Sukses

Protein dalam Darah dan Faktor Risiko Diabetes Tipe 2

Studi menemukan diabetes tipe 2 berisiko dialami seseorang yang memiliki protein follistatin dalam jumlah besar. Simak temuansnya di sini.

Risiko seseorang mengalami diabetes tipe 2 dapat diprediksi dari protein dalam darah.

Demikian temuan para peneliti dari Lund University, Swedia. Studi soal kandungan protein sebagai faktor risiko diabetes melitus tipe 2 tersebut dipublikasikan melalui jurnal Nature Communications.

Risetnya berlangsung selama 19 tahun dan melibatkan sekitar 5.124 orang yang berasal dari Swedia, Inggris, dan Italia. 

Lalu, bagaimana protein dalam darah meningkatkan risiko individu mengalami diabetes tipe 2? Simak temuannya melalui ulasan berikut.

1 dari 3 halaman

Protein dalam Darah dan Risiko Diabetes Tipe 2

Peneliti menemukan bahwa peningkatan risiko diabetes tipe 2 terjadi pada orang yang memiliki kadar protein follistatin dalam jumlah besar. 

Follistatin merupakan protein yang dihasilkan oleh hati. Protein ini juga terlibat dalam pengaturan metabolisme tubuh.

Artikel Lainnya: Berapa Banyak Protein yang Dibutuhkan Orang Diabetes?

Namun riset menemukan, kadar follistatin di dalam darah yang terlalu tinggi justru dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Selain itu, risiko non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) atau perlemakan hati non-alkohol juga meningkat.

Dijelaskan dr. Reza Fahlevi, hal ini terjadi karena protein follistatin memecah sel lemak yang ada di jaringan lemak. 

“Setelah dipecah, ternyata lemak itu menumpuk di hati. Kondisi ini memicu terjadinya diabetes tipe 2 maupun perlemakan hati non-alkohol,” jelas dr. Reza.

Lemak yang menumpuk di hati mengandung asam lemak jenuh yang dapat merusak sel beta pankreas, penghasil hormon insulin.

Insulin merupakan hormon yang bertugas membantu sel-sel tubuh mengangkut dan mengubah gula darah menjadi energi. 

Kerusakan sel beta pankreas dapat membuat tubuh tidak dapat merespons hormon insulin secara optimal. Hal ini menyebabkan terjadinya diabetes tipe 2 dan lonjakan kadar gula darah.

Selain diabetes tipe 2, kadar protein follistatin dalam jumlah besar memicu terjadinya perlemakan hati non-alkohol,  sebuah kondisi menumpuknya lemak berlebih di organ hati yang tidak disebabkan oleh alkohol.

Artikel Lainnya: Mitos Tentang Diabetes yang Perlu Anda Cermati

2 dari 3 halaman

Protein Follistatin Prediksi Risiko Diabetes

Temuan lainnya, kadar protein follistatin dalam darah ternyata dapat meningkatkan risiko individu mengalami diabetes tipe 2 belasan tahun kemudian. Hal ini disampaikan anggota tim peneliti, dr. Yang De Marinis.

“Kami menemukan kadar follistatin yang tinggi di dalam darah menjadi faktor risiko yang dapat dijadikan acuan untuk memprediksi peluang seseorang mengalami diabetes tipe 2 di kemudian hari. Bahkan, 19 tahun sebelum penyakit metabolik itu menjangkiti pasien,” katanya.

Profesor dari Lund University itu menduga, tingginya kadar protein follistatin dalam darah merupakan faktor kunci terjadinya diabetes tipe 2. Hal ini dibandingkan dengan faktor risiko diabetes mellitus tipe 2 lainnya seperti usia, pola makan, aktivitas fisik, indeks massa tubuh (BMI), maupun kadar glukosa darah puasa seseorang. 

Itulah riset seputar risiko diabetes tipe 2 yang dapat diprediksi melalui kadar protein follistatin dalam darah. Jika ingin bertanya lebih lanjut seputar diabetes, konsultasi ke dokter via Live Chat.

Referensi:

Nature Communications. Diakses 2021. Elevated Circulating Follistatin Associates with an Increased Risk of Type 2 Diabetes.News Medical. Diakses 2021. Protein in the Blood could Predict Type 2 Diabetes Many Years Before Diagnosis.

Medical News Today. Diakses 2021. Study Reveals What Causes Type 2 Diabetes and How to Reverse It.

0 Komentar

Belum ada komentar