Haemophillus influenzae, Escherichia coli. Proteus mirabilis, Proteus vulgaris dan bebeberapa strain Staphylococcus.

Keterangan Cotrimoxazole

  1. Cotrimoxazole Sirup
    • Golongan: Obat Keras.
    • Kelas Terapi: Kombinasi antibakteri.
    • Kandungan: Sulfamethoxazole (SMZ) 200 mg dan Trimethoprim (TM) 40 mg
    • Bentuk: Sirup.
    • Satuan Penjualan: Botol.
    • Kemasan: Botol 60 mL.
    • Farmasi: First Medipharma, Bernofarm, Phapros, Promedrahardjo Farmasi Industri, Sampharindo Perdana, Kimia Farma, Tropica Mas, Novapharin, Rama Emerald Multi Sukses, Pyridam Farma, Mersifarma Trimaku Mercusana, Errita Pharma, Indofarma, Holi Pharma, Indofarma
    • Merk dagang yang beredar di Indonesia: Decatrim, Licoprima, Primavon, Saltrim Forte, Etamoxul, Gencotri, Trimeta, Bimactrim, Gitri.
  2. Cotrimoxazole Tablet
    • Golongan: Obat Keras.
    • Kelas Terapi: Kombinasi antibakteri.
    • Kandungan: Sulfamethoxazole (SMZ) 400 mg dan Trimethoprim (TM) 80 mg.
    • Bentuk: Tablet.
    • Satuan Penjualan: Strip.
    • Kemasan: Strip @ 10 Tablet.
    • Farmasi: Harsen, Ifars Pharmaceutical Laboratories, Bernofarm, Holi Pharma, Tropica Mas, Rama Emerald Multi Sukses, Phapros, Indofarma, Mersifarma Trimaku Mercusana, Bernofarm, Errita Pharma, Sampharindo Perdana.
    • Merk dagang yang beredar di Indonesia: Zecatrim, Primadex, Sultrimmix, Meprotrin, Tifatrim, Pehatrim, Sanprima, Infatrim, Yekaprim.

Kegunaan Cotrimoxazole

Kegunaan Cotrimoxazole adalah untuk pengobatan:

  • Infeksi saluran pernafasan: otitis media akut (infeksi telinga bagian tengah) yang disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae atau Haemophilus influenzae.
  • Eksaserbasi akut bronchitis kronis (meningkatkan frekuensi dan keparahan batuk) yang disebabkan oleh pneumoniae atau H. influenzae, sebagai obat alternatif jika obat golongan penicillin tidak dapat digunakan.
  • Infeksi saluran pencernaan: sebagai pencegahan traveller diare yang disebabkan oleh bakteri E. coli, sebagai alternatif antibiotik golongan quinolon.
  • Infeksi saluran kemih: obat ini juga bermanfaat untuk pengobatan infeksi saluran kemih yang disebabkan bakteri coli, Klebsiella, Enterobacter, Morganella morganii, Proteus mirabilis, atau P. vulgaris.
  • Brucellosis (infeksi dari hewan ke manusia) dan kolera : obat ini adalah antibiotik alternatif untuk pengobatan brucellosis untuk pasien yang tidak bisa menggunakan Tetrasiklin (misalnya anak-anak).
  • Infeksi mikobakteri: infeksi kulit yang disebabkan oleh Mycobacterium marinum juga bisa menggunakan antibiotik ini.

Dosis & Cara Penggunaan Cotrimoxazole

Cotrimoxazole termasuk dalam golongan obat keras sehingga hanya bisa didapatkan dan digunakan berdasarkan resep dokter.

  • Infeksi saluran kemih; Eksaserbasi akut bronkitis kronis; Otitis media akut: diberikan dosis 960 mg diminum 3 kali sehari.
  • Infeksi berat: dosis 2,88 g / hari diberikan dalam 2 dosis terbagi.
  • Pneumocystis (carinii) jiroveci pneumonia: diberikan dosis 120 mg / kg berat badan/ hari dalam 2-4 dosis terbagi selama 14-21 hr.
  • Mencegah Pneumocystis (carinii) jiroveci pneumonia: dosis 960 mg diminum 1 kali sehari selama 7 hari; dosis 960 mg diminum 1 kali sehari diberikan 3 kali seminggu pada hari-hari tertentu; atau dosis 960 mg diminum 2 kali seminggu.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu 15-30 derajat Celcius, di tempat kering dan sejuk.

Efek Samping Cotrimoxazole

Efek samping penggunaan Cotrimoxazole yang mungkin terjadi adalah:

  • Mual, muntah
  • Ruam, diare
  • Demam
  • Gatal
  • Nyeri otot dan sendi
  • Reaksi alergi bagi pasien yang sensitif terhadap obat-obat golongan Sulfonamide termasuk Cotrimoxazole.

Kontraindikasi
Hindari penggunaan pada pasien yang hipersensitif terhadap Cotrimoxazole.

Interaksi Obat
Cotrimoxazole dapat berinteraksi bila diberikan bersamaan dengan obat-obatan di bawah ini:

  • ACE inhibitor seperti Captopril, Enalapril, Lisinopril, dan Ace inhibitor berpotensi terjadi hiperkalemia.
  • Obat-obat antiaritmia : Amiodarone meningkatkan resiko aritmia ventrikel pada pasien.
  • Dofetilide terjadi peningkatan resiko perpanjangan Interval QT.
  • Kalium aminobenzoate menghambat efek obat-obat golongan Sulfonamide (seperti sulfamethoxazole).
  • Obat-obat golongan Sulfonilurea meningkatkan efek farmakologi Cotrimoxazole.
  • Cotrimoxazole menghambat metabolisme Phenytoin sehingga meningkatkan waktu paruhnya.
  • Diuretik : obat-obat diuretik terutama golongan Tiazide meningkatkan potensi terjadinya penurunan kadar trombosit, terutama untuk pasien usia lanjut.
  • Cotrimoxazole menghambat klirens obat-obat antikoagulan dan meningkatkan protrombin time (PT) sehingga meningkatkan efek obat-obat ini.
  • Jika diberikan bersamaan dengan Siklosporin dapat meningkatkan resiko kerusakan ginjal pada pasien penerima transplantasi ginjal
  • Cotrimoxazole meningkatkan kadar Digoxin dalam plasma terutama pada pasien usia lanjut.
  • Antibiotik ini juga meningkatkan konsentrasi plasma obat-obat antivirus seperti lamivudine dan zalcitabine.
  • Indomethacin meningkatkan konsentrasi sulfamethoxazole dalam plasma.
  • Cotrimoxazole berpotensi meningkatkan efek samping berupa hipoglikemia pada pemakaian anti dibetes oral, seperti Glibenclamide.
  • Efek samping anemia megaloblastik terjadi ketika pemberian bersamaan Cotrimoxazole dan Pyrimethamine.
  • Pemberian bersamaan Rifampisin dan Cotrimoxazole Tablet menyebabkan kadar rifampisin dalam plasma meningkat di sisi lain terjadi penurunan kadar trimethoprim.
  • Cotrimoxazole menyebabkan peningkatan konsentrasi plasma procainamide dan amantadine sehingga meningkatkan toksisitasnya.
  • Jika diberikan bersamaan dengan clozapine dan antipsikotik lainnya, resiko efek samping hematologis meningkat.

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Cotrimoxazole ke dalam Kategori D:
Ada bukti positif risiko pada janin manusia, tetapi manfaat obat jika digunakan pada wanita hamil dapat diterima meskipun ada risiko (misalnya, jika obat tersebut diperlukan dalam situasi yang mengancam jiwa atau untuk penyakit serius dimana obat-obatan yang lebih aman tidak dapat digunakan atau tidak efektif).

Overdosis

  • Gejala: Pusing, mual, muntah, ruam, sakit kepala, mengantuk, disuria (anyang-anyangan), pembengkakan wajah, kelemahan dan kebingungan, depresi sumsum tulang, sedikit peningkatan serum aminotransferase.
  • Penatalaksanaan: Pengobatan suportif dan simptomatik. Kosongkan perut segera dengan menginduksi emesis atau bilas lambung. Amati pasien minimal 4 jam dan pantau urea dan elektrolit dengan FBC. Berikan cairan untuk mempertahankan keluaran urin yang baik. Dapat diberikan Ca leucovirin dengan dosis 5-10 mg perhari untuk melawan efek samping trimetoprim pada sumsum tulang atau Ca folinate dengan dosis 3-6 mg selama 5-7 hari per oral atau secara injeksi intramuskular (otot).
Artikel
    Penyakit Terkait