Sukses

Mengenal Terapi RET Inhibitor untuk Kanker Paru

Kanker paru dapat diobati salah satunya dengan terapi penghambat RET. Mari ketahui terapi untuk kanker paru RET inhibitor di sini.

Kanker paru-paru menjadi salah satu penyebab kematian utama pada pria maupun wanita. Menurut American Cancer Society, hampir 25 persen kasus kematian yang terjadi akibat kanker disebabkan oleh kanker paru-paru.

Kanker paru-paru dapat diobati dengan operasi, kemoterapi, terapi radiasi, ataupun targeted therapy. Targeted therapy yang dapat dilakukan adalah Rearranged during Transfection (RET) inhibitor atau terapi penghambat RET.

Bagaimana cara kerja terapi RET inhibitor untuk kanker paru? Berikut ulasan lengkapnya.

 

1 dari 5 halaman

Apa Itu RET Inhibitor?

RET inhibitor merupakan pengobatan yang tergolong baru untuk kanker paru Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC) dan dua jenis kanker tiroid.

Melansir Medical News Today, terapi penghambat RET bekerja dengan mengatasi sel kanker yang memiliki mutasi gen RET. Pada pasien kanker paru, mutasi gen dapat membuat DNA tumor ganas berubah dan berkembang.

Terdapat dua cara bagi dokter untuk menentukan apakah pasien kanker paru membutuhkan pengobatan RET inhibitor atau tidak, yaitu:

  • Comprehensive next-generation sequencing test: Tes ini akan menguji jaringan yang diambil dari tumor.
  • Biopsi cair: Bekerja dengan cara mencari perubahan DNA yang menyebabkan pertumbuhan sel kanker.

Artikel lainnya: Jenis Terapi Alternatif untuk Pengobatan Kanker Paru

2 dari 5 halaman

Terapi RET Inhibitor yang Tersedia

Terdapat dua jenis terapi penghambat RET untuk kanker paru, yaitu:

  1. Selpercatinib, untuk kanker paru NSCLC atau jenis kanker tiroid tertentu. Pengobatan ini dilakukan secara oral dua kali sehari.
  2. Pralsetinib, yang juga sebagai terapi oral hanya saja dengan interval satu kali dalam sehari.

Pasien dapat menerima salah satu terapi tersebut, meski telah menjalani perawatan kanker sebelumnya.

3 dari 5 halaman

Efek Samping Terapi RET Inhibitor

Beberapa pasien dengan perawatan RET inhibitor untuk kanker paru dapat mengalami efek samping antara lain:

  • Mulut kering
  • Diare atau sembelit
  • Kelelahan
  • Kolesterol tinggi
  • Tekanan darah tinggi
  • Merasa lelah
  • Pembengkakan pada tangan atau kaki
  • Ruam
  • Kadar gula darah yang tinggi
  • Nyeri otot dan sendi
  • Penurunan jumlah sel darah putih, sel darah merah, dan trombosit

Artikel lainnya: Mengenal Imunoterapi, Salah Satu Terapi untuk Mengobati Kanker

4 dari 5 halaman

Efektivitas Terapi Penghambat RET Masih Perlu Diteliti

Sebagian pasien kanker paru mendapat manfaat dari terapi metode RET inhibitor ini. Tapi sebagian lain tidak merasakan dampaknya. Karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui penyebab perbedaan reaksi tersebut.

Menurut Dokter Sepriani Timurtini Limbong, pengobatan kanker bersifat tailor made atau individual.

Menurutnya, selain jenis pengobatan, terdapat faktor lain yang memengaruhi keberhasilan terapi kanker, seperti kondisi pasien, tipe kanker, dan metastasis (penyebaran kanker).

Resistensi pengobatan merupakan masalah yang perlu diselidiki. Pada penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of Oncology, orang-orang yang telah mengembangkan resistensi juga mengalami mutasi pada gen MET atau KRAS.

Para peneliti telah mencoba beberapa targeted therapy lainnya, seperti cabozantinib, lenvatinib, sunitinib, nintedanib, dan vandetanib. Namun, percobaan hanya menemukan manfaat yang terbatas pada pasien NSCLC.

Bila menderita kanker paru, berkonsultasilah dengan dokter onkologi untuk mengetahui pengobatan yang sesuai dengan jenis kanker dan kondisi fisik.

Jika memiliki pertanyaan tentang pengobatan kanker paru-paru, Anda dapat chat dokter secara online lewat fitur Konsultasi Seputar Kanker di Klikdokter.

(FR/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar