Sukses

Pengertian Asabium

Asabium adalah obat yang mengandung Clobazam. Asabium adalah obat golongan antikonvulsan yang digunakan sebagai terapi pengobatan epilepsi dan gangguan kecemasan. Asabium biasanya dikombinasi dengan obat lain untuk penderita epilepsi. Asabium bekerja dengan mengontrol kejang dengan menyeimbangkan aliran listrik yang ada di dalam otak. Obat ini juga dapat digunakan untuk melemaskan otot.

Keterangan Asabium

  • Golongan: Obat Bebas
  • Kelas Terapi: Antikosulvan
  • Kandungan: Clobazam 10 mg
  • Bentuk: Tablet
  • Satuan Penjualan: Strip
  • Kemasan: Box, 10 Strip @ 10 Tablet
  • Farmasi: Otto Pharmaceutical Laboratories

Kegunaan Asabium

Asabium adalah obat golongan antikonvulsan yang digunakan sebagai terapi pengobatan epilepsi dan gangguan kecemasan.

Dosis & Cara Penggunaan Asabium

Asabium termasuk dalam golongan obat psikotropika sehingga hanya bisa didapatkan dan digunakan berdasarkan resep dokter.

  1. Gangguan kecemasan
    • Dosis pemberian: diberikan 2-3 tablet perhari sebagai dosis tunggal atau terbagi. Jika perlu, dosis dapat ditingkatkan hingga 6 tablet setiap hari pada pasien dengan kecemasan berat. Lama pengobatan: Tidak lebih dari 4 minggu dan pasien harus dinilai ulang setelahnya. Gunakan dosis serendah mungkin untuk waktu sesingkat mungkin.
  2. Terapi tambahan pada penderita epilepsi A
    • Dosis awal: diberikan dosis 2-3 tablet perhari. Maksimal: 6 tablet perhari.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu 20-25 derajat Celcius, di tempat kering dan sejuk.

Efek Samping Asabium

Efek samping yang mungkin terjadi apabila mengkonsumsi Asabium adalah:

  • Reaksi paradoksikal (kegelisahan, emosional yang labil terutama pada lansia)
  • Sembelit
  • Penglihatan kabur
  • Perubahan libido
  • Mual
  • Retensi urin (kesulitan buang air besar)
  • Gemetar jari tangan
  • Mulut kering

Kontraindikasi
Hindari penggunaan pada pasien dengan indikasi:

  • Memiliki riwayat ketergantungan obat atau alkohol, miastenia gravis (melemahnya otot tubuh), insufisiensi pernapasan berat, sindrom apnea tidur.
  • Penderita gangguan hati yang parah.
  • Kehamilan (trimester 1) dan menyusui.

Interaksi Obat

  • Memperkuat efek antidepresan jika diberikan bersamaan dengan mengkonsumsi alkohol dan obat golongan barbiturat
  • Penggunaan bersamaan dengan opioid dapat menyebabkan sedasi, depresi pernapasan, dan koma.
  • Efek depresi sistem saraf pusat meningkat jika diberikan bersamaan dengan golongan obat antipsikotik (neuroleptik), hipnotik, anxiolytics / sedatif, agen antidepresan, antikonvulsan, anestesi, dan antihistamin sedatif.
  • Peningkatan konsentrasi serum fenitoin.
  • Peningkatan konsentrasi plasma jika diberikan bersamaan dengan inhibitor CYP2C19 dan CYP3A (misalnya stiripentol) atau inhibitor CYP2C19 sedang hingga kuat (misalnya flukonazol, fluvoxamine, ticlopidine, omeprazole).
  • Efek yang meningkat dari pelemas otot, analgesik, dan dinitrogen oksida.
  • Penurunan konsentrasi serum kontrasepsi hormonal (misalnya estrogen).

Kategori Kehamilan
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan Asabium ke dalam Kategori C:
Studi pada hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita atau studi pada wanita dan hewan tidak tersedia. Obat diberikan hanya jika manfaat yang yang diperoleh lebih besar dari potensi risiko pada janin.

Overdosis

  • Gejala: Depresi sistem saraf pusat yang berhubungan dengan kantuk, kebingungan, lesu, berkembang menjadi ataksia, hipotonia, hipotensi, depresi pernapasan, jarang, koma atau kematian.
  • Penatalaksanaan: Perawatan suportif. Lakukan lavage (pengosongan) lambung dan / atau pemberian arang aktif, pengisian cairan melalui pembuluh darah. Pantau tanda-tanda vital dan tingkat kesadaran. Hipotensi dapat diobati dengan pengisian pengganti plasma dan dengan agen simpatomimetik jika perlu. Penanganan pasien overdosis hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis profesional.
Artikel
    Penyakit Terkait