Sukses

Pengertian Celocid

Celocid adalah salah satu nama obat dagang yang mengandung Cefuroxime. Celocid merupakan antibiotik golongan Sefalosporin yang bekerja dengan cara membunuh pertumbuhan bakteri. Celocid dapat digunakan untuk mengobati sejumlah infeksi yang disebabkan oleh bakteri, di antaranya infeksi sinus atau sinusitis, infeksi amandel atau tonsilitis, infeksi tenggorokan (misalnya faringitis), infeksi saluran pernapasan (misalnya bronkitis), infeksi telinga (misalnya otitis media), infeksi kulit, infeksi kandung kemih (misalnya pyelonephritis dan cystitis).

Keterangan Celocid

  1. Celocid Kaplet
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Sefalosporin.
    • Kandungan: Cefuroxime acetyl 500 mg
    • Bentuk: Kaplet Salut Selaput
    • Satuan Penjualan: Strip
    • Kemasan: Strip @ 10 Kaplet
    • Farmasi: Dexa Medica
  2. Celocid Injeksi
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Sefalosporin.
    • Kandungan: Cefuroxime acetyl 750 mg
    • Bentuk: Serbuk injeksi
    • Satuan Penjualan: Vial
    • Kemasan: Vial @ 750 mg
    • Farmasi: Dexa Medica

Kegunaan Celocid

Celocid digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri.

Dosis & Cara Penggunaan Celocid

Celocid termasuk dalam golongan Obat Keras, maka dari itu penggunaan obat ini harus dengan Anjuran dan Resep Dokter:

  1. Anjuran pemakaian Celocid Kaplet:
    • Dewasa: Bronkitis dan  pneumonia: 1 kaplet, diminum 2 kali sehari.
    • Pielonefritis dan infeksi lain: ½ kaplet, diminum 2 kali sehari.
    • Infeksi saluran kemih: ¼ kaplet, diminum 2 kali sehari.
    • Gonorea tanpa komplikasi: 2 kaplet diminum sebagai dosis tunggal.
    • Anak usia > 5 tahun: ¼ kaplet, diminum 2 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan menjadi ½ kaplet, diminum 2 kali sehari.
  2. Anjuran pemakaian Celocid Injeksi:
    • Infeksi yang peka: dosis 0,75 g diberikan tiap 8 jam, dosis dapat ditingkatkan hingga 1,5 g diberikan tiap 6-8 jam pada infeksi yang lebih berat. Diberikan melalui injeksi intravena (melalui pembuluh darah) atau injeksi intramuskular (melalui otot).
    • Pneumonia: diberikan dosis 1,5 g diberikan sebanyak 2 kali sehari. Diberikan melalui injeksi intravena (melalui pembuluh darah) atau injeksi intramuskular (melalui otot). Dilanjutkan dengan dosis oral 500 mg diminum 2 kali sehari.
    • Eksaserbasi akut bronkitis kronis: dosis 750 mg diberikan 2 kali kali sehari. Diberikan melalui injeksi intravena (melalui pembuluh darah) atau injeksi intramuskular (melalui otot). Dilanjutkan dengan dosis oral 500 mg diminum 2 kali sehari.
    • Mencegah infeksi bedah: dosis 1 atau 2 g dapat diberikan 30 menit sampai 2 jam sebelum dilakukan pembedahan. Diberikan melalui injeksi intravena (melalui pembuluh darah) atau injeksi intramuskular (melalui otot).
    • Meningitis: dosis 3 g diberikan tiap 8 jam melalui injeksi intravena (melalui pembuluh darah).
    • Gonore: dosis 1,5 g sebagai dosis tunggal dibagi antara 2 tempat injeksi, disuntikkan injeksi intramuskular (melalui otot). Dapat dikombinasikan dengan probenesid oral 1 g.

Cara Penyimpanan

  • Celocid Kaplet: Simpan pada suhu di bawah 30 derajat Celcius, di tempat kering dan sejuk.
  • Celocid serbuk injeksi: Simpan pada suhu antara 15-30 derajat Celcius. Setelah dilarutkan: Simpan pada suhu antara 2-8 derajat Celcius. Lindungi dari cahaya.

Efek Samping Celocid

Efek samping yang mungkin terjadi selama pengunaan Celocid, antara lain:

  • Gangguan Gastrointestinal (Ketidaknyamanan perut bagian atas, sensasi terbakar, kembung, mual, atau perasaan cepat kenyang).
  • Perubahan hematologi (darah).
  • Superinfeksi (Pemberian antibiotik yang dilakukan secara spektrum luas dalam waktu lama)
  • Rasa sakit pada tempat injeksi (Intra Muscular).
  • Kadang tromboplebitis (pembengkakan pada vena pada injeksi Intra Vena)

Kontraindikasi
Tidak boleh diberikan pada pasien penderita hipersensitivitas terhadap sefalosporin.

Interaksi Obat
Pemberian probenesid akan menaikkan kadar obat dalam serum sampai 50%.

Katehori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengategorikan Celocid ke dalam Kategori B:
Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).

Overdosis

  • Gejala: Ensefalopati, kejang dan koma.
  • Penatalaksanaan: Hemodialisis (cuci darah) atau dialisis peritoneal dapat menurunkan kadar serum obat didalam darah. Penanganan pasien overdosis hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis profesional.
Artikel
    Penyakit Terkait