Sukses

Pengertian Bimaflox

Bimaflox adalah obat antibiotik yang dikemas dalam bentuk sediaan kaplet dan diproduksi oleh Lloyd Pharma Indonesia. Obat ini mengandung Ciprofloxacin HCl yang diindikasikan untuk mengobati infeksi sistemik. Ciprofloxacin merupakan antibiotik kuinolon yang memiliki spektrum luas. Mekanisme kerja obat ini adalah dengan menghambat DNA gyrase dan topoisomerase IV, sehingga menghentikan pertumbuhan bakteri.

Keterangan Bimaflox

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Antibiotik Kuinolon
  • Kandungan: Ciprofloxacin HCl 500 mg
  • Bentuk: Kaplet Salut Selaput
  • Satuan Penjualan: Strip
  • Kemasan: Box, 10 Strip @ 10 Kaplet Salut Selaput
  • Farmasi: Lloyd Pharma Indonesia.

Kegunaan Bimaflox

Bimaflox diindikasikan untuk mengobati infeksi saluran kemih, infeksi saluran pernafasan, infeksi kulit dan jaringan lunak, infeksi saluran pencernaan, tifus, penyakit menular seksual, infeksi tulang dan sendi.

Dosis & Cara Penggunaan Bimaflox

Bimaflox termasuk dalam golongan obat keras sehingga hanya bisa didapatkan dan digunakan berdasarkan resep dokter.

  • Infeksi saluran kemih ringan/sedang: dosis 250 mg, diminum 2 kali sehari.
  • Infeksi saluran kemih berat: dosis 500 mg, diminum 2 kali sehari.
  • Infeksi saluran nafas, sendi dan tulang, infeksi kulit dan jaringan lunak ringan sampai dengan sedang: dosis 250 mg - 500 mg, diminum 2 kali sehari.
  • Infeksi saluran nafas, sendi dan tulang, infeksi kulit dan jaringan lunak yang berat: dosis 500 mg- 750 mg, diminum 2 kali sehari.
  • Infeksi Prostatitis kronis: dosis 500 mg, diminum 2 kali sehari.
  • Infeksi saluran cerna: dosis 500 mg, diminum 2 kali sehari.
  • Gonorrhoea: dosis 250 mg sebagai dosis tunggal.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu 20-25 derajat Celcius, di tempat kering dan sejuk.

Efek Samping Bimaflox

Efek samping yang bisa saja terjadi dalam penggunaan Bimaflox adalah:

  • Sakit kepala
  • Mual-mual
  • Diare
  • Sering buang gas
  • Nyeri otot
  • Nyeri sendi
  • Trombositopenia (jumlah trombosit kurang dari normal)
  • Gatal-gatal
  • Hipoglikemia (kadar gula dalam darah kurang dari normal)

Kontraindikasi
Hindari penggunaan pada pasien dengan indikasi:

  • Hipersensitif terhadap Ciprofloxacin atau kuinolon lainnya.
  • Penggunaan bersamaan dengan tizanidine.

Interaksi Obat

  • Meningkatkan risiko interval QT yang berkepanjangan jika digunakan bersamaan dengan Kelas IA (misalnya Quinidine, procainamide) dan Kelas III (misalnya Amiodarone, sotalol) antiaritmia, TCA, makrolida (misalnya Erythromycin), cisapride, antipsikotik.
  • Meningkatkan konsentrasi serum jika digunakan bersamaan dengan probenesid.
  • Dapat meningkatkan konsentrasi serum dan toksisitas metotreksat; Substrat CYP1A2 (misalnya Clozapine, ropinirole, theophilin); turunan xanthine (misalnya kafein, pentoxifylline).
  • Meningkatkan risiko gangguan tendon jika digunakan bersamaan dengan kortikosteroid.
  • Meningkatkan kreatinin serum jika digunakan bersamaan dengan siklosporin.
  • Meningkatkan risiko kejang jika digunakan bersamaan dengan obat anti inflamasi non steroid.
  • Dapat mengubah konsentrasi fenitoin dalam serum.
  • Mengurangi penyerapan oral jika digunakan bersamaan dengan produk yang mengandung kation multivalen (misalnya Al, Ca, Mg, Fe).
  • Dapat meningkatkan efek antikoagulan vitamin K, warfarin.

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Bimaflox ke dalam Kategori C:
Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.

Overdosis

  • Gejala: Pusing, gemetar, sakit kepala, kelelahan, kejang, halusinasi, kebingungan, rasa tidak nyaman pada perut, kristaluria, hematuria, gangguan ginjal dan hati akut.
  • Penatalaksanaan: Pengobatan simtomatik. Kosongkan perut dengan menginduksi muntah atau dengan lavage lambung. Pertahankan hidrasi yang adekuat. Dapat diberikan antasida yang mengandung Mg, Al, atau Ca untuk mengurangi absorpsi oral. Pantau EKG, fungsi ginjal, pH urin, dan pengasaman urin jika diperlukan untuk mencegah kristaluria. Penanganan pasien overdosis hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis profesional.
Artikel
    Penyakit Terkait