Sukses

Jenis Doping yang Dilarang Digunakan Atlet

Tidak hanya meningkatkan performa secara instan, jenis doping yang dilarang digunakan atlet bisa menimbulkan efek samping berbahaya bagi tubuh.

Doping merupakan istilah yang digunakan untuk menyebutkan jenis zat terlarang yang tidak boleh digunakan atlet. Pasalnya, penggunaan obat doping melanggar etika sportivitas dalam olahraga.

Sebab, doping dapat meningkatkan performa atlet secara instan. Doping juga meningkatkan energi, massa otot, daya tahan tubuh, mengurangi waktu pemulihan, serta menghilangkan jejak zat obat lain yang dikonsumsi atlet.

Untuk itu, Badan Anti-Doping Dunia (WADA) merilis jenis doping yang dilarang digunakan atlet. Karena selain terbukti dapat meningkatkan kinerja tubuh, doping juga dapat memicu efek samping berbahaya yang dapat mengancam keselamatan jiwa. Berikut lima bahaya obat doping yang harus diketahui.

 

1 dari 4 halaman

1. Eritropoetin (EPO)

Berdasarkan Drugs.com, eritropoetin atau dikenal sebagai epoetin alfa (EPO) merupakan jenis protein buatan. Protein buatan ini membantu tubuh memproduksi eritrosit atau sel darah merah.

Dalam dunia medis, EPO biasa digunakan untuk mengobati kondisi kekurangan sel darah merah atau anemia.

Obat ini khusus diberikan kepada pasien yang mengalami anemia karena kemoterapi, penyakit ginjal kronis, serta efek samping penggunaan terapi pengobatan infeksi HIV (human immunodeficiency virus).

Artikel Lainnya: Agar Tidak Emosional, Ini Cara Atlet Hadapi Kabar Duka Saat Bertanding

Mengutip Scielo, epoetin alfa disalahgunakan atlet sebagai doping, terutama untuk jenis olahraga ketahanan.

Doping ini tidak hanya berfungsi meningkatkan konsentrasi eritrosit, namun juga mengoptimalkan distribusi oksigen ke jaringan otot. Dengan begitu, kekuatan otot dan waktu pemulihan tubuh jadi lebih cepat.

Meski begitu, dijelaskan oleh dr. Sara Elise Wijono, M.Res., jenis doping yang digunakan atlet ini dapat menimbulkan efek samping berupa serangan jantung dan stroke.

“Karena efek samping EPO dapat meningkatkan kekentalan dan tekanan darah. Keduanya merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke,” jelas dr. Sara.

Selain itu, penyalahgunaan EPO juga dapat menimbulkan efek samping berbahaya lainnya seperti mempercepat pertumbuhan tumor hingga menyebabkan kematian.

Artikel Lainnya: Benarkah Kopi Bermanfaat bagi Atlet?

2. Steroid Anabolik

Steroid anabolik biasanya digunakan untuk mengatasi kondisi pubertas terlambat pada remaja laki-laki. Obat ini juga digunakan untuk mengobati hipogonadisme.

Hipogonadisme terjadi ketika kelenjar seksual tidak menghasilkan hormon dalam jumlah yang cukup, salah satu contoh kondisi hipogonadisme adalah impotensi.

Atlet dapat menyalahgunakan obat steroid anabolik untuk meningkatkan performa fisik mereka. Pasalnya, obat doping ini dapat merangsang pertumbuhan jaringan, terutama tulang dan otot.

Meski begitu, penyalahgunaan steroid anabolik sangatlah berbahaya. Obat ini dapat menimbulkan sejumlah efek samping, seperti gangguan ginjal, kerusakan hati, tumor, masalah jantung, hingga gangguan sistem reproduksi.

2 dari 4 halaman

3. Stimulan

Stimulan merupakan jenis obat yang memengaruhi sistem saraf pusat. Obat ini dapat merangsang otak, meningkatkan energi, serta menambah rasa percaya diri dan tingkat kewaspadaan.

Atlet menggunakan stimulan sebagai doping untuk mengurangi rasa lelah. Obat stimulan juga dapat meningkatkan adrenalin, konsentrasi, daya saing, dan agresivitas dalam berkompetisi.

Umumnya, jenis stimulan yang digunakan atlet berupa amfetamin dan methylphenidate.

Efek samping obat ini tergantung pada jenis dan cara pemakaiannya.

Umumnya, stimulan dapat menimbulkan efek samping berupa kecanduan, paranoid, psikosis parah, depresi, hingga meningkatkan kecenderungan untuk bunuh diri.

Penggunaan stimulan melebihi dosis atau overdosis dapat menyebabkan kematian.

Artikel Lainnya: 5 Cara Makan dan Berolahraga ala Atlet

4. Hormon Pertumbuhan

Hormon Pertumbuhan atau human growth hormone (HGH) diresepkan dokter untuk mengobati kondisi defisiensi hormon pertumbuhan, sindrom Prader-Willi, sindrom Turner, perawakan pendek idiopatik, dan kegagalan pertumbuhan pada anak dengan berat badan lahir rendah.

Di dalam tubuh, hormon pertumbuhan dapat merangsang organ hati melepaskan protein bernama IGF-1.

Protein IGF-1 pada gilirannya merangsang pertumbuhan tulang, otot, dan jaringan lain. Fungsi obat inilah yang kemudian disalahgunakan atlet untuk meningkatkan penampilan fisik mereka.

Meski begitu, doping ini dapat memicu efek samping berupa peningkatan tekanan darah di otak, gangguan penglihatan pada penderita diabetes, serta memperburuk kondisi skoliosis, hipotiroidisme, dan pankreatitis.

Efek samping penyalahgunaan hormon pertumbuhan juga dapat menyebabkan  pembengkakan pada lengan dan kaki.

Artikel Lainnya: Apa Jadinya Jika Atlet Sepak Bola Kena Corona?

3 dari 4 halaman

5. Diuretik

Diuretik bukanlah jenis doping yang dapat menunjang kinerja tubuh. Obat ini digunakan atlet untuk meningkatkan produksi urin dan menghilangkan jejak steroid dalam tubuh.

Selain itu, jenis doping yang digunakan atlet ini dapat menurunkan berat badan sementara.

Secara umum, diuretik dapat menyebabkan efek samping berupa pusing, sembelit, mulut kering, lonjakan kadar gula darah, kram otot, hingga kelelahan.

Itu dia jenis doping yang dilarang digunakan atlet. Efek samping yang ditimbulkan doping jauh lebih buruk, dibandingkan efek sesaat dalam menunjang performa tubuh.

Oleh karena itu, tetap junjung tinggi sportivitas, jangan pernah gunakan doping dan utamakan kesehatan jangka panjang.

Jika ingin bertanya lebih lanjut seputar info kesehatan lainnya, konsultasi ke dokter via Live Chat.

(OVI/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar