Sukses

Skenario Keluar dari Jerat Pandemi

Pandemi COVID-19 diprediksi akan berlarut. Sekelompok ilmuwan menawarkan peta jalan sebagai solusi permanen untuk keluar dari lingkaran pandemi. Bagaimana skenarionya?

Presiden Jokowi terus mengulang-ulang pesan yang sama dalam beberapa kali kesempatan. Ia meminta masyarakat tidak terlena dengan penurunan angka kasus COVID-19 yang melandai beberapa pekan belakangan.

COVID-19 selalu mengintip kita, sehingga prokes (protokol kesehatan) harus terus dilakukan terutama memakai masker," kata Jokowi, mengulang kembali pesannya ketika mengunjungi kegiatan vaksinasi di SLB Negeri 1 Bantul, Yogyakarta, pertengahan September lalu.

Gelombang kedua yang menghantam Indonesia pada kurun Juni-Agustus telah memberikan pengalaman pahit.

Sepanjang periode tersebut, sistem kesehatan Indonesia berada di situasi terburuk sejak wabah COVID melanda di awal tahun 2020.

Rasio kasus positif harian tembus 20 persen; fasilitas kesehatan di semua daerah kewalahan menangani pasien virus corona; ketersediaan oksigen medis langka di mana-mana; kasus konfirmasi positif harian mencatatkan rekor harian tertinggi di atas 50 ribuan; demikian pula angka kematian harian yang melewati 2 ribuan orang per hari.

Kini, Indonesia harus bersiap dengan ancaman gelombang ketiga pandemi coronavirus. Sejumlah epidemiolog sudah mewanti-wanti agar dinamika mobilitas di Desember mendatang diwaspadai.

Artikel Lainnya: Konsultasi Dokter Gratis Tanpa Keluar Rumah Saat Pandemi, Ini Caranya

Momentum libur panjang di akhir tahun, seperti yang terjadi pada dua gelombang sebelumnya, diprediksi kembali memicu ledakan kasus.

Pengalaman pandemi di banyak negara, termasuk Indonesia, menunjukkan tren kasus yang menyerupai siklus naik-turun tanpa ujung.

Perlu suatu strategi yang menjadi solusi permanen untuk mengakhirinya. Berharap penuntasan pandemi lewat strategi vaksinasi, yang sempat digadang menjadi pengubah permainan (game changer), semata kini justru semakin tidak realistis.

Banyak pakar menyangsikan vaksinasi cukup efektif membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Ada beberapa argumen pokok yang melandasi keraguan tersebut, mulai dari mutasi virus yang kian beragam hingga fakta penurunan efektivitas vaksin dalam jangka waktu tertentu.

Menurut Ahli Biologi Molekuler, Dr Ines Atmosukarto, sejak awal vaksin memang tidak bertujuan mencegah penularan.

Vaksin COVID-19, lanjut dia, dikembangkan untuk meminimalkan kemungkinan gejala berat pada seseorang ketika terinfeksi.

Artinya, vaksinasi harus dilihat sebagai ikhtiar mengurangi beban berat yang harus ditanggung  fasilitas kesehatan bila terjadi ledakan kasus.

Keterbatasan vaksin tersebut membuat formulasi strategi lain untuk mengakhiri pandemi menjadi kebutuhan mendesak. 

"Kalau vaksinasi tidak bisa memutus mata mata rantai penularan maka risiko penularan itu akan terus ada," tegas Ines, dalam sebuah diskusi daring.

Artikel Lainnya: Cara Mengatasi Zoom Fatigue Saat Pandemi COVID-19

Perlunya  strategi lain mendorong sekelompok ilmuwan merumuskan peta jalan (road map) untuk keluar dari pandemi. Ines termasuk di dalam kumpulan ilmuwan ini.

Kelompok yang menamakan diri Aliansi Ilmuwan untuk Penyelesaian Pandemi tersebut terdiri dari tujuh orang akademisi dengan latar belakang berbeda. Mereka terdorong untuk memberi alternatif solusi agar Indonesia keluar dari jerat wabah.

"Indonesia pada saat ini dalam situasi ini perlu mencari jalan keluar. Gimana caranya supaya Indonesia bisa lepas dari lingkaran setan pandemi,” kata Sulfikar Amir, Asisten Profesor Bidang Sosiologi Nanyang Technological University, yang menjadi juru bicara Aliansi, awal September lalu dalam sebuah webinar.

Aliansi Ilmuwan menyusun skenario keluar dari pandemi dengan pendekatan multidisiplin. Usulan peta jalan ini diharapkan diadopsi pemerintah sebagai acuan dalam pengambilan keputusan secara bertahap dan sistematis.

Menurutnya, sejauh ini pemerintah relatif berhasil menurunkan jumlah penularan. "Tetapi, setelah itu kita nggak tahu kita mau ngapain. Pemerintah sepertinya akan menunggu apa yang terjadi," ujarnya.

Sementara itu, mobilitas masyarakat mulai dilonggarkan seiring penurunan angka kasus. Bila tidak ada langkah terukur dan sistematis, dikhawatirkan Indonesia harus mengalami gelombag ketiga yang dampaknya akan lebih parah.  

Artikel Lainnya: Tak Enak Badan Usai Vaksin COVID-19, Coba Suplemen Cordyceps!

Skenario Penyelesaian Pandemi yang disusun Aliansi Ilmuwan terdiri dari tiga fase. Setiap Fase berdurasi antara 3-4 bulan.

"Perangkat intervensi epidemiologis, intervensi sosial dan intervensi ekonomi dibutuhkan untuk mendukung setiap fase ini berjalan dengan baik," papar Sulfikar.

Nantinya, setiap fase punya target capaian, indikator dan program dari kacamata intervensi epidemiologis, sosial dan ekonomi.

Meski setiap fase menggunakan perangkat intervensi yang sama, tapi detailnya berbeda-beda tergantung masing-masing fase.

Fase pertama adalah fase supresi, yang bertujuan menekan jumlah kasus, kematian, dan tingkat keterisian rumah sakit, dengan pendekatan pull and push. Pull diterjemahkan dalam bentuk isolasi orang orang yang terinfeksi.

Sedangkan push diartikulasikan dalam kebijakan pembatasan sosial ketat berdasarkan pendekatan wilayah.

Fokus fase supresi khususnya pada wilayah aglomerasi yang merupakan wilayah urban. Sebab, tren di seluruh negara menunjukkan, kawasan ini punya karakteristik sebagai lokasi konsentrasi penularan.

Jika penularan berhasil ditekan hingga positivity rate di bawah 10 persen, skenario bisa masuk ke fase selanjutnya. Tahapan kedua adalah fase stabilisasi, di mana skala penularan harus dijaga dalam ambang batas tertentu.

Artikel Lainnya: Alasan Orang Lakukan Revenge Travel Usai Lockdown

Pengendalian risiko penularan dilakukan berbasis komunitas dan bantuan teknologi. Fase stabilisasi, menurut Sulfikar, merupakan yang tersulit.

Ia menjelaskan, sejauh ini Indonesia berhasil melakukan supresi dalam dua gelombang yang menghantam. Kasus-kasus berhasil ditekan.

Masalahnya, kondisi penularan yang rendah tidak bisa dijaga pada tren yang stabil. Alhasil, angka kasus harian kembali melambung. 

"Skala penularan itu rebound dan ini sebenarnya kemungkinan besar akan terjadi di Indonesia kalau kita tidak mampu melakukan stabilisasi," terang Sulfikar.

Dari kacamata Aliansi Ilmuwan, beberapa unsur fase stabilisasi sudah dilakukan pemerintah, misalnya dengan mendorong perilaku hidup sehat dan penerapan protokol kesehatan.

Namun, pendekatan itu saja tidak cukup. Butuh pengendalian risiko di ruang publik dan biosurveilans (pelacakan dan isolasi) yang lebih sistemik.

"Kita bicara tentang kemampuan individu untuk mengurangi risiko pada level diri masing-masing, padahal resiko ini sebenarnya juga muncul dari luar dari lingkungan,” jelas Sulfikar.

Pada dasarnya, virus corona menyebar melalui udara. Maka, untuk mencegah penularan diperlukan pengendalian sirkulasi udara.

Banyak penelitian, yang menurut Sulfikar, bisa menjadi acuan pengelolaan lingkungan dengan risiko transmisi virus yang rendah. 

 "Kita ingin hasil penelitian terkait dengan sirkulasi udara dan perilaku manusia di dalam ruang bisa menjadi acuan cara pengelolaan sirkulasi udara yang kemudian dipakai sebagai syarat untuk melakukan aktivitas baik yang bersifat outdoor maupun indoor," imbuhnya.

Artikel Lainnya: Studi: Makan Sayur dan Buah Minimalkan Risiko COVID-19

Bila situasi penularan sudah stabil, artinya penularan di dalam masyarakat sudah bisa dikendalikan. Indonesia bisa masuk ke tahap normalisasi.

Pada fase ini, aktivitas sosial-ekonomi secara perlahan bisa mulai dibuka, tapi tetap dengan menerapkan perilaku berbasis risiko.

Jika keseluruhan skenario berjalan sesuai rencana, Aliansi Ilmuwan berharap jumlah kasus nasional berada di bawah 5 kasus per 100 ribu penduduk per minggu, atau rata-rata di bawah 1.000 per hari. Dengan kata lain positivity rate  di bawah 1 persen.

"Harapan Kita, di ujung fase normalisasi ini kita sudah bisa hidup dengan relatif normal. Lebih lebih bebas dan bisa saja melakukan aktivitas tanpa masker. Tapi tentu dengan syarat-syarat yang kita harus buat dengan ketat," papar Sulfikar.

Dr Ines Atmosukarto menambahkan, selama fase supresi dan stabilisasi, Indonesia juga perlu mendorong  cakupan vaksinasi seluas-luasnya. Dia berharap semua orang mendapat vaksinasi.

Ia menggarisbawahi, meski belum bisa mencegah penularan, semua jenis vaksin yang mendapat izin edar sudah terbukti mampu mencegah keparahan. 

Yang tak kalah penting adalah peningkatan kapasitas inovasi dari hulu ke hilir. Indonesia harus bisa memproduksi vaksin sendiri.

Sejauh ini, pandemi telah memperlihatkan betapa tergantungnya Indonesia terhadap suplai vaksin dari luar negeri.

"Produksi vaksin bukan hanya untuk penanganan pandemi COVID-19 sekarang, tetapi persiapan kita untuk menghadapi tantangan-tantangan dari patogen-patogen yang mungkin ada di masa depan," ia menambahkan.

Selain itu, Indonesia perlu melakukan evaluasi program vaksinasi. Selama ini, data soal efektivitas vaksin yang menjadi rujukan berasal dari penelitian-penelitian di negara lain.

"Saya ingin mendorong adanya evaluasi yang dilakukan oleh peneliti-peneliti di Indonesia," ucap Ines.

Artikel Lainnya: Tips Ajak Anak di Bawah 12 Tahun ke Mall Saat Pandemi

Abetnego Tarigan, Deputi II Bidang Pembangunan Manusia KSP, menyambut positif usulan peta jalan untuk penyelesaian pandemi dari Aliansi Ilmuwan.

Pemerintah, kata dia, kini juga sudah memulai membahas rencana transisi dari pandemi menuju endemi.

Ia menambahkan, Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, juga telah mengerahkan tim untuk membuka ruang diskusi dengan para pakar dan ahli.

"Yang memang menjadi catatannya itu, bagaimana menurunkan (road map) itu di dalam konteks Indonesia kekinian," ia berujar.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan kini tengah menyusun rencana protokol yang harus disiapkan untuk "hidup bersama COVID". Enam Sektor publik menjadi fokus protokol yang disiapkan.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, mengatakan rencana yang disiapkan pemerintah nantinya akan ditopang oleh penggunaan aplikasi PeduliLindungi.

"Masih dalam proses penyusunan pedoman. Nanti kalau sudah matang akan segera mungkin kita sampaikan kepada publik," katanya.

Mari bersama-sama berperan dalam memutus rantai penularan COVID-19. Patuhi protokol kesehatan, dan ikuti program vaksinasi.

Jika mengalami gejala-gejala tertentu yang mengarah pada virus corona. Anda bisa berkonsultasi melalui fitur Livechat dengan dokter-dokter kompeten melalui tautan berikut.

(JKT/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar