Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Studi: Metformin Tingkatkan Risiko Pneumonia pada Diabetesi

Studi: Metformin Tingkatkan Risiko Pneumonia pada Diabetesi

Ada riset yang menyebut bahwa diabetesi pengidap PPOK yang mengonsumsi metformin berisiko lebih tinggi untuk mengalami pneumonia. Apakah temuan ini disepakati oleh medis?

American Diabetes Association (ADA) menyebut metformin sebagai obat lini pertama untuk mengatasi penyakit diabetes tipe 2.

Pasalnya, obat resep untuk menurunkan gula darah tersebut dinilai dapat ditoleransi tubuh dengan baik. Meski begitu, tidak semua penderita diabetes (diabetesi) dapat menoleransi metformin.

Sebuah studi yang diterbitkan jurnal Nature Scientific Reports mengungkapkan bahwa diabetesi yang mengidap penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dan menggunakan metformin berisiko lebih tinggi mengalami pneumonia.

Efek samping metformin juga meningkatkan risiko pasien PPOK yang menjalani rawat inap dan menggunakan ventilasi mekanis invasif.

 

1 dari 3 halaman

Studi Soal Efek Samping Metformin Pada Diabetesi dengan PPOK

Nyaris 10 persen penderita diabetes tipe 2 juga mengalami PPOK. Penyakit metabolik ini terbukti memperburuk perkembangan maupun prognosis (prediksi penyakit) PPOK.

Hal tersebut karena diabetesi mengalami hiperglikemia atau kondisi gula darah tinggi di atas ambang batas normal. Hiperglikemia memicu penurunan fungsi pernapasan, peradangan kronis, hingga menyebabkan saluran napas rentan terinfeksi bakteri.

Artikel Lainnya: Waktu Terbaik Minum Obat Metformin untuk Terapi Diabetes

Berangkat dari temuan tersebut, para peneliti kemudian memeriksa rekam medis pasien diabetes pengidap PPOK terhitung dari 1 januari 2000 hingga 31 Desember 2012. Datanya dihimpun dari National Health Insurance Research Database (NHIRD).

Peneliti berhasil menjaring sekitar 402.153 pasien diabetes yang mengidap PPOK. Dari jumlah tersebut, peneliti menemukan 20.644 pasien menggunakan metformin.

Sebagai pembanding, peneliti juga menjaring sekitar 20.644 pasien lain yang tidak menggunakan metformin.

Hasil riset mengungkapkan, rata-rata pasien diabetes-PPOK yang menggunakan metformin memiliki risiko 1,17 kali lebih tinggi untuk mengalami pneumonia bakterial, peradangan paru-paru akibat infeksi bakteri.

Temuan lain, sebanyak 3.133 pasien diabetes-PPOK pengguna metformin dirawat di rumah sakit. Sementara itu, pada kelompok bukan pengguna metformin, hanya 3.106 pasien yang dirawat di rumah sakit.

Peneliti pun menemukan bahwa pengguna metformin berisiko 1,34 kali lebih tinggi untuk menjalani rawat inap. Kelompok ini juga berisiko 1,10 kali lebih tinggi menggunakan ventilasi mekanis invasif.

Ventilasi mekanis invasif adalah alat pendukung pernapasan yang melibatkan instrumen medis, seperti tabung endotrakeal. Tabung ini dimasukkan ke dalam tenggorokan melalui mulut atau hidung.

Artikel Lainnya: Obat Metformin Meningkatkan Risiko Neuropati Diabetik

2 dari 3 halaman

Masih Butuh Penelitian Lanjutan

Para peneliti mengaku riset ini memiliki sejumlah keterbatasan. Hal ini karena studi dilakukan hanya berdasarkan pemeriksaan rekam medis pasien.

Artinya, peneliti tidak meninjau faktor lain yang mungkin memengaruhi hasil penelitian. Faktor yang dimaksud, meliputi riwayat kesehatan keluarga, berat badan, kebiasaan merokok dan minum alkohol, maupun aktivitas fisik pasien.

Selain itu, peneliti juga tidak memiliki hasil pemeriksaan tes fungsi paru. Hal ini membuat para peneliti tidak dapat mengukur tingkat keparahan PPOK pada pasien yang terlibat.

Penting digarisbawahi, deretan aspek tersebut penting untuk mengetahui bagaimana pengaruh penggunaan metformin pada pasien diabetes pengidap PPOK.

Atas dasar itu, peneliti yang terlibat dalam studi mengaku bahwa dibutuhkan riset lanjutan guna membuktikan efek samping metformin pada pengidap diabetes-PPOK.

Menanggapi hasil penelitian, dr. Astrid Wulan Kusumoastuti mengingatkan pentingnya pemeriksaan berkala bagi diabetesi pengidap PPOK yang menggunakan metformin.

“Penderita PPOK yang sedang dalam terapi metformin dianjurkan untuk dimonitor secara ketat guna menekan risiko komplikasi yang muncul,” kata dr. Astrid.

Punya pertanyaan terkait penggunaan metformin? Atau ingin tahu mengenai hal-hal terkait penyakit diabetes? Anda bisa melakukan konsultasi kepada dokter melalui LiveChat 24 jam atau aplikasi Klikdokter.

(NB/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar