Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Mengenal Alat Forceps untuk Bantu Proses Persalinan Normal

Mengenal Alat Forceps untuk Bantu Proses Persalinan Normal

Forceps merupakan alat medis yang berfungsi membantu mengeluarkan bayi selama persalinan. Simak prosedur dan risiko penggunaan alat tersebut lewat fakta berikut ini!

Saat persalinan normal, tidak jarang proses kelahiran bayi mengalami hambatan. Untuk mengatasi kondisi ini, dokter mungkin akan merekomendasikan penggunaan forceps.

Forceps merupakan alat medis yang memiliki bentuk serupa sendok berukuran besar. Alat ini berfungsi untuk membantu mengeluarkan bayi dari jalan lahir. 

Kapan ibu bersalin butuh bantuan alat forceps? Bagaimana prosedur penggunaan alat tersebut? Adakah kemungkinan efek sampingnya? Yuk, cek fakta selengkapnya!

1 dari 4 halaman

Alasan Penggunaan Alat Forceps

Disampaikan dr. Dyah Novita Anggraini, terdapat beragam alasan yang menyebabkan kondisi persalinan normal membutuhkan bantuan forceps:

  • Ibu tidak kuat mengejan.
  • Detak jantung bayi bermasalah.
  • Ibu kelelahan.
  • Proses persalinan terlalu lama. 
  • Perdarahan. 
  • Posisi kepala bayi di atas.
  • Selaput ketuban pecah.

Artikel Lainnya: Penting! Cara Tepat Mengejan Saat Melahirkan

Selain itu, adanya penyakit jantung dan tekanan darah tinggi atau hipertensi juga berpotensi membuat ibu bersalin membutuhkan bantuan alat forceps

Pasalnya, penyakit tersebut bisa membuat ibu kesulitan untuk mendorong bayi keluar saat proses persalinan.

2 dari 4 halaman

Prosedur Persalinan dengan Alat Forceps

Sebelum menggunakan alat forceps, ibu bersalin akan diberikan anestesi spinal atau epidural. Selain itu, kandung kemihnya juga akan dikosongkan menggunakan kateter urine.

Selama persalinan, ibu akan diminta berbaring terlentang dan sedikit condong dengan posisi kaki terentang. Kemudian, dokter akan menempatkan dua atau lebih jari di dalam vagina dan samping kepala bayi. 

Sementara itu, tangan satunya digunakan untuk ‘menjepitkan’ forceps dengan lembut ke kepala bayi.

Saat kontraksi, ibu bersalin akan diminta ‘mendorong’ bayi. Di saat yang sama, dokter akan menarik bayi dari jalan lahir menggunakan forceps secara perlahan dan hati-hati.

3 dari 4 halaman

Kemungkinan Efek Samping Penggunaan Alat Forceps

Persalinan menggunakan alat forceps tidak selalu berhasil. Jika demikian, dokter mungkin akan merekomendasikan persalinan lewat operasi caesar.

Jika pun berhasil, dokter akan memeriksa ada/tidaknya robekan yang disebabkan oleh penggunaan alat forceps. Pasalnya, penggunaan alat ini berisiko menyebabkan cedera pada ibu dan bayi.

  • Risiko pada Ibu

Penggunaan alat forceps dapat membuat ibu mengalami prolaps organ panggul. Kondisi ini terjadi karena otot dan ligamen yang menopang panggul melemah. Alhasil, panggul turun lebih rendah.

Selain itu, penggunaan forceps juga dapat menyebabkan ibu mengalami inkontinensia urine dan tinja, terutama jika robekan bekas persalinan sangat parah. 

Kondisi tersebut membuat ibu tidak dapat mengontrol keinginan untuk buang air kecil dan besar.

Artikel Lainnya: Adakah Pengaruh Kepribadian Ibu pada Proses Persalinan?

Ada pun kondisi lainnya yang dapat terjadi pada ibu setelah penggunaan alat forceps saat bersalin, yaitu nyeri di jaringan antara vagina dan anus (perineum), robekan saluran kelamin bagian bawah, cedera kandung kemih atau uretra, serta an dinding rahim robek (ruptur uteri).

  • Risiko pada Bayi

Bayi dapat mengalami cedera wajah ringan, karena dampak penggunaan alat forceps. Meski begitu, kondisi ini normal terjadi dan hanya bersifat sementara.

Selain itu, meski jarang terjadi, ada pula kasus cedera serius pada bayi akibat persalinan menggunakan forceps, yaitu otot-otot wajah melemah (facial palsy), trauma ringan pada mata eksternal, patah tulang tengkorak, perdarahan di dalam kepala, dan kejang

Alat forceps dapat membantu proses persalinan normal. Meski begitu, penggunaan alat ini dapat menyebabkan beberapa efek yang merugikan pada ibu dan bayi.

Ingin tahu lebih lanjut soal forceps atau alat medis lainnya? Anda bisa melakukan konsultasi secara langsung kepada dokter melalui LiveChat 24 jam atau aplikasi Klikdokter.

(NB/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar