Sukses

Pengertian Cefixime

Cefixime merupakan obat untuk membantu mengobati berbagai macam infeksi bakteri, seperti pneumonia, infeksi/radang THT (telinga, hidung, tenggorokan), infeksi saluran kemih, infeksi kulit, infeksi sumsum tulang, infeksi darah, dan infeksi setelah melahirkan. Cefixime dikenal sebagai antibiotik golongan cephalosporin. Cefixime bekerja dengan menghentikan pertumbuhan bakteri dengan cara mengganggu pembangunan dinding sel bakteri. Cefixime hanya untuk infeksi bakteri. Cefixime tidak akan bekerja untuk infeksi virus dan jamur. Penggunaan antibiotik apapun yang tidak perlu atau berlebihan dapat menyebabkan efektivitasnya menurun. Cefixime merupakan obat generik yang di produksi beberapa perusahaan farmasi.

Keterangan Cefixime

  1. Cefixime Kaplet
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Antibiotik Sefalosporin
    • Kandungan: Cefixime 100 mg; Cefixime 200 mg
    • Bentuk: Kapsul
    • Satuan Penjualan: Strip
    • Kemasan: Box, 3 Strip @ 10 Kaplet salut selaput
    • Farmasi: Bernofarma; Natura Laboria; Infion.
  2. Cefixime Kapsul
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Antibiotik Sefalosporin
    • Kandungan: Cefixime 100 mg; Cefixime 200 mg
    • Bentuk: Kapsul
    • Satuan Penjualan: Strip
    • Kemasan: Box, 3 Strip @ 10 Kapsul
    • Farmasi: Hexpharm; Lapi; Pharma; Ifars; Guardian Pharmatama; Novell; Indofarma; Dexa Medica; Bernofarm; Natura Laboratoria Prima; Phapros; Kimia farma.
  3. Cefixime Sirup Kering
    • Golongan: Obat Keras
    • Kelas Terapi: Antibiotik Sefalosporin
    • Kandungan: Sirup kering 100 mg/ 5mL 
    • Bentuk: Botol
    • Satuan Penjualan: Botol
    • Kemasan: Box, Botol 30 mL
    • Farmasi: Hexpharm; Bernofarm; Indofarma; Phapros; Etercon Pharma; Ifars.

Kegunaan Cefixime

Cefixime digunakan untuk membantu mengobati berbagai macam infeksi bakteri, seperti pneumonia, infeksi/radang THT (telinga, hidung, tenggorokan), infeksi saluran kemih, infeksi kulit, infeksi sumsum tulang, infeksi darah dan infeksi setelah melahirkan.

Dosis & Cara Penggunaan Cefixime

Cefixime termasuk dalam golongan Obat Keras, hanya bisa didapatkan dan digunakan berdasarkan resep Dokter.

Aturan penggunaan Cefixime:

  • Dewasa dan anak >30 kg: dosis umum yang direkomendasikan 50–100 mg, 2 kali sehari. Dosis disesuaikan dengan umur, berat badan, kondisi pasien.
  • Untuk infeksi parah atau infeksi yang sulit disembuhkan: dosis ditingkatkan sampai 200 mg, 2 kali sehari.
  • Demam tifoid pada anak: 10–15 mg/kgbb/hari selama 2 pekan.

Efek Samping Cefixime

Efek samping yang mungkin terjadi selama mengkonsumsi Cefixime adalah:

  • Ensefalopati (gangguan fungsi otak) termasuk kejang
  • Gangguan gastrointestinal: Diare, nyeri perut, pencernaan yg terganggu, perut kembung, mual, muntah.
  • Gangguan umum dan kondisi situs admin: Pyrexia (demam), edema wajah.
  • Gangguan hepatobilier: Penyakit kuning, hepatitis.
  • Gangguan metabolisme dan nutrisi: Anoreksia (kurang nafsu makan).
  • Gangguan muskuloskeletal dan jaringan ikat: Arthralgia (peradangan sendi).
  • Gangguan sistem saraf: Sakit kepala, pusing, vertigo (pusing berputar).
  • Sistem reproduksi dan gangguan payudara: Vaginitis (peradangan vagina).
  • Gangguan pernapasan, toraks, dan mediastinum: Dispnea (sesak napas).

Kontraindikasi:
Hipersensitif terhadap sefalosporin, penisilin atau antibiotik beta-laktam, Bayi prematur dan bayi baru lahir.

Interaksi Obat:
- Dapat meningkatkan waktu protrombin dengan atau tanpa perdarahan dan meningkatkan efek antikoagulan (misal. Warfarin K).
- Peningkatan bioavailabilitas hingga 70% dengan nifedipine.
- Peningkatan konsentrasi serum dengan probenesid.
- Dapat meningkatkan konsentrasi plasma carbamazepine.

Kategori Kehamilan:
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengategorikan Cefixime ke dalam Kategori B:
Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).

Artikel
    Penyakit Terkait