Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Penggunaan Kipas Angin Tingkatkan Risiko Pneumonia, Ini Faktanya

Penggunaan Kipas Angin Tingkatkan Risiko Pneumonia, Ini Faktanya

Gejala pneumonia salah satunya batuk. Batuk akibat kipas angin diklaim juga menjadi ciri pneumonia. Benarkah demikian?

Penggunaan kipas angin kerap dipilih masyarakat Indonesia untuk menyejukkan ruangan. Namun, kipas angin sering dihinggapi debu dan kotoran yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan.

Beberapa orang juga kerap mengeluhkan sejumlah gangguan kesehatan akibat menggunakan kipas angin, misalnya batuk. Batuk akibat kipas angin pun terkadang dikaitkan dengan gejala pneumonia.

Bagaimana pneumonia dihubungkan dengan batuk ketika kena kipas angin? Simak penjelasan dokter di bawah ini.

 

1 dari 3 halaman

Bisakah Kipas Angin Menyebabkan Batuk Pneumonia?

Dokter Devia Irine Putri menerangkan, “Kipas angin bukanlah penyebab utama pneumonia. Namun, penggunaan kipas angin bisa saja meningkatkan risiko terjadinya pneumonia.”

“Ini disebabkan karena kipas angin bisa menggerakkan partikel-partikel debu, virus, bakteri yang mungkin ada di ruangan tersebut, sehingga bisa menyebabkan infeksi saluran pernapasan. Terlebih lagi jika kipas angin jarang dibersihkan dan ruangan kotor, otomatis hal ini bisa terjadi.”

Menurut Cleveland Clinic, AS, pneumonia merupakan penyakit infeksi yang biasanya terjadi pada salah satu atau kedua paru. Kondisi ini bisa disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur.

Artikel lainnya: Tipe-tipe Pneumonia yang Harus Diketahui

Saat infeksi paru-paru tersebut terjadi, beberapa keluhan ini dapat muncul:

  • Saluran udara membengkak (radang)
  • Kantung udara di paru-paru terisi lendir dan cairan lainnya

Melansir Healthline, udara yang bersirkulasi dari kipas angin dapat membuat mulut, hidung, dan tenggorokan kering. Hal ini bisa menyebabkan produksi lendir di hidung, kemudian dapat berujung pada radang tenggorokan.

2 dari 3 halaman

Mengatasi Batuk Saat Terpapar Kipas Angin

Dokter Devia menyarankan, “Untuk mengatasi hal tersebut, alternatifnya adalah membersihkan ruangan dan kipas angin secara berkala agar tidak ada partikel debu, bakteri, maupun virus yang terhirup.”

Perlu juga diketahui, penggunaan AC dan kipas angin saat musim kemarau dapat membuat udara di ruangan kering. Udara kering dapat memperburuk keluhan batuk.

Artikel lainnya: Waspada, Kenali Komplikasi Pneumonia pada Anak!

Dilansir dari Medical News Today, coba gunakan humidifier untuk memberi kelembapan pada udara di ruangan. Cara ini dapat membantu meringankan radang tenggorokan dan mencegah batuk.

Namun, ruangan terlalu lembap juga bisa berdampak buruk, contohnya dalam hal pertumbuhan jamur. Jamur juga bisa menjadi alergen (pemicu alergi) dan menyebabkan batuk.

Tingkat kelembapan ruangan yang disarankan yaitu 50 persen. Level ini bisa diketahui menggunakan hygrometer.

Selain itu, minum teh atau air lemon hangat dicampur madu juga dapat dicoba untuk meredakan batuk.

Melansir Mayo Clinic, penelitian menguji anak-anak usia 1-5 tahun dengan infeksi saluran pernapasan atas yang diberikan 2 sdt (10 ml) madu sebelum tidur. Hasilnya, madu mengurangi batuk di malam hari dan meningkatkan kualitas tidur anak.

Jadi, kipas angin bukan secara langsung menjadi penyebab pneumonia. Tetapi, penggunaan kipas angin kotor dalam jangka panjang meningkatkan risiko penyakit ini. Batuk akibat kipas angin juga tidak bisa langsung dipercaya sebagai gejala pneumonia.

Bila sering batuk, namun bingung apa penyebabnya, konsultasikan kepada dokter lewat Live Chat Klikdokter.

(FR/JKT)

 

0 Komentar

Belum ada komentar