Sukses

Pengertian Antiza

Antiza adalah obat yang digunakan untuk mengobati gejala flu, seperti demam, sakit kepala, pilek, hidung tersumbat, bersin disertai batuk. Antiza mengandung paracetamol, phenylpropanolamine, chlorpheniramine maleate dan dextromethorphan HBr. Paracetamol yang terkandung dalam Antiza berfungsi untuk meredakan nyeri dan menurunkan demam phenylpropanolamine berfungsi untuk melegakan hidung tersumbat, chlorpheniramine maleate berfungsi untuk mengatasi gejala alergi, dextromethorphan HBr berfungsi untuk meredakan batuk kering.

Keterangan Antiza

  1. Antiza Sirup
    • Golongan: Obat Bebas Terbatas
    • Kelas Terapi: Obat Batuk dan Pilek.
    • Kandungan: Paracetamol 250 mg, dextromethorphan HBr 7.5 mg, chlorpheniramine maleate 1 mg, phenylpropanolamine HCl 6.25 mg
    • Bentuk: Sirup
    • Satuan penjualan: Botol
    • Kemasan: Box, Botol @ 60 mL
    • Farmasi: Coronet Crown
  2. Antiza Tablet
    • Golongan: Obat Bebas Terbatas
    • Kelas Terapi: Obat Batuk dan Pilek
    • Kandungan: Paracetamol 500 mg, dextromethorphan HBr 15 mg, chlorpheniramine maleate 1 mg, phenylpropanolamine HCl 12.5 mg.
    • Bentuk: Tablet
    • Satuan penjualan: Strip
    • Kemasan: Box, 10 Catch Cover @ 1 Strip @ 10 tablet
    • Farmasi: Coronet Crown

Kegunaan Antiza

Antiza digunakan untuk mengobati gejala flu yang di sertai dengan batuk.

Dosis & Cara Penggunaan Antiza

Cara Penggunaan Antiza adalah sebagai berikut:

  1. Sirup
    • Dosis dewasa: di minum 3-4 kali sehari, di berikan 2 sendok takar (10 ml).
    • Dosis anak usia 6-12 tahun: di minum 3 kali sehari, di berikan 1 sendok takar (5 ml).
  2. Tablet
    • Dewasa: di berikan 1 tablet, di minum 3-4 kali sehari.

Cara Penyimpanan
Simpan pada suhu di bawah 30 derajat Celcius, di tempat kering dan sejuk.

Efek Samping Antiza

Efek samping penggunaan Antiza yang mungkin terjadi adalah:

  • Obat yang mengandung paracetamol bisa menyebabkan kerusakan hati terutama jika penggunaanya melebihi dosis yang dianjurkan.
  • Efek samping ringan pada saluran pencernaan misalnya mual dan muntah. Pada penggunaan dosis yang lebih tinggi diketahui meningkatkan resiko terjadinya perdarahan -lambung.
  • Efek samping pada ginjal relatif jarang. Namun pada penggunaan jangka panjang, dapat meningkatkan resiko kerusakan ginjal termasuk gagal ginjal akut.
  • Efek samping pada kulit kejadiannya jarang. Pada tahun 2013, FDA (US Food and Drug Administration) memperingatkan kemungkinan terjadinya efek pada kulit seperti sindrom stevens-johnson dan nekrolisis epidermal toksik akibat pemakaian obat yang mengandung paracetamol. Meski hal ini sangat jarang namun bisa fatal jika terjadi.
  • Obat ini juga menyebabkan efek samping berupa sakit kepala, mengantuk, vertigo, gangguan psikomotor, aritmia, takikardi, mulut kering, palpitasi, dan retensi urin.
  • Jika digunakan dengan dosis yang besar, dextromethorphan berpotensi menyebabkan kejang epilepsi.

Kontraindikasi
Tidak boleh di berikan pada pasien dengan penyakit hipertiroidisme, hipertensi, penyakit jantung koroner, neuropati dan yang sedang menggunakan terapi MAOI (Monoamine oxidase inhibitors).

Interaksi Obat

  • Metoclopramide dapat meningkatkan efek analgetic paracetamol.
  • Carbamazepine, fenobarbital dan fenitoin: meningkatkan potensi kerusakan hati.
  • Kolestiramin dan lixisenatide: mengurangi efek farmakologis paracetamol.
  • Antikoagulan warfarin: paracetamol meningkatkan efek koagulansi obat ini sehingga meningkatkan potensi resiko terjadinya perdarahan.
  • Hati-hati penggunaan bersamaan dextromethorphan dengan obat-obat jenis monoamine oksidase (MAO) inhibitors, karena MAO inhibitors memperpanjang efek obat ini.
  • Dextromethorphan bisa mempotensiasi obat golongan depresan sistem saraf lain.
Artikel
    Penyakit Terkait