Sukses

Mengenal Faktor Risiko Penyebab Kanker Angiosarkoma

Dari terapi radiasi hingga obesitas, berikut sederet faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami angiosarkoma.

Virgil Abloh, perancang busana sekaligus direktur artistik pakaian pria untuk Louis Vuitton, meninggal dunia pada Minggu (28/11) akibat kanker angiosarkoma jantung. Penyebab angiosarkoma jenis ini cukup bervariasi.

Umumnya, angiosarkoma jantung terjadi karena adanya aktivitas pembelahan sel yang tidak normal. Kondisi ini bisa semakin memburuk saat sistem kekebalan tubuh sedang terganggu. Pembelahan sel abnormal membuat sistem kekebalan tubuh yang terganggu tidak mampu melawan pertumbuhan kanker angiosarkoma.

Angiosarkoma sendiri merupakan jenis kanker langka yang berkembang di lapisan pembuluh darah dan pembuluh getah bening atau limfe. Penyebarannya dapat menjangkiti bagian tubuh mana pun, namun seringnya kanker angiosarkoma menyerang bagian kulit di kepala dan leher. 

Selain itu, angiosarkoma juga dapat menjangkiti bagian tubuh lainnya, seperti payudara, hati, maupun jantung.

1 dari 2 halaman

Penyebab Angiosarkoma

Kanker angiosarkoma dapat menyebabkan gejala seperti lesi (jaringan kulit abnormal) yang membengkak.

Penampakan lesi tersebut bisa berupa memar keunguan dan dapat berdarah jika digaruk.

Untuk menghindari gejala tersebut, penting mengetahui faktor risiko penyebab kanker angiosarkoma.

Apa saja deretan faktor yang meningkatkan risiko terjadinya angiosarkoma? Berikut penjelasannya.

1. Terapi Radiasi

Kanker angiosarkoma dapat berkembang di bagian tubuh manapun yang sebelumnya pernah terpapar perawatan radiasi. Umumnya, dampak pengobatan kanker berupa angiosarkoma muncul sekitar 5-10 tahun pascaterapi radiasi dilakukan.

Artikel Lainnya: Benarkah Efek Terapi Radiasi Kanker Serviks Bikin Vagina Menyempit?

Terapi radiasi dapat merusak kelenjar getah bening, bagian dari sistem limfatik yang berfungsi melawan kuman, virus, dan parasit penyebab infeksi.

Kelenjar getah bening juga bertugas membasmi sel kanker serta menghancurkan zat beracun yang masuk ke dalam tubuh.

Ketika kelenjar getah bening mengalami kerusakan, hal ini dapat memicu pertumbuhan sel kanker, termasuk angiosarkoma.

Angiosarkoma berkembang karena sel di lapisan pembuluh darah dan pembuluh getah bening bermutasi dan membelah diri secara tidak normal. Pada gilirannya, sel-sel kanker angiosarkoma pecah dan menyebar ke bagian tubuh lainnya.

2. Operasi Pengangkatan Tumor

Kelenjar getah bening juga dapat mengalami kerusakan akibat operasi pengangkatan tumor. Kondisi ini menyebabkan terjadinya limfedema.

Disampaikan dr. Astrid Wulan Kusumoastuti, limfedema merupakan kondisi membengkaknya cadangan cairan getah bening.

“Hal ini terjadi karena fungsi drainase cairan oleh kelenjar limfa terganggu. Bisa karena tersumbat atau rusak, sehingga cairan menumpuk dan menyebabkan pembesaran/pembengkakan," jelasnya.

Kondisi ini menyebabkan kerusakan pembuluh getah bening, bagian sistem daya tahan tubuh yang bertugas mengumpulkan bakteri, virus, maupun produk limbah, kemudian membuangnya dari tubuh. Ketika pembuluh getah bening rusak, sel kanker angiosarkoma dapat berkembang.

Artikel Lainnya: Efek yang Muncul dari Pengobatan Kanker Mulut

3. Infeksi Virus dan Jamur Beracun

Limfedema juga dapat terjadi karena respons tubuh terhadap infeksi virus dan jamur beracun.

Pada gilirannya, limfedema meningkatkan risiko berkembangnya kanker angiosarkoma, utamanya angiosarkoma jantung.

4. Paparan Sinar Matahari Berlebih

Paparan sinar matahari secara berlebihan tidak hanya menyebabkan sel kulit mengalami mutasi genetik, sehingga menimbulkan kanker kulit.

Berdasarkan Johns Hopkins Medicine, sinar ultraviolet dari matahari juga dapat  memicu pertumbuhan sel tidak normal di pembuluh darah dan pembuluh getah bening yang berupa kanker angiosarkoma jantung.

5. Tembakau

Masih mengutip dari Johns Hopkins Medicine, angiosarkoma jantung juga dapat berkembang akibat konsumsi tembakau.

Artikel Lainnya: Pakai Minyak Goreng Bekas Bisa Picu Kanker Payudara?

6. Obesitas

Faktor risiko penyebab kanker angiosarkoma selanjutnya adalah obesitas. Pasalnya, obesitas dapat meningkatkan risiko terjadinya limfedema.

Meski begitu, tidak diketahui pasti bagaimana mekanisme obesitas sebabkan limfedema.

Berdasarkan studi yang dipublikasikan US National Library of Medicine National Institutes of Health pada tahun 2015, limfedema akibat obesitas diduga terjadi karena anggota tubuh yang membesar dan menyebabkan peningkatan produksi cairan getah bening.

Sayangnya, cairan getah bening yang diproduksi melebihi kapasitas sistem limfatik. Hal ini menyebabkan terjadinya limfedema dan kerusakan pembuluh getah bening.

Kondisi ini dapat memicu perkembangan kanker angiosarkoma. Oleh karena itu, orang dengan obesitas atau berat badan berlebih berisiko tinggi mengembangkan jenis keganasan tersebut.

7. Paparan Zat Kimia

Mutasi sel tidak normal penyebab angiosarkoma juga dapat terjadi karena tubuh sering terpapar zat kimia.

Berdasarkan riset yang dirilis US National Library of Medicine National Institutes of Health, zat kimia pemicu angiosarkoma yang dimaksud meliputi polivinil klorida, arsenik, dan thorium dioksida.

Selain itu, paparan bahan kimia lainnya seperti benzena juga dapat menyebabkan berkembangnya angiosarkoma jantung.

Itu dia sederet faktor risiko penyebab angiosarkoma. Jika ingin tanya lebih lanjut seputar kanker, konsultasi ke dokter via Live Chat.

(OVI/JKT)

Referensi:

US National Library of Medicine National Institutes of Health. Diakses 2021. Lymphedema and Obesity: Is There a Link?

Johns Hopkins Medicine. Diakses 2021. Cardiac Sarcoma.

Sarcoma Help. Diakses 2021. What is Angiosarcoma?

Mayo Clinic. Diakses 2021. Angiosarcoma.

US National Library of Medicine National Institutes of Health. Diakses 2021. Angiosarcoma Outcomes and Prognostic Factors: A 25-Year Single Institution Experience.

Medline Plus. Diakses 2021. Meige Disease.

0 Komentar

Belum ada komentar